Selamat Datang di Dunia Neurovaskular & Neurointervensi

idik

idik

Saturday, 26 September 2026

Brain AVM : "operator-dependent skill" menuju "device-dependent practice?"

Endovascular treatment of BAVM menjadi sebuah diskusi hangat selepas studi TATAM. Adanya material dan device baru, ternyata tidak serta merta menurunkan angkan morbiditas dan mortalitas. Berikuta adalah catatan kritis tentang terapi neurontervensi BAVM saat ini.

Device ≠ technique. Device dapat memperluas kemungkinan terapi, tetapi tidak menggantikan pemahaman anatomi, hemodinamika, strategi akses, dan kemampuan mengambil keputusan ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.

Innovation bias. Banyak studi device disponsori industri atau memiliki hubungan dengan produsen. Ini tidak otomatis membuat hasilnya salah, tetapi dapat menciptakan conflict of interest dan kecenderungan menonjolkan keunggulan device tertentu.

Technology can conceal technical weakness. Neurointerventionist muda sering hanya melihat satu produk tertentu. Tidak melihat alternatif lain yang mungkin lebih efektif sehingga  kurang terlatih menghadapi situasi ketika device tersebut tidak tersedia atau tidak cocok.

Low Middle Income Country problem. Di negara berkembang, teknologi yang mahal sering tidak tersedia secara konsisten. Jika kompetensi dibangun berdasarkan device tertentu, maka ketika device tidak ada, kemampuan klinis ikut terganggu.

Implantation is not the same as cure. Semakin banyak implant yang ditanamkan bukan otomatis berarti semakin baik neurointervensi. Yang harus menjadi pusat adalah patient selection, procedural safety, durability, dan outcome.

Skill is portable; inventory is not. Keterampilan operator dapat dibawa ke berbagai sistem kesehatan. Device mahal bergantung pada rantai pasok, anggaran, dan industri.

“We may be entering an era in which neurointerventional excellence is measured by what we implant, rather than by what we understand, what we can do with our hands, and what we can achieve for the patient.”

 

Wednesday, 16 September 2026

Mendatangi India Selatan, Mentakdzimi Tiga Guru

“Berburu ke padang datar, dapat rusa belang kaki. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi”

Kata Guru berasal dari bahasa Sansekerta, kemudian diadaptasi oleh bahasa Hindi dan bahasa Indonesia. Makna Guru di India bukan hanya seseorang yang mengajar (teacher). Pengajar di sekolah formal di sana disebut Shikshak. Tidak semua orang yang mengajar disebut Guru. Guru memiliki makna lebih dalam. Guru adalah mentor dan master yang mengajar sampai pada aspek spiritual. Bukan hanya memberi ilmu, namun membentuk karakter dan budi pekerti. 

Bermula pada Jumat, pertengahan Agustus 1991, di sebuah pinggiran kota Jember, Jawa Timur. Subuh masih tertutup kabut pekat, udara dingin menusuk tulang. Selepas sholat subuh yang diakhiri dengan wirid panjang dan bacaan surat Al Kahfi, para santri mulai berhamburan keluar masjid. Tak menunggu lama, masjid kembali dipenuhi oleh santri-santri dewasa, santri kalong.  Santri kalong adalah santri yang datang mengaji, namun tidak menetap di pesantren. Mereka mengikuti rutinan jumat pagi, terdiri dari masyarakat sekitar dengan berbagai latar belakang. Ada ASN, pegawai BUMN, pengusaha, petani sampai alumni pesantren yang masih ingin memelihara hubungan dengan sang guru.

Hidayatul Adzkiya, nama kitab yang di kaji, adalah tulisan Syaikh Zainuddin, ditulis tahun 1508 M. Seorang ulama dari Ponnani, Kerala, India. Kitab ini disebut dalam serat Centhini, buku ensiklopedia jawa yang tebalnya 12 jilid (ditulis 1814 - 1823 M). Koneksi intelektual antara India dan dunia pesantren Indonesia tercatat dalam buku ini. Menariknya, Syaikh Zainuddin Kabir di Ponnani adalah kakek Syaikh Zainuddin Saghir/Tsani pengarang kitab Fathul Muin, Fiqih Madzab Syafi’i, yang sangat populer di pesantren Nusantara. 

Desember 2010, udara dingin terbawa angin, terasa menyapu wajah di IGI Airport New Delhi. Pesawat Air Asia mendarat menjelang tengah malam, pesawat paling cocok dan ekonomis untuk seorang neurolog muda. Fellow dari Damaskus Syiria mengirim pesan, menyampaikan selamat datang, dan memandu untuk menginap malam itu di apartemen, bukan miliknya, milik teman-nya, seorang pengusaha hotel. 

