Not sure what wind
Has brought this heart back here
Despite what many have said
What reason do I have coming here again
They might not understand
The meaning of longing to the Guru
A strong figure who has inspired
The painter of a new face of neurology
We breath the air of Delhi
We learn the knowledge again with all our heart
We convey our respectful regards
To the Guru who is full of wisdom
Our Guru is no longer in Delhi
But the beautiful memories still stay strongly
Once upon a time, the road is so empty with no friend around
Now, everyone wants to be here and be friends
We came with two purposes in mind
Seeking new knowledge is surely our aim
However,
Giving our respect for the last time to our Guru in Delhi
Is what's in our heart
WFITN course Functional Neurovascular Anatomy, New Delhi, 1-5th November 2017
Mempelajari neurovaskular hanya dari anatomi dan fisiologi saja, seolah melihat pantai hanya dari lukisan dinding yang indah namun tidak bergerak. Mempelajari neurovaskular dengan melakukan dan memahami angiografi serebral, bukan hanya menikmati keindahannya, namun merasakan hembusan angin laut dan deburan ombak pantai yang dinamis sekaligus menggetarkan.
Selamat Datang di Dunia Neurovaskular & Neurointervensi
idik
Sunday, 12 November 2017
Sunday, 22 October 2017
"Maksud Agung" prosedur medis
"Maksud Agung" suatu prosedur medis adalah memberikan tatalaksana optimal demi meringankan beban penderita, berupa kuratif maupun paliatif.
Maka, jika ada suatu prosedur medis, baik diagnostik maupun terapeutik, ternyata malah menambah beban pasien dan keluarga, maka sungguh hal tersebut telah menyalahi " maksud agung' yang sebenarnya.
Dalam setiap prosedur medis hanya ada 3 kemungkinan, menguntungkan pasien saja, menguntungkan dokter saja, atau menguntungkan keduanya.
Maka marilah bertanya lagi pada nurani, prosedur semacam "brain wash" pada stroke, stemcell pada berbagai kasus medis klinis saat ini, atau pengobatan apapun yang dilakukan di luar guideline yang ada, sebenarnya menguntungkan siapa ?
Maka, jika ada suatu prosedur medis, baik diagnostik maupun terapeutik, ternyata malah menambah beban pasien dan keluarga, maka sungguh hal tersebut telah menyalahi " maksud agung' yang sebenarnya.
Dalam setiap prosedur medis hanya ada 3 kemungkinan, menguntungkan pasien saja, menguntungkan dokter saja, atau menguntungkan keduanya.
Maka marilah bertanya lagi pada nurani, prosedur semacam "brain wash" pada stroke, stemcell pada berbagai kasus medis klinis saat ini, atau pengobatan apapun yang dilakukan di luar guideline yang ada, sebenarnya menguntungkan siapa ?
Tuesday, 29 August 2017
Sayonara Neuroprotektan ?
Sayonara merupakan ungkapan dalam bahasa Jepang yang
memiliki arti selamat tinggal. Namun, makna Sayonara ternyata tidak sekedar “selamat
tinggal” saja, karena itu orang Jepang sendiri jarang atau enggan menggunakan
kata Sayonara. Mereka memilih menggunakan kata-kata lain untuk menyampaiakan
salam perpisahan atau selamat tinggal. Makna sebenarnya Sayonara bukanlah
sampai berjumpa pula. Sayonara berarti salam perpisahan selamanya, saat
seseorang mungkin tidak akan bertemu kembali, seperti seseorang yang sakit
berat dan akan meninggalkan keluarganya. Demikianlah menurut beberapa ahli
bahasa.
Ada apa dengan neuroprotektan ? mengapa Sayonara pada
neuroprotektan ? bukankah neuroprotektan merupakan obat yang sehari-hari kita
resepkan pada pasien stroke ? mungkinkah neurolog meninggalkannya ?
Studi-studi tentang neuroprotektan
pada stroke tampaknya telah memasuki babak akhir, setelah studi ICTUS dengan subyek penelitian cukup besar gagal
menunjukkan efektifitas citicolin pada stroke iskemik (The Lancet, Juli 2012),
kini meta analisis terbaru juga mengungkapkan hal yang sama tentang Cerebrolysin
(Stroke, Ziganshina et.al, 2017). Sehingga, Cochrane reviews dan berbagai
guideline terbaru tidak merekomendasikan penggunaan neuroprotektan pada stroke.
Cerebrolysin merupakan suatu mixture of low molecular weight peptides and amino acid yang
berasal dari otak babi, dengan properti yang diduga memiliki potensi neurotropik
dan neuroprotektif. Cerebrolysin telah digunakan secara luas di Rusia, Eropa
Timur, Cina dan sebagian Negara Asia serta Negara-negara bekas Uni Soviet.
