Selamat Datang di Dunia Neurovaskular & Neurointervensi

idik

idik

Saturday, 17 October 2026

Saturday, 26 September 2026

Brain AVM : "operator-dependent skill" menuju "device-dependent practice?"

Endovascular treatment of BAVM menjadi sebuah diskusi hangat selepas studi TATAM. Adanya material dan device baru, ternyata tidak serta merta menurunkan angkan morbiditas dan mortalitas. Berikuta adalah catatan kritis tentang terapi neurontervensi BAVM saat ini.

Device ≠ technique. Device dapat memperluas kemungkinan terapi, tetapi tidak menggantikan pemahaman anatomi, hemodinamika, strategi akses, dan kemampuan mengambil keputusan ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.

Innovation bias. Banyak studi device disponsori industri atau memiliki hubungan dengan produsen. Ini tidak otomatis membuat hasilnya salah, tetapi dapat menciptakan conflict of interest dan kecenderungan menonjolkan keunggulan device tertentu.

Technology can conceal technical weakness. Neurointerventionist muda sering hanya melihat satu produk tertentu. Tidak melihat alternatif lain yang mungkin lebih efektif sehingga  kurang terlatih menghadapi situasi ketika device tersebut tidak tersedia atau tidak cocok.

Low Middle Income Country problem. Di negara berkembang, teknologi yang mahal sering tidak tersedia secara konsisten. Jika kompetensi dibangun berdasarkan device tertentu, maka ketika device tidak ada, kemampuan klinis ikut terganggu.

Implantation is not the same as cure. Semakin banyak implant yang ditanamkan bukan otomatis berarti semakin baik neurointervensi. Yang harus menjadi pusat adalah patient selection, procedural safety, durability, dan outcome.

Skill is portable; inventory is not. Keterampilan operator dapat dibawa ke berbagai sistem kesehatan. Device mahal bergantung pada rantai pasok, anggaran, dan industri.

“We may be entering an era in which neurointerventional excellence is measured by what we implant, rather than by what we understand, what we can do with our hands, and what we can achieve for the patient.”