Saat rembulan rindu menjelang, tak ada yang lebih indah untuk dikenang, membayangkan kembali bagaimana menuai pendar.
Dari bilik-bilik kamar semua berlarian, menjawab lantunan burdah dari lubuk masjid idaman, pusat segala aktivitas harian. Semua datang, duduk bersila, menyambut guru mulia, mengharap percik cahaya.
Hamburan mutiara hikmah penuh berkah, mengisi detik demi detik, ruang demi ruang, sepanjang rembulan rindu.
Cahaya rembulan rindu makin terasa, menjelang saat-saat berbuka. Tampaklah duduk berderet rapi, mengharap berkah gelas-gelas kecil yang dihidangkan, tidak seberapa, sangat sederhana, namun betapa nikmat luar biasa.
Menuai pendar di Tegal Besar, betapa kini kami rindukan. Kami tampung tetes-tetes ilmu sang guru, selepas subuh, dhuha, ashar, isya, tarawih, dan menutup malam dengan hikmah, maka dada ini, lapanglah sudah....
Ditengah hiruk pikuk kepenatan, ditengah perangkap rutinitas tak berkesudahan. Betapa rindu menuai pendar, mengikis ragu galau membiru. Menanam lagi harapan, meninggalkan angan-angan profan tak bertepian. Oh...betapa rindu....
Wahai Rembulan.....
Selamat datang menjelang...
Marhaban....Marhaban.....
GA 307, Surabaya - Jakarta, 1 Mei 2019.
Mempelajari neurovaskular hanya dari anatomi dan fisiologi saja, seolah melihat pantai hanya dari lukisan dinding yang indah namun tidak bergerak. Mempelajari neurovaskular dengan melakukan dan memahami angiografi serebral, bukan hanya menikmati keindahannya, namun merasakan hembusan angin laut dan deburan ombak pantai yang dinamis sekaligus menggetarkan.
Selamat Datang di Dunia Neurovaskular & Neurointervensi
idik
Wednesday, 1 May 2019
Friday, 26 April 2019
Rembulan Rinduku....
Pendar apakah ini...
Belum tiba, namun semerbak aroma
Cahyanya mengisi sunyi
Menyemai harapan layu
Yang nyaris mati ditelan waktu...
Maafkan Aku....
Tak akan lagi Aku ulangi...
Menyelesihi hadirmu tahun lalu
Dan begitu saja engkau berlalu
Wahai Rembulan rinduku
Kusambut kau kini sepenuh hati
Kan kuabaikan mereka
Fatamorgana dunia fana
Akulah debu diujung waktu
Sebentar terbang,...sebentar hilang
Betapa ingin rasa melekat
Mengikutimu kemana pergi
Bersimpuh, menyerah diri
Pantaskan hati menuju Sang Maha Tinggi
Wahai Rembulan rindu
Detik tiap detik usiamu
Tak tersia-sia bagi siapa
Yang mendekapmu sepenuh Asa
Marhaban...
Marhaban....
Sriwijaya Air, Sby-JKT, 26/04/2019
Belum tiba, namun semerbak aroma
Cahyanya mengisi sunyi
Menyemai harapan layu
Yang nyaris mati ditelan waktu...
Maafkan Aku....
Tak akan lagi Aku ulangi...
Menyelesihi hadirmu tahun lalu
Dan begitu saja engkau berlalu
Wahai Rembulan rinduku
Kusambut kau kini sepenuh hati
Kan kuabaikan mereka
Fatamorgana dunia fana
Akulah debu diujung waktu
Sebentar terbang,...sebentar hilang
Betapa ingin rasa melekat
Mengikutimu kemana pergi
Bersimpuh, menyerah diri
Pantaskan hati menuju Sang Maha Tinggi
Wahai Rembulan rindu
Detik tiap detik usiamu
Tak tersia-sia bagi siapa
Yang mendekapmu sepenuh Asa
Marhaban...
Marhaban....
Sriwijaya Air, Sby-JKT, 26/04/2019
Thursday, 21 March 2019
Mata Air Neurointervensi...
