Selamat Datang di Dunia Neurovaskular & Neurointervensi

idik

idik

Saturday, 26 September 2026

Brain AVM : "operator-dependent skill" menuju "device-dependent practice?"

Endovascular treatment of BAVM menjadi sebuah diskusi hangat selepas studi TATAM. Adanya material dan device baru, ternyata tidak serta merta menurunkan angkan morbiditas dan mortalitas. Berikuta adalah catatan kritis tentang terapi neurontervensi BAVM saat ini.

Device ≠ technique. Device dapat memperluas kemungkinan terapi, tetapi tidak menggantikan pemahaman anatomi, hemodinamika, strategi akses, dan kemampuan mengambil keputusan ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.

Innovation bias. Banyak studi device disponsori industri atau memiliki hubungan dengan produsen. Ini tidak otomatis membuat hasilnya salah, tetapi dapat menciptakan conflict of interest dan kecenderungan menonjolkan keunggulan device tertentu.

Technology can conceal technical weakness. Neurointerventionist muda sering hanya melihat satu produk tertentu. Tidak melihat alternatif lain yang mungkin lebih efektif sehingga  kurang terlatih menghadapi situasi ketika device tersebut tidak tersedia atau tidak cocok.

Low Middle Income Country problem. Di negara berkembang, teknologi yang mahal sering tidak tersedia secara konsisten. Jika kompetensi dibangun berdasarkan device tertentu, maka ketika device tidak ada, kemampuan klinis ikut terganggu.

Implantation is not the same as cure. Semakin banyak implant yang ditanamkan bukan otomatis berarti semakin baik neurointervensi. Yang harus menjadi pusat adalah patient selection, procedural safety, durability, dan outcome.

Skill is portable; inventory is not. Keterampilan operator dapat dibawa ke berbagai sistem kesehatan. Device mahal bergantung pada rantai pasok, anggaran, dan industri.

“We may be entering an era in which neurointerventional excellence is measured by what we implant, rather than by what we understand, what we can do with our hands, and what we can achieve for the patient.”

 

Wednesday, 16 September 2026

Mendatangi India Selatan, Mentakdzimi Tiga Guru

“Berburu ke padang datar, dapat rusa belang kaki. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi”

Kata Guru berasal dari bahasa Sansekerta, kemudian diadaptasi oleh bahasa Hindi dan bahasa Indonesia. Makna Guru di India bukan hanya seseorang yang mengajar (teacher). Pengajar di sekolah formal di sana disebut Shikshak. Tidak semua orang yang mengajar disebut Guru. Guru memiliki makna lebih dalam. Guru adalah mentor dan master yang mengajar sampai pada aspek spiritual. Bukan hanya memberi ilmu, namun membentuk karakter dan budi pekerti. 

Bermula pada Jumat, pertengahan Agustus 1991, di sebuah pinggiran kota Jember, Jawa Timur. Subuh masih tertutup kabut pekat, udara dingin menusuk tulang. Selepas sholat subuh yang diakhiri dengan wirid panjang dan bacaan surat Al Kahfi, para santri mulai berhamburan keluar masjid. Tak menunggu lama, masjid kembali dipenuhi oleh santri-santri dewasa, santri kalong.  Santri kalong adalah santri yang datang mengaji, namun tidak menetap di pesantren. Mereka mengikuti rutinan jumat pagi, terdiri dari masyarakat sekitar dengan berbagai latar belakang. Ada ASN, pegawai BUMN, pengusaha, petani sampai alumni pesantren yang masih ingin memelihara hubungan dengan sang guru.

Hidayatul Adzkiya, nama kitab yang di kaji, adalah tulisan Syaikh Zainuddin, ditulis tahun 1508 M. Seorang ulama dari Ponnani, Kerala, India. Kitab ini disebut dalam serat Centhini, buku ensiklopedia jawa yang tebalnya 12 jilid (ditulis 1814 - 1823 M). Koneksi intelektual antara India dan dunia pesantren Indonesia tercatat dalam buku ini. Menariknya, Syaikh Zainuddin Kabir di Ponnani adalah kakek Syaikh Zainuddin Saghir/Tsani pengarang kitab Fathul Muin, Fiqih Madzab Syafi’i, yang sangat populer di pesantren Nusantara. 