Pertanyaanya, setelah adanya Cochrane Review yang menyatakan bahwa neuroprotektan ini tidak bermanfaat, adakah penggunaan obat ini akan tetap berlangsung ? Pertanyaan yang sama untuk kita, neurolog Indonesia, adakah kita akan terus menggunakan neuroprotektan yang tidak direkomendasikan oleh guideline dan tidak memiliki evidence ilmiah yang kuat ? Siapkah kita menyampaikan “ Sayonara Neuroprotektan” ?
Pertanyaanya, setelah adanya Cochrane Review yang menyatakan bahwa neuroprotektan ini tidak bermanfaat, adakah penggunaan obat ini akan tetap berlangsung ? Pertanyaan yang sama untuk kita, neurolog Indonesia, adakah kita akan terus menggunakan neuroprotektan yang tidak direkomendasikan oleh guideline dan tidak memiliki evidence ilmiah yang kuat ? Siapkah kita menyampaikan “ Sayonara Neuroprotektan” ?
Neurointervention on Brain AVM : To be Sniper or Bomber ?
Bagi neurointerventionis, BAVM sangat unik, menarik
sekaligus menantang. Dengan duduk di pojok ruangan, melakukan analisa
angioarsitektur BAVM ternyata cukup membuat kita terlena. Sebelum memulai embolisasi,
rekostruksi dapat memerlukan waktu cukup lama. Mulai dengan identifikasi
lokasi, feeder, draining vein, tipe AVM secara anatomis (sulcal, gyral, mixed),
secara angioarsitektur (plexiform, fistolus, mixed), identifikasi rupture site,
kompartemen dan target embolisasi.
Sehingga, embolisasi AVM hampir selalu didahului DSA
diagnostik secara terpisah. Hal ini berbeda dengan SAH akibat aneurisma
misalnya, dimana dapat dilakukan secara ad
hoc, yaitu DSA dapat disusul dengan coiling dalam waktu bersamaan.
Setelah melakukan rekonstruksi, maka akan diputuskan
tindakan endovaskuler beserta strategi yang akan digunakan. Adakah menggunakan
liquid embolan secara tersendiri atau kombinasi dengan coil pada kasus
fistoulous dan high flow. Liquid
embolan yang saat ini tersedia di Indonesia adalah Glue (NBCA:Lipiodol) dan
Onyx. Kedua liquid embolan ini memiliki karasteristik dan kenyamanan tersendiri
bagi masing-masing operator.
Glue, bagi yang biasa menggunakannya, sangat nyaman, aman
dan tepat sasaran. Namun, bagi yang baru saja mencoba, dapat merupakan bumerang
apabila tidak berhati-hati. Kepekatan, penempatan microcatheter dan kekuatan injeksi merupakan
kunci keberhasilan embolisasi menggunakan glue.
Sehingga, seringkali, intervensionis memerlukan waktu lama untuk mencari
posisi sebelum melakukan injeksi glue secara tepat dan memuaskan. Serupa dengan
SNIPER, sasaran yang ditembak sangat spesifik dengan area kecil (satu atau dua
kompartemen saja) dan jika dimaksudkan untuk mematikan area yang cukup luas, maka
tidaklah cukup hanya sekali bidik. Dalam kondisi demikian, perlu melakukan
beberapa kali tindakan kateterisasi, karena pada penggunaan glue, microchateter
yang dipakai tidak dapat digunakan lagi. Begitu arah aliran glue refluks
mengenai mikrokateter, maka kateter harus segera ditarik keluar, jika tidak,
polimerisasi akan menyebabkan kateter stagnant
dalam pembuluh darah, dan apabila ditarik secara paksa akan menyebabkan
perdarahan.
Onyx, memiliki waktu polimerisasi yang cukup lama. Bahan ini
perlu dipersiapkan dengan shaking
minimal 20 menit. Konsentrasi Onyx tidak dapat diatur, konsentrasi telah
ditetapkan, misalnya Onyx -18. Sebagai pengganti cairan dextrose yang digunakan
untuk flusing pada glue, digunakanlah DMSO, dan ini terdapat satu paket kemasan
bersama onyx. Penggunaan onyx juga memerlukan pengalaman spesifik. Karena onyx
merupakan embolan yang non- adhesive (tapi kohesive), intervensionis punya
banyak waktu untuk melakukan injeksi, kemudian menunggu beberapa saat, dan
kemudian melakukan injeksi lagi. Onyx dapat menutup area nidus yang luas dan
multikompartemental. Karena area jangkaunya luas, maka ada resiko pembuluh
darah kecil yang tak terlihat akan ikut tertutup. Sehingga, meskipun angka
embolisasi kuratif cukup tinggi dengan onyx, namun angka komplikasi yang
terjadi juga lebih tinggi dari glue. Intervensionalis seolah menghancurkan
target dengan bom. Ini juga merupakan alasan substansial mengapa embolisasi
pada kasus spinal AVM hampir tidak pernah menggunakan onyx.