Malam itu, gala dinner the 14th Delhi course 2019. Ada yang berbeda dari gala dinner tahun-tahun sebelumnya. Madam Zehra, seseorang yang termasuk generasi awal neurosurgeon wanita, membuka acara, mengundang Prof. Shakir menyampaikan misi perjalanan SNIF, dimana beliau adalah aktor utamanya. Yang sangat patut di catat dari apa yang disampaikan adalah, bahwa neurointervensi harus dikembangkan dengan membebaskan diri dari segala intervensi "company" (baca kompeni 😁), mengikuti jalan para founding father Neurointervensi, Prof. Lasjaunias dan Prof. Valavanis.
Malam itu, apresiasi tinggi diberikan kepada George Rodesch, past president WFITN, successor Prof. Lasjaunias, dan seorang guru yang sangat kompeten. Lecture yang disampaikannya begitu indah, menarik, dan seolah mengikuti kisah panjang yang mengasyikkan. Sudah beberapa kali tercatat beliau hadir di Delhi, dan ini yang ketiga. Pencapaiannya di bidang akademis di ceritakan oleh Prof. Michihiro Tanaka, current general secretary WFITN.
Bagi masyarakat Rajastan, memberikan penghargaan pada seseorang yang sangat dihormati adalah dengan memberikan tutup kepala merah, semacam mahkota para raja di sana. Malam itu, beliau mendapatkannya. Prof. Shakir yang memakaikannya.
Saat sambutan, Rodesch menyampaikan, bahwa beliau sangat terharu, karena apa yang diceritakan dan pujian tentang beliau lebih banyak bohong-nya, .....dan tawa hadirin-pun menggema.... Sungguh suatu sikap rendah hati yang patut diteladani. Lebih lanjut, beliau menyampaikan, apa yang dicapai hanya karena beliau beruntung dikelilingi orang-orang hebat yang mendukung dan memberikan apresiasi padanya. Bagi kami, adalah suatu kehormatan saat beliau menyampaikan sertifikat fellow bagi yang telah menyelesaikan program dan memberikan penghargaan pemenang poster.
Malam itu, kami menyadari, menjadi neurointervensionis tidak cukup hanya dengan melakukan banyak prosedur, banyak intervensi. Lebih dari itu, kami harus meneladani semangat mengajar para guru yang penuh energi, tak pernah terlihat lelah, dan lebih penting lagi adalah rasa rendah hati, tak merasa lebih tinggi dibanding yang lebih baru datang memasuki dunia neurointervensi. Mereka menyayangi para peserta dan menyayangi kami dengan sepenuh hati.
Catatan Gala Dinner, the 14th Delhi Course 2019.
Sunday, 10 March 2019
Aksi Neurologi, Tiada Henti…….
Maret 2019 ini, coba lihatlah laporan studi terbaru, namanya WEAVE trial, yang menghidupkan stenting intracranial yang sudah hampir mati. Ingatkah kita, kala itu, studi SAMMPRIS pada 2011 menyimpulkan bahwa intracranial stenting memiliki keluaran lebih buruk dibanding medikamentosa, dan sebaiknya tidak dikerjakan. Namun, SAMMPRIS rupanya bukanlah racun yang sungguh membunuh, ia adalah pupuk, yang menumbuhkan studi-studi berikutnya dengan desain yang lebih tajam. Belajar dari SAMMPRIS, tentang proper patients selection, dan experienced interventionalis, WEAVE studi membuktikan bahwa intracranial stenting kini hidup kembali dan memang layak dikerjakan.
Maret 2019 ini, ada juga kabar terbaru tentang Trombektomi. Sebelumnya, batas ASPECTS score 6 dipercaya merupakan titik potong, untuk baik atau tidaknya keluaran pasien yang dilakukan trombektomi. Kini, ASPECTS score 0-5, yang merupakan gambaran severe stroke secara imejing, ternyata, tak terbukti sebagai kontraindikasi. Trombectomi pada skor ini memberikan favorable outcome, functional independence maupun reduce mortality yang lebih baik.
Maret 2019 ini. Pemakaian dual antiplatelet kembali memberi bukti akan efek positif. Setelah CHANCE study, kini studi dari Jerman menunjukkan bahwa pemberian dual antiplatelet bermanfaat untuk progressive lacunar stroke. Mampu memperbaiki outcome secara signifikan. Bahkan, telah sejak lama, pada kasus intracranial stenosis selepas SAMMPRIS, dual antiplatelet telah banyak diberikan dalam praktek klinis.