Desember 2010, udara dingin terbawa angin, terasa menyapu wajah di IGI Airport New Delhi. Pesawat Air Asia mendarat menjelang tengah malam, pesawat paling cocok dan ekonomis untuk seorang neurolog muda. Fellow dari Damaskus Syiria mengirim pesan, menyampaikan selamat datang, dan memandu untuk menginap malam itu di apartemen, bukan miliknya, milik teman-nya, seorang pengusaha hotel. 

Esok pagi, sahabat baru ini menawarkan coklat sekedar untuk sarapan pagi sembari berangkat ke Hospital. Pagi itu, melihat untuk pertama kalinya, Dr. Shakir Husain, Guru para Neurointervensionis Indonesia, melakukan prosedur di cathlab. Max Superspeciality Hospital, Saket New Delhi, sebuah private hospital yang merawat pasien multinasional dari berbagai negara di sekitar India. Sejak 2024, Dr. Shakir tidak lagi di Delhi, sepulang pengembaraanya dari Zurich beberapa tahun, beliau menetap di Calicut atau Kozhikode, tiga jam penerbangan dari Delhi.

Pada 16 September 2026, pesawat Scoot dari Surabaya menuju Singapura, bersambung dengan Singapore Airlines menuju Kochi di Kerala, India Selatan. Dari Kochi, perjalanan darat ditempuh selama 4 jam menuju Kozhikode atau Calicut, menyusuri daerah tepian Pantai. Pantai selatan India ini, sejak masa lalu merupakan rute perdagangan legendaris, dimana orang-orang dari Eropa dan Jazirah Arab berkunjung. Maka tidak heran kemudian Portugis sempat mengusainya, mirip awal mula Belanda menguasai Indonesia. Agama dominan yang dianut oleh Masyarakat India Selatan adalah Hindu, Islam dan Kristen.

Dari Kochi menuju Calicut melewati daerah Ponnani. Sebuah perkampungan muslim dengan sebuah masjid kuno berlantai dua, dan disinilah Syaikh Zainuddin Awwal pengarang Hidayatul Azkiya dimakamkan. Sebuah anugrah jika bisa berziarah ke maqbarah seorang Guru, yang karyanya sangat akrab dengan dunia pesantren. Sembari berdoa, agar Allah menambahkan kemulyaan beliau, dan agar kami yang berziarah dapat mengikuti jalan beliau, meneladani produktivitasnya dalam menghasilkan banyak karya. 

Calicut merupakah tujuan perjalanan sebenarnya. Di sini tinggal beberapa hari, atas undangan Dr. Shakir Husain. Sebagai seorang “santri,” tentu tidak ada yang lebih membanggakan dan membahagiakan kecuali memenuhi undangan Guru. Acara tahunan beliau adalah KINCON (Kerala Interventional Neurology Conferences), acara yang telah dilaksanakan rutin selama 15 tahun. Dalam forum 3 hari ini, kita mewakili Indonesia, mempresentasikan pengalaman terkait empat topik sekaligus; yaitu prosedur Embolisasi pada Brain AVM, Prosedur Endovaskuler pada Dural Arteriovenous Fistula, Prosedur endovaskuler pada Dissecting Aneurysm Sirkulasi Posterior serta  Strategi endovaskuler pada DACA aneurysma.

Selepas acara ilmiah hari pertama, menikmati bajai, menembus perkampungan, mengunjungi masjid tua di Calicut, tidak memiliki kubah, dan berusia sekitar 650 tahun, namanya Mishkal Mosque. Di masjid ini, syaikh Zainuddin Awwal belajar selama 7 tahun pada Qazi Abu Bakar Fakhruddin, sebelum pergi ke Makkah dan Al Azhar Mesir. Masjid ini terbuat dari kayu-kayu kokoh dan memiliki empat lantai. Di depan masjid tampak kolam kuno yang masih terisi air, menjadi tempat berkumpul Masyarakat maupun jamaah masjid.

Perjalanan berlanjut menuju Malabar, naik kearah utara menyusuri daerah tepian pantai, berziarah ke masjid tua dan maqbarah penulis Fathul Muin, Syaikh Zainuddin Shagir atau Zainuddin Tsani, cucu Syaikh Zainuddin Ponnani. Syaikh Zainuddin Shagir ini bahkan menulis buku Sejarah tentang perjuangan melawan Portugis di India selatan. Kitab ini, Tuhfat al-Mujahidin (1583 M) menjadi dokumentasi sejarah yang penting dan menjadi rujukan di banyak universitas terkemuka di dunia.

