Selamat Datang di Dunia Neurovaskular & Neurointervensi

idik

idik

Sunday, 6 September 2026

Unruptured Aneurysm, Prevalensi Melonjak Dua Kali Lipat?

Kalau ada 100 tentara berbaris, 3 orang memiliki aneurisma. Kalau ada 100 orang demo di Bundaran Hotel Indonesia, 3 orang memiliki aneurisma. Namun, prevalensi ini hanya didasarkan data sebelumnya. Faktanya, data terbaru menunjukkan prevalensi unruptured Intracranial aneurysm (UIA) meningkat 6.6%. Ini berarti 1 diantara 15 orang memilki aneurisma. 

Dulu, populasi tertinggi adalah di Jepang dan Finlandia. Nyatanya sekarang tidak. Peningkatan prevalensi ini terjadi di seluruh dunia. Dengan demikian, mungkin PHASES Score, yang memprediksi terjadinya ruptur aneurisma, dan memasukan Jepang serta Finlandia sebagai sub-populasi dengan skor terpisah, rasanya perlu di koreksi.

Artikel Meta analisis di Lancet Neurology (1 September 2026), juga menunjukkan bagaimana non-invasive vascular imaging (MRA dan CTA) memiliki peran sangat besar. Screening mungkin saja tidak diperlukan bagi semua orang, namun perlu untuk mereka yang memiliki potensi tinggi memiliki aneurisma (Family history 7.9%, Connective tissue disorder 10.3%, Polycystic Kidney Disease 12.8 %).

Artikel ini juga menjelaskan Faktor Risiko yang sangat prominen untuk terjadinya aneurisma. Hipertensi meningkatkan kemungkinan UIA sebanyak 60% (RR 1.6), Merokok 40% (RR 1.4) dan Jenis Kelamin Perempuan 90% (RR 1.9). 

Sebuah pertanyaan mendasar terkait peningkatan prevalensi ini, mengapa bisa terjadi? Hal ini berkaitan dengan makin sering dilakukannya non-invasive imaging, dan ternyata aneurisma ukuran kecil banyak terdiagnosa. 

Namun, ada poin yang perlu ditekankan, bahwa tidak semua UIA termyata perlu dilakukan tindakan. Ada stratifikasi dan keputusan klinis pada individu tertentu apakah UIA perlu diterapi atau tidak. Nyatanya, banyak UIA tetap tidak pecah sampai pasien berusia tua atau meninggal.

Saturday, 5 September 2026

Usum Layangan di Medan

Pada 12 September 2026, minggu depan, akan ada Road Show PP Perdosni, untuk Anggota Perdosni Surabaya. Diadakan di kota paling timur pulau Jawa, Banyuwangi. Kota yang berjuluk " the Sun Rise of Java."

Banyuwangi memang unik, suku Osing memiliki bahasa dan tradisi sendiri. Bahasanya tampak seperti perpaduan bahasa Jawa dan Bali. Banyak budaya, tari dan musik khas suku Osing. Kuliner jangan di tanya banyaknya,  rujak soto dan rujak ramonan rasanya tak terlupakan.

Musik modern Banyuwangi adalah Kendang Kempul. Musik yang begitu melekat di telinga masyarakat desa, terutama saat ada hajatan. Namun, ada satu lagu yang kembali populer di setiap menjelang kontestasi Pemilu dan Pilkada, dinyanyikan oleh anak-anak sampai dewasa. Judulnya Usum Layangan, penyanyi aslinya Catur Arum. 

Perdosni akan mengadakan kontestasi di Medan. Kegiatan ini relevan dengan lagu Usum Layangan.

Lagu ini bercerita tentang musim layangan yang dinikmati semua umur. Ada berbagai warna, ada bermacam gambar. Ada gambar Palang, Cunduk, Kopkopan dan Sawi-sawian. Warna dan gambar melambangkan banyaknya partai dan kelompok yang berkontestasi. Saat layangan di adu, ada banyak yang putus dan melambung jauh. Pemenang tetap mengudara dan menari di angkasa.

Akhir lagu Usum Layangan ditutup dengan kata-kata " Pedote layangan sing dadi paran, tapi ojok sampek pedot seduluran." Putusnya layangan tak mengapa,  tapi jangan sampai putus persaudaraan.

Kita rayakan Usum layangan di Medan, tapi jangan lupakan syair akhirnya.