Pada 12 September 2026, minggu depan, akan ada Road Show PP Perdosni, untuk Anggota Perdosni Surabaya. Diadakan di kota paling timur pulau Jawa, Banyuwangi. Kota yang berjuluk " the Sun Rise of Java."
Banyuwangi memang unik, suku Osing memiliki bahasa dan tradisi sendiri. Bahasanya tampak seperti perpaduan bahasa Jawa dan Bali. Banyak budaya, tari dan musik khas suku Osing. Kuliner jangan di tanya banyaknya, rujak soto dan rujak ramonan rasanya tak terlupakan.
Musik modern Banyuwangi adalah Kendang Kempul. Musik yang begitu melekat di telinga masyarakat desa, terutama saat ada hajatan. Namun, ada satu lagu yang kembali populer di setiap menjelang kontestasi Pemilu dan Pilkada, dinyanyikan oleh anak-anak sampai dewasa. Judulnya Usum Layangan, penyanyi aslinya Catur Arum.
Perdosni akan mengadakan kontestasi di Medan. Kegiatan ini relevan dengan lagu Usum Layangan.
Lagu ini bercerita tentang musim layangan yang dinikmati semua umur. Ada berbagai warna, ada bermacam gambar. Ada gambar Palang, Cunduk, Kopkopan dan Sawi-sawian. Warna dan gambar melambangkan banyaknya partai dan kelompok yang berkontestasi. Saat layangan di adu, ada banyak yang putus dan melambung jauh. Pemenang tetap mengudara dan menari di angkasa.
Akhir lagu Usum Layangan ditutup dengan kata-kata " Pedote layangan sing dadi paran, tapi ojok sampek pedot seduluran." Putusnya layangan tak mengapa, tapi jangan sampai putus persaudaraan.
Kita rayakan Usum layangan di Medan, tapi jangan lupakan syair akhirnya.