Perjalanan mengunjungi tiga Guru terasa berbeda, melebihi sekedar perjalanan wisata. Guru dengan makna yang sebenarnya. Ilmu yan mereka wariskan merasuk ke dalam hati, membentuk karakter, spiritualitas dan budi pekerti. Ilmu yang menjadikan para “santri” lebih rendah hati, ora dumeh dan merasa menjadi seorang faqir. Faqir adalah seorang hamba yang senantiasa membutuhkan kasih sayang Tuhan-nya. Akhirnya, benarlah yang disampaikan Dr. Shakir Husain,” The known is drop, The Unknown is ocean.”

Sunday, 6 September 2026

Unruptured Aneurysm, Prevalensi Melonjak Dua Kali Lipat?

Kalau ada 100 tentara berbaris, 3 orang memiliki aneurisma. Kalau ada 100 orang demo di Bundaran Hotel Indonesia, 3 orang memiliki aneurisma. Namun, prevalensi ini hanya didasarkan data sebelumnya. Faktanya, data terbaru menunjukkan prevalensi unruptured Intracranial aneurysm (UIA) meningkat 6.6%. Ini berarti 1 diantara 15 orang memilki aneurisma. 

Dulu, populasi tertinggi adalah di Jepang dan Finlandia. Nyatanya sekarang tidak. Peningkatan prevalensi ini terjadi di seluruh dunia. Dengan demikian, mungkin PHASES Score, yang memprediksi terjadinya ruptur aneurisma, dan memasukan Jepang serta Finlandia sebagai sub-populasi dengan skor terpisah, rasanya perlu di koreksi.

Artikel Meta analisis di Lancet Neurology (1 September 2026), juga menunjukkan bagaimana non-invasive vascular imaging (MRA dan CTA) memiliki peran sangat besar. Screening mungkin saja tidak diperlukan bagi semua orang, namun perlu untuk mereka yang memiliki potensi tinggi memiliki aneurisma (Family history 7.9%, Connective tissue disorder 10.3%, Polycystic Kidney Disease 12.8 %).

Artikel ini juga menjelaskan Faktor Risiko yang sangat prominen untuk terjadinya aneurisma. Hipertensi meningkatkan kemungkinan UIA sebanyak 60% (RR 1.6), Merokok 40% (RR 1.4) dan Jenis Kelamin Perempuan 90% (RR 1.9). 

Sebuah pertanyaan mendasar terkait peningkatan prevalensi ini, mengapa bisa terjadi? Hal ini berkaitan dengan makin sering dilakukannya non-invasive imaging, dan ternyata aneurisma ukuran kecil banyak terdiagnosa. 

Namun, ada poin yang perlu ditekankan, bahwa tidak semua UIA termyata perlu dilakukan tindakan. Ada stratifikasi dan keputusan klinis pada individu tertentu apakah UIA perlu diterapi atau tidak. Nyatanya, banyak UIA tetap tidak pecah sampai pasien berusia tua atau meninggal.

Saturday, 5 September 2026

Usum Layangan di Medan

Pada 12 September 2026, minggu depan, akan ada Road Show PP Perdosni, untuk Anggota Perdosni Surabaya. Diadakan di kota paling timur pulau Jawa, Banyuwangi. Kota yang berjuluk " the Sun Rise of Java."

Banyuwangi memang unik, suku Osing memiliki bahasa dan tradisi sendiri. Bahasanya tampak seperti perpaduan bahasa Jawa dan Bali. Banyak budaya, tari dan musik khas suku Osing. Kuliner jangan di tanya banyaknya,  rujak soto dan rujak ramonan rasanya tak terlupakan.

Musik modern Banyuwangi adalah Kendang Kempul. Musik yang begitu melekat di telinga masyarakat desa, terutama saat ada hajatan. Namun, ada satu lagu yang kembali populer di setiap menjelang kontestasi Pemilu dan Pilkada, dinyanyikan oleh anak-anak sampai dewasa. Judulnya Usum Layangan, penyanyi aslinya Catur Arum. 

Perdosni akan mengadakan kontestasi di Medan. Kegiatan ini relevan dengan lagu Usum Layangan.

Lagu ini bercerita tentang musim layangan yang dinikmati semua umur. Ada berbagai warna, ada bermacam gambar. Ada gambar Palang, Cunduk, Kopkopan dan Sawi-sawian. Warna dan gambar melambangkan banyaknya partai dan kelompok yang berkontestasi. Saat layangan di adu, ada banyak yang putus dan melambung jauh. Pemenang tetap mengudara dan menari di angkasa.