Maret 2019 ini, setelah era trombektomi, pemberian intra arterial (IA) rTPA seolah ditinggalkan. Namun kini, mata kita mulai terbuka kembali. Pada banyak kasus yang gagal dengan trombektomi, IA rTPA dikombinasi dengan trombektomi, memiliki angka rekanalisasi lebih tinggi, memiliki jumlah pasien dengan autcome fungsional baik yang lebih tinggi. Meskipun tidak signifikan secara statistik. Ini mungkin akan serupa dengan trial lain, tinggal menunggu waktu mencapai nilai signifikan dengan memperbaiki seleksi pasien dan desain studi.
Akan ada banyak lagi studi, yang mungkin mencengangkan dunia neurologi. Sayangnya, kita neurolog Indonesia, dalam tataran akademis hanyalah penikmat perubahan saja. Jangankan menciptakan perubahan dengan membuat studi yang mampu bersuara, berusaha menerapkan studi yang sudah ada saja jatuh bangun setengan mati. Maunya berakrobat lepas, namun fasilitas dan kemampuan terbatas. Maka biarlah menjadi penikmat saja, menyenangkan pemain akrobat tingkat dunia. Bukankah mereka memang butuh ditonton aksinya dan perlu diberikan applause akan usahanya. Kalau bukan kita yang menonton, lalu siapa...
Saturday, 9 March 2019
Lagi-Lagi Delhi...
Bukan...
Bukanlah Qutab Minar yang memanggilmu kembali....
Bukan pula Lotus Temple yang menarikmu datang lagi...
Bukankah kau pernah berkata ?
Sudah cukuplah mengunjungi India
Tak ada ruang dan waktu lagi untuk Delhi...
Sudah kenyang rasa, saat terakhir meninggalkannya..
Tak mungkin aku datang lagi,
Tak ada lagi yang perlu di gali,
Tak ada lagi yang perlu di kaji.....
Aku duduk terpaku di Hauz Rani....
Memandang lalu lalang manusia tak bertepi
Tak habis pikir mengapa disini lagi....
Sampai pikiran habispun...tetap juga tak mengerti
Maka, ...jika tetap saja tak mengerti....
Pertanda itu masih ada.....
Tahun depan kau pasti akan kembali lagi dan lagi....
Kau hanya akan berhenti ....
Sampai kau temukan jawaban atas tanyamu...
Sampai kau temukan jawaban atas heranmu...
Maka,....
Carilah sekarang jawaban itu....,
Carilah segera penangkalnya.....,
Atau....
Sihir dan Magis Delhi akan terus memanggilmu kembali...
Tanpa pernah berhenti.....:-)
Bukanlah Qutab Minar yang memanggilmu kembali....
Bukan pula Lotus Temple yang menarikmu datang lagi...
Bukankah kau pernah berkata ?
Sudah cukuplah mengunjungi India
Tak ada ruang dan waktu lagi untuk Delhi...
Sudah kenyang rasa, saat terakhir meninggalkannya..
Tak mungkin aku datang lagi,
Tak ada lagi yang perlu di gali,
Tak ada lagi yang perlu di kaji.....
Aku duduk terpaku di Hauz Rani....
Memandang lalu lalang manusia tak bertepi
Tak habis pikir mengapa disini lagi....
Sampai pikiran habispun...tetap juga tak mengerti
Maka, ...jika tetap saja tak mengerti....
Pertanda itu masih ada.....
Tahun depan kau pasti akan kembali lagi dan lagi....
Kau hanya akan berhenti ....
Sampai kau temukan jawaban atas tanyamu...
Sampai kau temukan jawaban atas heranmu...
Maka,....
Carilah sekarang jawaban itu....,
Carilah segera penangkalnya.....,
Atau....
Sihir dan Magis Delhi akan terus memanggilmu kembali...
Tanpa pernah berhenti.....:-)
Friday, 8 February 2019
Sir...
Sir, demikian kami memanggilnya. Sosok yang belum berubah, meskipun bertahun-tahun kami mengenalnya. Kemarin, baru saja kami bersua. Tetap terlihat cerdas, tegap dan gesit. Rambutnya memang rata memutih. Namun, gaya bicara runtut, argumentatif dan berisi, selalu menarik untuk di simak. Ide-idenya acak tak mudah di tebak. Pemikirannya meloncat jauh ke depan, memaparkan arah dan kemungkinan peluang masa mendatang.
