Dulu, waktu adalah musuh. Setiap menit, neuron mati. Setiap jam, harapan menyempit. Time is brain. Terlambat berarti kehilangan.
Ilmu bergerak. Jendela terapi terbuka. Imejing mengubah cara kita memandang waktu. Bukan kapan, tetapi berapa banyak jaringan otak yang masih bisa diselamatkan.
LATE-MT baru dipublikasikan di The New England Journal of Medicine pada 23 Oktober 2026. Pada pasien LVO sirkulasi anterior, trombektomi hingga 72 jam dapat memperbaiki luaran fungsional.
Apakah berarti semua pasien masih bisa ditolong setelah tiga hari? Apakah berarti waktu tak lagi penting?
Penelitian ini melibatkan 336 pasien. Mereka datang 24–72 jam setelah onset atau last known well. Seleksi dilakukan berdasarkan CT perfusion. Ischemic core harus kurang dari 50 mL. Mismatch ratio minimal 1,8. Penumbra absolut minimal 15 mL.
Hasilnya menjanjikan. Luaran fungsional pada hari ke-90 lebih baik pada kelompok trombektomi. Common odds ratio mencapai 1,74. Nilai p 0,005.
Perdarahan intrakranial simptomatik terjadi pada 4,8% pasien yang menjalani trombektomi. Tidak ditemukan pada kelompok kontrol. Kematian dalam 90 hari juga lebih tinggi: 6,0% berbanding 1,8%. Ada harapan. Ada risiko.
Siapkah Indonesia? Siapkah Kita?
Trombektomi hingga 72 jam bukan sekadar urusan alat. Ia menuntut CT perfusion yang tersedia dan dapat diinterpretasikan dengan benar. Algoritma seleksi pasien yang disiplin. Tim stroke yang bekerja lintas disiplin. Operator yang terampil. Anestesi dan perawatan intensif yang siap. Serta sistem rujukan yang tidak membiarkan waktu habis di jalan dan ruang tunggu.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah trombektomi bisa dilakukan hingga 72 jam. Namun, apakah pasien yang tepat dapat ditemukan, dirujuk, dinilai, dan ditangani secara aman.
Waktu kini mungkin lebih panjang. Tetapi tanggung jawab justru lebih besar.
No comments:
Post a Comment