Melihat karakteristik yang demikian, maka, tehnik dan
pilihan bahan embolisasi berpulang pada operator. Apakah operator akan menjadi
sniper atau bomber. Tentu saja onyx dapat digunakan untuk AVM kecil dan cukup
aman, namun harga onyx lebih mahal dari glue. Hal ini seperti membidik sasaran
tunggal yang sebenarnya dapat dilumpuhkan dengan satu tembakan, namun jika menghancurkannya
dengan bom, tentu memiliki resiko dan efek terhadap struktur sekitarnya.
Umumnya masing-masing operator akan cenderung lebih memilih salah satu embolan sebagai kegemarannya. Maka tepatlah ungkapan “There was no dangerous device but there was dangerous operator.”
Wednesday, 23 August 2017
Konsep NNT dan Konsep “siapa tahu ?”
Melihat sang suami menderita stroke, seorang ibu muda tampak bingung. Dia galau akan hiruk-pikuk masukan dan saran tentang bagaimana suaminya seharusnya di terapi. Seorang kerabat menganjurkan agar dilakukan “DSA terapeutik” saja, meskipun tak tahu maksud dan tujuan-nya, konon banyak tokoh negara telah melakukannya. Kerabat yang lain menganjurkan agar dilakukan terapi stemcell, konon banyak yang telah sukses dan sedang menjadi trending treatment. Ada pula yang menawarkan berbagai suplemen dari luar negeri, sekali lagi, dengan janji akan angka perbaikan pasca stroke yang tinggi.
Ibu ini akhirnya datang ke seorang neurolog, dan bertanya “ Apabila beberapa pasien di lakukan terapi di atas, apakah semuanya membaik dokter ? kalaupun tidak semua, berapa orang yang akan membaik dokter ?”
Pertanyaan Ibu muda ini mengingatkan kita akan konsep NNT (number needed to treat). NNT merupakan sarana (epidemiologis) untuk menjelaskan dan mengkomunikasikan tentang efektivitas intervensi medis, khususnya dalam pengobatan. NNT menjelaskan satu pasien diantara beberapa pasien yang memerlukan dan mendapat manfaat terapi dibandingkan dengan kontrol. Aplikasi terkini, misalnya trombektomi pada stroke dalam waktu 6 sampai 24 jam setelah serangan (DAWN Trial). Pada studi ini, NNT pada trombektomi 2.8, artinya jika dilakukan trombektomi pada 2-3 pasien, maka 1 pasien akan mengalami perbaikan.
Nilai NNT mulai dari 1 sampai tak terhingga. NNT ideal adalah 1, dimana setiap orang yang diberikan terapi akan membaik, sedang kontrol tidak membaik. Semakin tinggi NNT, maka semakin tidak efektif terapi tersebut. NNT dengan nilai 1, merupakan terapi sempurna (perfect drug). Sedangkan NNT dengan nilai negatif berarti terapi tersebut berbahaya, disebut sebagai NNH (number needed to harm).
Maka marilah kita lihat efektivitas terapi yang kita berikan pada pasien stroke berdasarkan NNT. Pada stroke iskemik akut, pemberian IV rTPA (0-3 jam) memiliki NNT 9.1, sedangkan perawatan stroke akut di Stroke Unit memiliki NNT 19.3. Obat Acetosal (ASA), yang diberikan dalam waktu 48 jam memiliki NNT 81.1.
Kalau kita lihat terapi pada penyakit neurologi yang lain, bisa kita bandingkan terapi untuk diabetic neuropatic pain, dimana Carbamazepine memiliki NNT 3.0, sedang Gabapentin 3.8, dan Tricyclic antidepressant memiliki NNT 3.0.
Atau marilah kita bandingkan terapi pada Alzeimer’s disease, dimana Donepezil memiliki NNT 8.4, Galantamine dengan NNT 7.4 dan Rivastigmin dengan NNT 14.3.
Alhasil, sang neurolog kebingungan menjawab pertanyaan ibu muda tersebut. Setelah keduanya lama terdiam, ibu muda akhirnya bercerita tentang orang tuanya yang juga menderita stroke, dan sudah dilakukan salah satu terapi di atas, namun tidak juga membaik. Menurut informasi dari dokter yang melakukan terapi, banyak sekali pasien yang membaik pasca terapi. Namun, saat ibu muda bertanya kembali pada sang dokter, “Pak dokter, mengapa orang tua saya tidak membaik ?” Sang dokter menjawab, ini salah satu pilihan terapi saja bu, “siapa tahu” orang tua ibu membaik ???
Maka demikianlah, konsep “siapa tahu” telah menjelma menjadi konsep epidemiologis baru. Jangan-jangan ini merupakan khazanah kekayaan budaya kita, suatu kearifan lokal yang layak dikembangkan ?...
.
Wednesday, 16 August 2017
Entahlah, Apakah Aku Merdeka ?