Sir, demikian kami memanggilnya, sosok penuh perhatian, selalu menanyakan kabar muridnya, satu-persatu, tak pernah ada yang terlupa. Raut bahagia terpancar, tatkala kabar baik menyapa. Senantiasa mendengar tiap cerita dan begitu kuat mengingatnya.
Sir, demikian kami memanggilnya, sosok yang tak mudah kami pahami. Sosok guru fenomenal yang melampaui zaman. Berbicara pada kami, selalu berapi-api, membakar semangat, melecut impian. Awal mula, idenya seperti mimpi, namun apa yang disampaikan bertahun lalu, yang seolah maya, saat ini menjadi nyata.
Sir, demikian kami memanggilnya. Sungguh bersyukur masih dapat menjabat tangannya. Tangan yang mengajari kami, melakukan gerakan-gerakan terampil di kamar operasi. Sungguh bersyukur masih bisa mendengar petuah-petuahnya. Petuah yang menjadikan kami tegak berdiri. Sungguh bersyukur masih bisa melihat beliau beraksi, berdiri disamping beliau untuk asistensi operasi. Gerakan, gesture, aksi, sungguh masih belum berubah, malah makin matang dan terukur. Refleks dalam menganalisa setiap temuan selama operasi, sungguh refleks grand master kelas dunia.
Sir, sosok kontroversial. Pecintanya mungkin sebanyak pencelanya. Kawannya mungkin sebanyak oposannya. Namun, teman saya berkata, itulah tanda sosok genius. Senantiasa membuat sekitarnya menjadi terkutub dua. Ada yang pro dan kontra. Jika Anda merasa genius, namun tidak demikian adanya, maka Anda bukanlah genius yang sesungguhnya.
Sir, bukan guru biasa, guru yang menginspirasi, guru yang membuat tanah hitam yang kami genggam menjadi emas. Kami coba cari dan teliti, apakah yang menjadi kunci ? salah satu kunci terbesar kesuksesannya adalah rasa hormat dan cintanya pada Sang guru. Dan sungguh, Sang gurupun mencintainya. Betapa keliru jika kami tidak mengikuti jejaknya.
Sir…….., dimanapun Engkau, do’a kami semua senantiasa menyertai. Semoga Allah mencintaimu sebagaimana Engkau mencintai kami, para muridmu.
Monday, 28 January 2019
Kisah Dua Pasang Tanduk Rusa
Saat usia kehamilan baru 3 minggu, proses vaskulogenesis dimulai, yaitu proses pembentukan tabung-tabung pembuluh darah, berlokasi di mesoderm, lapisan antara ectoderm (sususan saraf pusat masa mendatang) dan endoderm (organ dalam masa mendatang - berupa yolk sac).
(Sumber : Netter's Atlas of Embriology)
Tabung-tabung itu dibentuk oleh angioblast, yang bersama sel hematopoetic, merupakan derivasi dari hemangioblast. Hemangioblast sendiri berasal dari sel precursor mesodermal.
(Sumber : Neurographics 2018; 8(6);463-495)
Pada hari ke-24, tampak dua bentukan tabung pembuluh darah menyerupai dua huruf “V” yang terletak sejajar depan belakang, yang depan tampak lebih kecil. Bentukan “V” depan kecil, bagian dasar yang lancip akan menjadi awal mula jantung dimasa mendatang. Sedangkan bentukan “V” belakang yang lebih besar, dasar yang lancip akan menjadi iliac artery dan menjadi aorta yang sebenarnya (aorta abdominal dan thoracal).
“V” kecil disebut ventral aorta, “V” besar disebut dorsal aorta. Kedua huruf “V” yang saling membelakangi ini terhubung oleh arteri yang berkelok dari depan ke belakang (arkus), yang muncul pertama disebut 1staortic arch artery. Di bawah arkus pertama ini selanjutnya, pada setiap 2 hari, akan muncul arkus-2 sampai arkus-6, sesuai dengan usia kehamilan.
Karena suatu proses hemodinamik, sangat menarik menyaksikan bahwa, arkus-1 akan menarik diri (regresi) saat arkus-2 muncul. Dan pada saat arkus-3 dan arkus-4 muncul (kedua arkus ini merupakan dwi tunggal), arkus-2 menarik diri (regresi). Berikutnya muncul arkus-5 dan kemudian pada hari ke-29, hanya selisih satu hari, muncul arkus-6 yang diikuti regresi arkus-5. Arkus-3 dan arkus-4 tetap ada. Dipersiapkan untuk mengambil peran dan memimpin. Keduanya tidak regresi, namun justru bergabung, menjadi satu pembuluh darah yang prominen. Arkus-3 menjadi common carotid dan arkus-4 menjadi arkus aorta yang sebenarnya. Sedang arkus-6 beradaptasi menjadi arteri pulmonalis.