Esok pagi, sahabat baru ini menawarkan coklat sekedar untuk sarapan pagi sembari berangkat ke Hospital. Pagi itu, melihat untuk pertama kalinya, Dr. Shakir Husain, Guru para Neurointervensionis Indonesia, melakukan prosedur di cathlab. Max Superspeciality Hospital, Saket New Delhi, sebuah private hospital yang merawat pasien multinasional dari berbagai negara di sekitar India. Sejak 2024, Dr. Shakir tidak lagi di Delhi, sepulang pengembaraanya dari Zurich beberapa tahun, beliau menetap di Calicut atau Kozhikode, tiga jam penerbangan dari Delhi.

Pada 16 September 2026, pesawat Scoot dari Surabaya menuju Singapura, bersambung dengan Singapore Airlines menuju Kochi di Kerala, India Selatan. Dari Kochi, perjalanan darat ditempuh selama 4 jam menuju Kozhikode atau Calicut, menyusuri daerah tepian Pantai. Pantai selatan India ini, sejak masa lalu merupakan rute perdagangan legendaris, dimana orang-orang dari Eropa dan Jazirah Arab berkunjung. Maka tidak heran kemudian Portugis sempat mengusainya, mirip awal mula Belanda menguasai Indonesia. Agama dominan yang dianut oleh Masyarakat India Selatan adalah Hindu, Islam dan Kristen.

Dari Kochi menuju Calicut melewati daerah Ponnani. Sebuah perkampungan muslim dengan sebuah masjid kuno berlantai dua, dan disinilah Syaikh Zainuddin Awwal pengarang Hidayatul Azkiya dimakamkan. Sebuah anugrah jika bisa berziarah ke maqbarah seorang Guru, yang karyanya sangat akrab dengan dunia pesantren. Sembari berdoa, agar Allah menambahkan kemulyaan beliau, dan agar kami yang berziarah dapat mengikuti jalan beliau, meneladani produktivitasnya dalam menghasilkan banyak karya. 

Calicut merupakah tujuan perjalanan sebenarnya. Di sini tinggal beberapa hari, atas undangan Dr. Shakir Husain. Sebagai seorang “santri,” tentu tidak ada yang lebih membanggakan dan membahagiakan kecuali memenuhi undangan Guru. Acara tahunan beliau adalah KINCON (Kerala Interventional Neurology Conferences), acara yang telah dilaksanakan rutin selama 15 tahun. Dalam forum 3 hari ini, kita mewakili Indonesia, mempresentasikan pengalaman terkait empat topik sekaligus; yaitu prosedur Embolisasi pada Brain AVM, Prosedur Endovaskuler pada Dural Arteriovenous Fistula, Prosedur endovaskuler pada Dissecting Aneurysm Sirkulasi Posterior serta  Strategi endovaskuler pada DACA aneurysma.

Selepas acara ilmiah hari pertama, menikmati bajai, menembus perkampungan, mengunjungi masjid tua di Calicut, tidak memiliki kubah, dan berusia sekitar 650 tahun, namanya Mishkal Mosque. Di masjid ini, syaikh Zainuddin Awwal belajar selama 7 tahun pada Qazi Abu Bakar Fakhruddin, sebelum pergi ke Makkah dan Al Azhar Mesir. Masjid ini terbuat dari kayu-kayu kokoh dan memiliki empat lantai. Di depan masjid tampak kolam kuno yang masih terisi air, menjadi tempat berkumpul Masyarakat maupun jamaah masjid.

Perjalanan berlanjut menuju Malabar, naik kearah utara menyusuri daerah tepian pantai, berziarah ke masjid tua dan maqbarah penulis Fathul Muin, Syaikh Zainuddin Shagir atau Zainuddin Tsani, cucu Syaikh Zainuddin Ponnani. Syaikh Zainuddin Shagir ini bahkan menulis buku Sejarah tentang perjuangan melawan Portugis di India selatan. Kitab ini, Tuhfat al-Mujahidin (1583 M) menjadi dokumentasi sejarah yang penting dan menjadi rujukan di banyak universitas terkemuka di dunia.

Perjalanan mengunjungi tiga Guru terasa berbeda, melebihi sekedar perjalanan wisata. Guru dengan makna yang sebenarnya. Ilmu yan mereka wariskan merasuk ke dalam hati, membentuk karakter, spiritualitas dan budi pekerti. Ilmu yang menjadikan para “santri” lebih rendah hati, ora dumeh dan merasa menjadi seorang faqir. Faqir adalah seorang hamba yang senantiasa membutuhkan kasih sayang Tuhan-nya. Akhirnya, benarlah yang disampaikan Dr. Shakir Husain,” The known is drop, The Unknown is ocean.”