Entahlah, apakah Aku sekuat Bung Hatta
Yang menolak fasilitas Negara, saat hendak pergi menunaikan Haji
Beliau bilang, itu urusan hamba dengan Tuhannya
Yang menolak dikuburkan di Taman Makan Pahlawan
Karena ingin dekat dengan rakyat-nya
Entahlah, apakah Aku setegar Buya Hamka
Yang meski terpenjara, tetap bersuara dan melahirkan banyak
karya
Jeruji besi, hanya membatasi raga, tidak jiwa dan idealisme-nya
Entahlah, apakah Aku setulus Ki Hajar Dewantara
Yang mencerdaskan anak-anak negeri tanpa henti
Memberikan teladan dan filosofi sepenuh hati
Mereka orang-orang Merdeka…
Bukan hanya pekik membahana dan kepal tangan ke udara
Aku merenungi diriku sendiri,
Adakah Aku Merdeka….?
Sedang nafsu angkara masih sepenuh dada
Adakah Aku Merdeka…?
Sedang gemerlap dunia masih menjadi tujuan utama
Sedang hati masih mendamba puji dan puja
Sedang hati masih mendamba puji dan puja
Aku takut .....,
ternyata aku belum Merdeka….
Aku merenungi diriku sediri, lagi…dan lagi…
Ternyata,
Aku memang belum Merdeka….
Aku masih menjadi hamba nafsu dengan ego persona
Aku masih belajar Merdeka….
Kamis, 17 Agustus 2017
Tahun ke-72 Indonesia Merdeka
Friday, 4 August 2017
Spiritualitas dan Keluh Kesah Seorang Doktor…..
Teman saya, seorang doktor, berkeluh kesah tentang kegalauan
hidupnya. Dia merasa, makin dalam bidang ilmu yang ia pelajari, makin kering
dan limbung spiritualitas-nya.
Teman saya, dia bukan hanya seorang dokter spesialis, namun
juga doktor dan ilmuwan, sebentar lagi bergelar Profesor. Dia merasa, semakin
banyak membaca dan meneliti, makin gelisah jiwa-nya. Kepercayaan akan ajaran
agama makin kabur. Makin kebelakang, dominasi rasionalitas-nya, semakin
menggerus keimanannya.
Dalam perjalanan keilmuan-nya, semua pernyataan ilmiah haruslah
memiliki bukti, semua ungkapan ilmiah memerlukan penalaran yang logis. Ungkapan
ilmiah apapun, harus dalam kerangka metodologis yang dapat dipertanggung
jawabkan. Lambat-laun, secara sadar atau tersamar, mulailah muncul pertanyaan
dalam batin, yaitu menimbang keyakinan agama dengan sudut pandang sains dan
rasionalitas yang dimiliki-nya.
Pertanyaan itu berkembang demikian rupa, pertanyaan yang
mungkin dia sendiri tak akan pernah mampu menjawab dan menguraikannya.” Apakah
malaikat itu benar-benar ada ? Bagaimana sebenarnya malaikat itu berbentuk.” Bagaimana
sains bisa membuktikannya ?”…..pertanyaan ini disusul oleh banyak pertanyaan
lain yang malah semakin membuat galau jiwanya. Akhirnya, ibadahnya tidak lagi
khusyuk dan memberikan-nya ketenangan. Studi bertahun-tahun, pendidikan yang
tinggi, dan dominasi rasionalitas-nya hampir melepaskan dia dari agama dan
keyakinannya.
Saat ini, dia duduk terpaku. Di tengah gelombang manusia di kota
suci Makkah. Persis di depan pintu masjid, di tanah tempat turunnya wahyu Ilahi,
matanya menatap pada semua orang yang keluar-masuk Masjidil Haram. Dilihatnya, mereka melakukan ibadah sepenuh hati, menengadahkan
tangan, tampak dihadapannya bagaimana pusaran manusia mengelilingi Baitullah.
Dia juga menyaksikan bagaimana air mata tumpah di wajah-wajah para jamaah, dan
dia hanya menatap dan masih bertanya, “mengapa dan mengapa ?”
Seorang pemuda berwajah cerah menghampirinya, menyapa dan
mengajak berjabatan tangan, dan dengan sabar mulai mendengar kisah sang Bapak,
teman akrab saya.
Menanggapi kegalauan sang bapak, pemuda ini berkata pelan
dan perlahan.
“Ketika kita memikirkan alam yang lebih besar dari kita, dengan
sudut pandang ilmiah dan rasionalitas kita, dengan segala usaha dan daya upaya
kita, nyatanya, hanya sedikit saja yang kita ketahui, sungguh, yang ada, malah ternyata
kita tak mampu menguraikannya lebih dalam. Saat kita memikirkan alam yang lebih
molekuler dan tak terlihat, nyatanya, sangat sedikit saja yang kita ketahui,
segala daya upaya kita ternyata terbatas.”