Akhir lagu Usum Layangan ditutup dengan kata-kata " Pedote layangan sing dadi paran, tapi ojok sampek pedot seduluran." Putusnya layangan tak mengapa,  tapi jangan sampai putus persaudaraan.

Kita rayakan Usum layangan di Medan, tapi jangan lupakan syair akhirnya.

Tuesday, 11 August 2026

Merayakan Kongres dan Redefinisi Keanggotaan

Sebentar lagi kita berkongres di Medan, November 2026. Siapa yang berkongres? Perlukah kita sebagai anggota PERDOSNI merayakan kongres?

Ada pertanyaan yang mungkin jarang diucapkan keras-keras, sering terdengar lirih, mengapa kita harus menjadi anggota PERDOSNI? Apakah karena kita benar-benar membutuhkan organisasi profesi? Ataukah karena kita merasa tidak punya pilihan? Apakah kita mendapat manfaat atau hanya formalitas administratif. 

Mungkin sudah saatnya PERDOSNI meredefinisi makna keanggotaan.

Sebagian besar anggota PERDOSNI bergabung karena satu alasan praktis: agar bisa bertemu dengan sejawat lain dan mendapat informasi kegiatan ilmiah untuk memenuhi berbagai persyaratan profesional. Setelah itu?

Apabila keanggotaan hanya menjadi kegiatan administratif, maka organisasi kehilangan makna. Ia berubah menjadi gerbang birokrasi, bukan rumah profesi. Organisasi profesi seharusnya membuat anggotanya merasa lebih aman, lebih kuat, lebih berkembang, dan lebih dihargai. Bukan sekadar lebih patuh.

Bayangkan jika anggota mendapatkan: diskon signifikan untuk semua kegiatan ilmiah, akses jurnal internasional, diskon biaya workshop dan fellowship, perlindungan hukum kolektif, asuransi profesi, konsultasi etik dan hukum, advokasi terhadap kebijakan kesehatan.

Pada saatnya, tidak akan ada lagi pertanyaan apakah menjadi anggota PERDOSNI adalah kebutuhan atau keterpaksaan. Karena jawabannya akan menjadi sangat jelas. Orang akan bergabung bukan karena diwajibkan. Tetapi karena merasa rugi jika tidak menjadi anggota. Dan itulah ukuran organisasi profesi yang sehat. Bukan banyaknya anggota. Tetapi besarnya manfaat yang dirasakan anggotanya.

Ada perbedaan besar antara organisasi yang hidup karena anggotanya, dan organisasi yang menghidupi anggotanya. Yang pertama meminta. Yang kedua memberi. Yang pertama menuntut. Yang kedua menciptakan nilai. Yang pertama mengumpulkan anggota. Yang kedua membangun komunitas.

Kongres adalah tempat terbaik untuk memperbaiki organisasi melaui perubahan aturan dan amandemen AD/ART. Berkongres tidak sekedar memilih pemimpin, namun yang lebih penting adalah menciptakan sistem. Siapapun pemimpinnya, jika sistem memberikan arah dan pagar yang jelas pada jalannya organisasi, perhimpunan ini akan berjalan sesuai harapan.

Selamat merayakan kongres ! 

Thursday, 9 July 2026

Wajah Negeri, Wajah Neurologi?

Petani menyuapi anak negeri,
Namun tidur dalam cemas, 

Nasi, tak mengeyangkan dirinya sendiri

Nelayan mengarungi lautan lepas,
Rezekinya sempit di daratan luas

Guru tak lagi (bisa) di gugu sepenuhnya

Dokter tak lagi (bisa) dipercaya nasihatnya

Niat suci bergeser, standar moral memudar

 

Integritas tinggal cerita,

Kesetiaan ada pada lagu pujian sahaja

 

Paradoks terbesar, 

mungkin bukan mengapa itu terjadi?

 

Melainkan, 

karena kita perlahan terbiasa,

dan ikut menikmatinya

Sunday, 5 July 2026

Meningioma: Embolisasi Segera Menggantikan Tindakan Bedah?

Syahdan, beberapa tindakan open surgery pada kasus neurologi, telah bergeser menuju prosedur endovaskuler atau neurointervensi. Coiling telah menggantikan clipping pada hampir semua kasus. Carotid stenting telah menggantikan endarterectomy pada banyak kasus stenosis carotis. Embolisasi Middle Meningeal Artery menjadi standar baru pada Chronic Subdural Hematoma (cSDH). 