“Apa yang dapat di ungkap oleh otak manusia, sesungguhnya
adalah hanya secuil ciptaan Tuhan yang berhasil dijelaskan. Sedang otak yang digunakan
untuk menjelaskan berbagai fenomena, juga merupakan ciptaan sang Maha. Maka,
lihatlah, bagaimana suatu ciptaan tak mampu secara menyeluruh mengungkapkan dan
menjelaskan suatu ciptaan juga. Ilmu pengetahuan telah dengan gamblang
menjelaskan bahwa sistem dan ciptaan ternyata memiliki keterbatasan. Bagaimana
mungkin makhluk yang penuh keterbatasan dapat mengungkapkan seluruh rahasia Tuhan
yang tak terbatas ?”
“Ketika manusia merasa pintar, merasa dapat mengungkap
rahasia alam dan pengetahuan, sesungguhnya dia bukanlah penemu, karena apa yang
dikatakan “penemuan” sebenarnya fenomena yang sudah ada dan tersedia. Yang
disebut-sebut sebagai “Penemu,” ternyata mereka hanya menjelaskan bagaimana
fenomena yang secara kebetulan belum pernah diketahui orang lain. “Penemu” sesungguhnya
hanya menjelaskan bagaimana hukum alam berlangsung, hukum yang merupakan kreasi
Sang Maha Pencipta.”
“Setelah sekian panjang perjalanan penelitian, dengan
ratusan bahkan ribuan bukti, maka mungkin akan muncul suatu dogma ilmu
pengetahuan, sebagaimana Dogma Sentral
dalam ilmu genetika. Dogma dianggap sesuatu yang sudah tak terbantahkan. Maka
lihatlah, untuk sebuah dogma saja, tidak dapat diungkap oleh hanya satu
ilmuwan, ia memerlukan banyak ilmuwan, bahkan mungkin ilmuwan dari generasi ke
generasi berikutnya.”
“Disertasi doktor, yang sangat dibanggakan, ternyata hanya
mampu mengungkap satu jalur panah, diantara trilyunan dari trilyunan lagi jalur
yang sesungguhnya sudah ada. Namun, alangkah naïf-nya, tatkala banyak manusia
demikian angkuhnya merasa pintar dan berusaha merasionalkan semua ajaran
agamanya yang bersumber dari Sang Maha.”
“Ajaran agama Islam itu rasional, namun untuk memeluk-nya, tidak
dimulai dari rasionalitas. Islam dapat dipahami dan dimengerti dengan keimanan.
Keimanan tidak mensyaratkan daya cerna otak. Iman tidak mensyaratkan manusia terlebih
dahulu mampu merasionalkan ajaran agamanya.”
“Salah satu komponen keimanan dan ciri orang bertaqwa adalah percaya pada yang ghaib. Ghaib
berarti pancaindera manusia tidak dapat menjangkaunya. Bagaimana mungkin otak
yang mampu bekerja dengan sistem indera mampu menjangkau dan menjelaskan hal
yang ghaib ?”
Di akhir penjelasannya, Sang pemuda membuat teman saya
terperanjat. Teman saya seolah telah lama mengenalnya. Benar, sosok pemuda itu
adalah dirinya sendiri, dirinya sebelum menjadi doktor sebentar lagi Profesor, dirinya sebelum
memiliki popularitas, dirinya yang masih polos dan rendah hati, dirinya yang
masih berhati jernih dan jauh dari rasa angkuh dan sombong. Jabat tangan itu ternyata terjadi dalam kontemplasi alam bawah
sadarnya. Teman saya mulai memahaminya, dia menemukan dirinya yang dulu.
Sesungguhnya, kegelisahan teman saya ini, juga dialami oleh seorang Al-Ghazali pada abad ke-11 (lahir di Thus, dekat Iran, pada 1058 M). Beliau berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa, “ Apakah pengetahuan yang meyakinkan itu ? Apakah pengetahuan indrawi dapat kita percayai ? Apakah pengetahuan rasional adalah pengetahuan tertinggi ? Apakah seorang muslim harus menolak filsafat ? Bagaimanakah pengetahuan ke-Nabian dan Wahyu itu ?” Bermula dari kegelisahannya, Al-Ghazali kemudian melakukan kontemplasi, melakukan perenungan mendalam atas semua pertanyaan-pertenyaan tersebut, kemudian lahirlah sebuah karya beliau berjudul “ al-Munqidz min adh-Dhalal” yang berarti “ Pembebas dari Kesesatan.”
Sesungguhnya, kegelisahan teman saya ini, juga dialami oleh seorang Al-Ghazali pada abad ke-11 (lahir di Thus, dekat Iran, pada 1058 M). Beliau berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa, “ Apakah pengetahuan yang meyakinkan itu ? Apakah pengetahuan indrawi dapat kita percayai ? Apakah pengetahuan rasional adalah pengetahuan tertinggi ? Apakah seorang muslim harus menolak filsafat ? Bagaimanakah pengetahuan ke-Nabian dan Wahyu itu ?” Bermula dari kegelisahannya, Al-Ghazali kemudian melakukan kontemplasi, melakukan perenungan mendalam atas semua pertanyaan-pertenyaan tersebut, kemudian lahirlah sebuah karya beliau berjudul “ al-Munqidz min adh-Dhalal” yang berarti “ Pembebas dari Kesesatan.”
Friday, 9 June 2017
“Pintu Nasib” di Sudut Rumah Sakit
Ada mata menatap sayu, pada sebuah pintu. Cukup lama, wanita tua itu tertegun dalam ketidakmengertian, tentang nasib putri-nya yang tak menentu, ini berbeda, dengan nasib pasien-pasien yang berada di balik pintu.
Sudah hampir dua bulan ia meninggalkan desa, mengantar anaknya untuk berobat ke kota, dokter di daerahnya menyebut, inilah rumah sakit paling terkemuka, yang akan meringankan sakit putrinya. Sang putri memerlukan operasi, namun sampai saat ini tak kunjung terjadi, betapa panjangnya antrian, demikianlah menurut informasi yang didapatkan.
Genap dua bulan, dikunjunginya kembali pintu itu. Konon, dari sesama keluarga pasien dia mendengar cerita, bahwa pintu itu adalah “Pintu Nasib,” pintu yang memisahkan dua area rumah sakit, satu bagian dibalik pintu adalah gedung megah kokoh berdiri, tempat orang berkelas secara ekonomi, sedang di tempatnya berdiri, tempat putrinya dirawat, adalah tempat kebanyakan rakyat.
Masih menurut cerita, jika Anda berada dibalik pintu itu, Anda akan dilayani sepenuh hati, untuk operasi, tak perlu menunggu sampai berhari-hari. Antrian bisa di geser, jadwalpun bisa diatur secara lentur, tidak lagi sampai mundar-mundur.
Wanita tua itu, sudah lelah berkeluh kesah, tak tahu pada siapa lagi akan mengadu. Bekal dari desa sudah habis, bekal yang didapatnya dari berjualan di pasar setiap hari, dan kini harus terhenti. Namun jika memaksa pulang, tak terbayang nasib putri semata wayang.
Saat mendung bergelanyut di atas atap Rumah Sakit, dihampiri-nya pintu itu, disentuhnya daun pintunya dengan tangan dan bibir yang bergetar. “ Wahai pintu, begitu hebatnya dirimu, mampu memisahkan nasib manusia, yang sakit disekitarmu.”
“Wahai Pintu, pada siapa Aku mengadu…...
Apakah pada Presiden atau pada Gubernur Aku mengadu, mungkin beliau menjawab, itu bukan urusanku….
Apakah pada Direktur Aku bertanya, mungkin beliau menjawab, masing-masing sudah ada tugasnya….
Apakah pada Dokter Aku berkeluh, beliau akan berkata, kami hanyalah petugas pelaksana….
Aku tahu......, ini salahku saja, kenapa menjadi miskin papa....."
“Wahai Pintu, rasanya Aku sudah tidak mampu, lidahku kelu….kini Putriku sudah berpulang, dia memang tidak mampu memasuki pintu-mu, biarlah dia memasuki pintu sorga bersama seluruh kesabaran jiwa-nya.”
“ Wahai Pintu, sampaikan salamku untuk semua yang melalui-mu, ceritakanlah pada mereka, Aku seorang ibu tua, bermimpi melihat taman sorga, dan taman itu berada di bangsal para penderita, yang berisi rakyat jelata.”
Wednesday, 7 June 2017
Dokter Dunia, Dokter Akhirat.......
Usianya sudah tidak muda lagi. Sudah hampir memasuki dekade ke-enam.
Seorang dokter senior dengan popularitas yang tak terbantahkan. Dengan gelar
akademis panjang serta pasien antri berjajar tiap malam, tak perlu ditanya
sebarapa banyak pemasukan yang beliau dapatkan.
Malam itu beliau begitu gelisah, seolah baru tersadar bahwa
perjalannya telah demikian panjang. Mulai muncul pertanyaan dalam dirinya,
apakah rutinitas yang menghabiskan waktunya puluhan tahun, siang-malam, memiliki
nilai dihadapan Allah saat akhir hayatnya.
Ingatannya kembali berputar, betapa beliau habiskan banyak
masa dan tenaga untuk menuntut ilmu, akhirnya tersandanglah gelar
berjajar-jajar, bukan hanya dari dalam negeri, namun juga gelas prestisius dari
luar negeri. Namun, apakah ini cukup bernilai dihadapan Allah saat akhir hayatnya
nanti ?
Terbayang betapa banyak pasien yang telah beliau tangani,
hari-harinya habis untuk praktek dan visite di berbagai rumah sakit, tenaga dan
waktunya didedikasikan untuk penderita.
Namun, apakah ini cukup bernilai dihadapan Allah saat akhir hayatnya nanti ?