Pada tumor hipervaskuler (seperti meningioma), embolisasi selama ini menjadi prosedur pre-operatif. Meningioma dilakukan stand alone embolization pada pasien-pasien yang menolak operasi. Namun, publikasi terbaru pada Journal Neurointerventional Surgery-JNIS (Juni 2026) yang memaparkan jumlah kasus cukup banyak (40 kasus), membuat kita cukup optimis, bahwa stand alone embolization akan segera menjadi pilihan terapi pada subtipe meningioma tetentu. 

Artikel ini memberikan bukti, dari 41 meningioma yang diembolisasi, evaluasi MRI pada tumor enhancement volume (ETV) berkurang sebanyak 83.1% (dalam 24-72 jam). Evaluasi pada total tumor volume (TTV) berkurang sebanyak 28,6%  dalam 1 bulan, kemudian 57,1%  dalam 6 bulan, dan 81.7% dalam 1 tahun. Klinis pasien tetap atau membaik pada hampir semua pasien (39 orang). 

Fakta ini menarik dan memberikan harapan besar pada neurologi. Prosedur embolisasi pada meningioma terutama pada konveksitas, bukan prosedur yang kompleks dan prosedur ini non- invasif. Artikel ini mematik harapan, prosedur stand alone embolization pada meningioma, tak lama lagi akan mengikuti trend prosedur lain seperti coiling, stenting carotis dan embolisasi pada cSDH. 

All eyes are on the good news ahead!

Friday, 23 January 2026

Ada Apa di Val d'Isere ?




    Perjalanan yang sangat melelahkan terbayar. Surabaya-Jakarta-Doha-Geneva, menelan hampir 24 jam. Pilot Qatar Airways meminta penumpang bersiap, saat jendela dibuka, tampak landscape bukit-bukit bersalju indah memutih. Rumah-rumah kecil bersembunyi dihamparan-nya. Betapa elok di pandang mata. 

    Landing di Geneva begitu mulus, penumpang bertepuk tangan, apresiasi untuk sang pilot. Ponsel diaktifkan, Dimitry, driver yang akan membawa ke Val d’Isere  mengirim pesan, sepuluh menit lagi dia akam masuk bandara. 

    Belum jeda punggung sekejap, masih hangat rasa kursi pesawat, tanpa ampun, mobil Van hitam meluncur cepat. Dimitry menyampaikan bahwa perjalanan 3 sampai 4 jam. Ini hari Sabtu, 17 Januari, mungkin cukup banyak yang berlibur ke Val d’Isere. Sepanjang jalan, tidak berhenti bibir ini bertasbih, melihat betapa indah negara ini. Ada danau yang berhimpitan dengan bukit bukit batu, sebagian tertutup salju. Rumah-rumah kayu, perahu-perahu kecil, birunya air danau yang terasa dingin, mengingatkan kita akan cerita klasik dari Swiss, tentang Heidi, anak yatim yang di asuh oleh sang kakek di kaki gunung bersalju. 

    Mobil meluncur dan tersendat. Jalah menuju Val d’Isere tak terlalu besar, sulit untuk saling mendahului. Mendekati tujuan, mata benar-benar dimanjakan oleh pemandangan surgawi. Kota ini kecil, namun terasa hidup. Hotel Kandahar, pukul 19.00 sungguh terasa hangat, meskipun suhu di luar minus 4 derajad Celsius. 

    Berkunjung ke Val d'Isere, menghadiri ABC WIN Seminar, 18-23 Januari 2026, pertemuan ilmiah tertua kelas dunia. Sungguh beruntung bisa berada disini. Bersama para guru dan founding father neurointervensi. Satu persatu peserta mulai memasuki kota. Salju menumpuk di sisi kanan dan kiri jalan. Terserak begitu saja di halaman depan kamar. Dari jendela, tampak sepanjang luas mata memandang perbukitan putih menjulang. Hanya pinus dan cemara yang dominan terlihat, menjadikan pohon-pohon perdu lain menjadi minoritas. 

    Meski belum terlalu larut, kaki sudah enggan diajak berkeliling area sekitar. Perjalanan ini terlalu panjang dan melelahkan. Konon kota ini sepi saat summer. Tak ada salju, tak banyak orang yang datang. Tempat ini menjadi tempat olimpiade ski. Tak heran, pada dinding hotel terpampang banyak foto even ski internasional. Di hotel yang keseluruhan dinding dan lantai-nya dari kayu, saat ini tak ada yang lebih indah selain membaringkan badan sejenak, untuk bersiap besok pagi menuju acara.

    Pagi hari, 18 Januari 2026. Semua telah berkumpul di auditorium yang mampu menampung sekitar 500 peserta. Ruangan yang nyaman, ideal untuk kegiatan ilmiah berskala besar. ABC WIN ini konon sudah berbeda sepeninggal Prof. Luc Picard. Awalnya acara ini bebas dari pengaruh industri. 

    ABC WIN di inisiasi beberapa orang saja pada tahun 1980-an. Diantara generasi awal penggagasnya, hanya Jaques Moret yang masih terlihat, yang lain sudah tiada, atau tidak hadir lagi, seperti Alex Barenstein. Mulai terlihat talenta-talenta muda yang cerdas dan tajam. Pengaruh industri dan berkembangnya device yang begitu banyak, tak pelak juga mewarnai presentasi beberapa peserta, meskipun, tidak ada sponsor apapun yang mendisplai produk, sebagaimana seminar atau kongres pada umumnya. 

Tuesday, 20 January 2026

Kita Angka, Kita Citra

Ada angka berjajar-jajar

Capaian pemuja citra

Abaikan dulu hakekat

Tinggalkan dulu substansi

Nyatakan semu-nya....

Fatamorgana 

 

Manjakan saja mata manusia

Puaskan saja ego persona 

Jadilah pahlawan pemuja kata

 

Akreditasi, Portofolio, Sertifikasi

Menghanyutkan hakekat pasti

Menguapkan isi

 

Pikiran filosofis menjelma superfisial

Cita hanya deskripsi grafik belaka

Lenyap yang sesungguhnya abadi

Memanjakan mata 

Yang hanya sebatas indera

Saturday, 10 January 2026

Refractory Headache: Intra Arterial Lidocaine saja?

Seorang wanita, 48 tahun. Terlihat begitu menderita akibat nyeri kepala berulang. Menurut dokter, ini adalah persistent disabling headache. Sudah pernah mendapat banyak terapi oral, injeksi botox dan obat terkait CGRP seperti eptinezumab, namun belum juga membaik. Akhirnya dia mendatangi seorang neurointervensionis, meminta agar membantunya menghilangkan keluhan. Pasien menyampaikan pada dokter, bersedia dilakukan prosedur apapun, asalkan bisa menghilangkan nyeri kepalanya. 

Pagi itu, pasien didorong ke cathlab. Dilakukan angiografi transfemoral (bisa juga dengan transradial), microcatheter dinaikkan menuju middle meningeal artery (MMA). Diposisikan 2 mm melewati ostium MMA (menghindari koneksi dengan internal carotis dan ophthalmic artery). Infus lidokain pada MMA diberikan dengan dosis 50 mg (1mg/1 cc NS) dalam 5-10 menit, setelah selesai prosedur diulangi pada MMA kontralateral. 

Prosedur berlangsung 30 menit. Pasien merasakan nyeri kepala menghilang tepat setelah prosedur. Pasien merasa mendapatkan hidup baru, ini adalah kali pertama, setelah sekian lama merasakan refractory headace yang tak berkesudahan.

Prosedur ini bukan pada satu pasien, tetapi pada 45 pasien. Bukan di Indonesia, tetapi di USA (publikasi JNIS, maret 2025). Sesungguhnya, prosedur ini dilakukan pertama kali sepuluh tahun sebelumnya, oleh seorang Neurologi Intervensi, Dr. Adnan Qureshi, pada 2014. 

Beberapa efek samping yang terjadi pada serial case ini adalah transient numbness dan diplopia, hanya sepintas saja dan membaik sempurna. Efek samping lain adalah terkait prosedur DSA itu sendiri (tidak terkait lidocain), seperti nyeri pada puncture dan satu pasien dengan hematoma subgaleal.

Bagi Nevi, prosedur ini relatif tidak sulit, dan juga murah (dibanding prosedur intervensi lain). Prosedur ini tampaknya berpotensi menjadi standar terapi baru. Kita masih menunggu penelitian yang lebih besar dan bukti ilmiah yang lebih kuat. 

Saturday, 3 January 2026