Dilihatnya, tumpukan karya ilmiah dan disertasi para
mahasiswa yang telah ia bimbing, tak terkira banyak waktu yang beliau habiskan
untuk mengajar dan mengarahkan, dan tak terhitung banyaknya mahasiswa yang
telah berhasil, di bawah asuhan tangan dinginnya. Namun, apakah ini cukup
bernilai dihadapan Allah saat akhir hayatnya nanti ?
Sang dokter tak mampu menjawab kegelisahannya selama
berhari-hari. Dan malam ini adalah puncaknya. Akhirnya, datanglah sang dokter
menemui seorang Guru Sufi, yang sungguh hanya dari memandang wajahnya saja,
sejuk rasa menusuk hati.
Sang dokter bercerita panjang tentang kisah perjalanan
hidupnya, dan diakhiri dengan pertanyaan, “ Apakah semua amalan yang telah saya
lakukan adalah amalan dunia, apakah
amalan tersebut memiliki nilai di akhirat kelak ?”
Sang Guru memandang wajah gelisah itu, dan kemudian menjawab,
“ Ada amalan yang tampaknya merupakan amalan dunia, tapi sebenarnya merupakan
amalan akhirat.” Namun, “Ada pula amalan yang tampaknya merupakan amalan
akhirat, tapi sebenarnya hanya sekedar amalan dunia.” Sang dokter tertegun, beliau
masih belum sepenuhnya mengerti.
Sang Guru Sufi melanjutkan, “ Amalan apapun yang dapat
mendekatkan Anda kepada Allah, itulah amalan akhirat”. “Amalan apapun yang dapat
menjauhkan Anda dari Allah, itulah amalan dunia”
“Sehingga, hanya Anda sajalah yang tahu nilai amalan Anda,
apakah amalan dan kegiatan Anda menjadikan Anda lebih dekat kepada Allah,
ataukah semakin menjauhkan Anda dari-Nya. Itulah batas amalan dunia dan
akhirat.” Demikian sang Guru Sufi mengakhiri.
Sang dokter duduk terpekur, menundukkan kepala, beliau
menyadari, sebagian besar amalan yang beliau kerjakan berpuluh-puluh tahun,
menghabiskan waktu siang malam, nyatanya, tidak menjadikan beliau lebih dekat
pada Allah, namun sering melupakan-Nya. Tak terbilang betapa sholatnya amat
singkat dan sering lalai, karena terburu kesibukan dan tugas yang tak terbatas.
Betapa gelar yang panjang berderet-deret tidak membuatnya lebih dekat ke tempat
sujud, namun lebih sering membuatnya mendongakkan kepala, dan berbangga- bangga
di hadapan manusia.
Air mata mengalir deras di wajah sang dokter, sungguh waktu
siang malam merawat pasien, tidak menjadikannya ingat dan bersyukur, hingga
semakin dekat dengan Allah. Motivasinya semata, lebih hanya untuk mengumpulkan
harta dunia. Masih terbayang basah dalam ingatannya, bagaimana hatinya enggan
merawat pasien dari kalangan bawah, karena tak mampu memberikan jasa medis layak
untuk dokter sekaliber dirinya. Namun, dengan serta merta dengan senang hati
merawat pasien kelas atas, dengan asuransi tak terbatas.
Suasana sesaat hening, kemudian Sang Guru Sufi meraih
tangannya, membimbingnya untuk berdoa berulang-ulang, “ Ya Allah, jadikanlah
seluruh amalan kami, menjadi amal sholih yang Engkau terima, dan bukan amalan
yang sia-sia, yang Engkau lemparkan kembali ke wajah-wajah kami pada hari
perhitungan, hanya Engkaulah yang Maha Pengasih dan Penyayang.”
Wednesday, 24 May 2017
Time is (no longer) Brain ?
Desember 1995, wajah neurologi dunia berubah cerah, publikasi di
NEJM tentang efektivitas IV-thrombolysis < 3 jam pada stroke, sontak
menjadikan suasana hangat, bahkan sedikit panas. Istilah Time is
Brain mengemuka, semakin cepat pasien datang, makin banyak sel
otak yang terselamatkan.
NEJM September 2008. Berita dari Eropa, hanya untuk memperpanjang
waktu 1.5 jam (menjadi < 4.5 jam), memerlukan waktu sekitar 13 tahun. Konon,
tambahan 1.5 jam ini, mendapat banyak applause dan standing
ovation cukup lama saat pertama kali dipresentasiakan. Lagi-lagi Time
is Brain menjadi mantra utama.
Sekitar 20 tahun kemudian, yaitu pada 2015, time windows menjadi
6 jam. Diawali dengan beberapa studi yang sangat meyakinkan tentang tindakan
neurointervensi, yaitu tindakah thrombectomy pada large vessel acute
ischemic stroke, AHA/ASA memberikan rekomendasi Class I, Level A.
Kemudian timbul banyak pertanyaan di kalangan neurolog dunia,
apakah mungkin waktu untuk thrombectomy diperpanjang lebih dari 6 jam. Suatu
pertanyaan yang sangat rasional, hal ini didasari betapa perkembangan
neuroimejing telah dapat menunjukkan pada klinisi, berapa luas core dan
berapa luas area penumbra yang masih tersisa.
Saat ini, hanya beberapa hari yang lalu, 16 Mei 2017, dua orang
interventional neurologist (Tudor Jovin dan Raul Nogueire), mempresentasikan
DAWN trial di ESOC (European Stroke Organization Conference). Dan kesimpulan
dari trial ini sungguh mencengangkan, terutama bagi neurointerventionist, ternyata
pasien masih bisa mendapat manfaat dengan thrombectomy meskipun stroke terjadi
telah melebihi 6 jam (tepatnya 6-24 jam). Dengan clinical independency dalam 90
hari, dibandingkan antara thrombectomy dan medical
management, 48.6% : 13.1%, dengan number needed to treat (NNT)
2.8.
Pertanyaannya, apakah berarti Time is no longer a Brain ?
Yang jelas neurointerventionist memiliki lebih banyak waktu untuk
melakukan tindakan. Hal yang perlu dicatat adalah penentuan core dan penumbra dilakukan
dengan CT atau MR perfusion, yang tentu saja memerlukan software dan adanya
neuroradiolog yang siap dan berjaga. Dan yang tidak boleh dilupakan juga,
penelitian ini menyatakan bahwa meskipun lebih dari 6 jam, semakin awal pasien
datang, semakin baik keluaran klinisnya. Waktu lebih dari 6 jam tidak berlaku
untuk semua individu, hanya berlaku pada individu tertentu dengan kolateral
yang baik yang masih mampu mempertahakan area penumbra yang cukup luas meskipun
telah melebihi 6 jam.
Akhirnya, Time is Brain adalah mantra yang
masih harus diucapkan oleh semua neurolog, untuk mendorong pasien stroke segera
datang ke rumah sakit.
Pertanyaan
terakhir, dengan makin efektifnya thrombectomy dan makin panjangnya waktu,
sudah adakah neurointerventionist di tempat kita bekerja ? tampaknya duplikasi
jumlah neurointervensionist sangat diperlukan dalam waktu yang tidak terlalu
lama.
Monday, 1 May 2017
Sosio-vaskular : antara Feeding artery dan Draining Vein
Dalam Neurologi, kedua istilah ini banyak dipakai untuk
kasus malformasi vaskuler (semisal pada AVM dan AVF). Namun, bukan hanya pada
kondisi patologis saja, adanya feeding
artery dan draining vein juga
terjadi pada vaskularisasi parenkim otak normal. Parenkim otak normal tidak hanya memerlukan kebutuhan metabolik adekuat, namun juga harus mengeluarkan
sisa metaboliknya untuk dibuang atau di reproduksi kembali.
Adanya feeding artery
yang membawa nutrisi dan kebutuhan metabolik tubuh, perlu beriringan dengan draining vein yang membawa sisa
metabolik keluar. Serupa dengan makanan yang kita makan melalui mulut , sebagian
ampas akan dibuang kemudian.
Dalam kehidupan sosial, ada pendapatan dan ada pula pajak
yang harus dikeluarkan. Dalam kehidupan keber-agamaan, ada rizki dan ada zakat
yang harus dibayarkan. Dalam dunia pendidikan, ilmu yang didapatkan perlu segera ditunaikan.
Semua ini adalah sunnatullah. Tidak semua yang didapat
adalah milik kita. Ada bagian hak orang lain, dan apabila tidak ditunaikan akan
“menurunkan derajad” diri kita sendiri, baik dihadapan manusia maupun dihadapan
Allah SWT. Hidup akan terasa indah dan seimbang jika mengikuti sunnatullah.
Apabila aliran feeding
artery melebihi aliran yang biasa dikeluarkan melalui draining vein,
disebut hiperperfusi, akan mengakibatkan perdarahan dan ensefalopati. Apabila
aliran ini berkurang dan lebih kecil dari kebutuhan, akan menyebabkan iskemia.
Apabila darah yang keluar melalui draining vein berlebihan, disebut sebagai shunting, akan ada iskemia
relatif, akan ada steal phenomenon,
yang seharusnya didistribusikan, dibuang lebih awal. Ini adalah gambaran pemborosan. Apabila darah yang keluar
melalui draining vein dihambat dan dibatasi, akan ada peningkatan tekanan
intravena, maka terjadilah perdarahan dan gangguan fungsi otak sekitarnya.
Feeding memerlukan
draining,
rizki memerlukan zakat,
dan ilmu memerlukan amal....
rizki memerlukan zakat,
dan ilmu memerlukan amal....
Subscribe to:
Posts (Atom)