(Sumber : Practical Neuroangiography, Pearse Morris)
Kedua bentukan huruf “V” memiliki tanduk masing-masing. Bagian belakang, dorsal aorta memiliki tanduk menjulang, yang merupakan internal carotid dimasa mendatang, terletak di lateral. Sedangkan pada ventral aorta akan muncul tanduk baru, terlihat setelah terbentuknya arkus-3, terletak di medial. Tanduk medial ini akan makin berkembang dengan berjalannya waktu, merupakan external carotis artery dikemudian hari. Kedua tanduk lateral dan medial ini, kemudian bersatu dan bergabung menyerupai tanduk rusa. Tanduk yang cantik, menjulang indah. Terbentuk karena proses hemodinamik, menyerupai dinamika ombak dan gelombang di tepi pantai, menghasilkan suara desiran pasir. Tanduk-tanduk ini akan mencukupi nutrisi dan kebutuhan metabolik head and neck sejak masa kelahiran sampai ajal datang menjelang.
(Sumber : pixabay.com)
Wednesday, 23 January 2019
Aku Sepenuh Dada
Katanya…..
Kita ini sesungguhnya baik,
Mencintai prasangka baik,
Namun mengapa,
Prasangka baik, untuk kita saja
Prasangka buruk, untuk mereka
Hanya karena selisih pandang semata-mata
Kita diajarkan rendah hati,
Mencintai orang yang rendah hati
Namun mengapa,
Masih bersemayam takabbur abadi
Padahal ilmu dan amal tidak seberapa,
Hanya segelintir ala kadarnya
Kita sungguh mencintai keadilan,
Kita damba keadilan dari mereka
Namun,
Hanyut sudah nurani dalam diri
Betapa mendamba mereka berbuat adil,
Dengan cara lalim dan kerdil
Berprasangka baik, rendah hati dan berbuat adil
Mendatangkan cinta Allah dan semua manusia
Tampaknya kita kini,
Tak membutuhkannya lagi
Sungguh tak tersisa secuil ruang hati
Karena penuh, “Aku saja,” dan “Aku lagi”
Wednesday, 26 December 2018
Jejak Dua Istana : antara Agra dan Granada
Hari Minggu, pagi masih buta. Kami bergegas, berkemas menuju stasiun Maria Zambrano, berada persis di depan hotel, dimana kami bermalam. Penerbangan dari Amsterdam, dengan pesawat berbiaya murah, Ryan Air, tadi malam, telah membawa ke kota Malaga. Sebuah kota pelabuhan di Andalusia, Spanyol.
Dengan berbekal tas punggung dan selembar tiket kereta, bisa dipesan secara online, kami memasuki stasiun, tidak begitu besar, namun bersih. Menungu beberapa saat, di pojok kantin, cukuplah untuk melahap sepotong sandwich tuna, menyeruput kopi dan menikmati suasana subuh Malaga.
Kereta ini nyaman, hampir tanpa suara, meskipun angka monitor diatas pintu kereta, menunjukkan lajunya amat kencang. Dari jendela, sungguh nikmat, melihat suasana pedesaan pagi hari, tampak lahan dengan tanaman berjajar-jajar, tanaman Olive yang tak pernah haus, karena selang-selang kecil menyembul, menyirami setiap onggok pohonnya. Lahan yang berbukit-bukit, naik turun, tampak sangat indah. Renfe train, melaju menuju Cordoba.
Mengapa Cordoba ? bukankah istana Alhambra yang legendaris ada di Granada ? Sebagaimana mengunjungi Agra-India, menikmati dan menghikmati Taj Mahal, haruslah lebih dahulu mengunjungi Agra Fort. Jika ingin memahami Alhambra di Granada, suatu keharusan mengunjungi Cordoba. Apabila Agra Fort dan Taj Mahal hanya berjarak satu pandangan mata (Taj Mahal dapat dinikmati dari puncak Agra Fort), maka Cordoba dan Granada berbeda kota, terpisah perjalanan sekitar 4 jam, dengan bus dan kereta.
Inilah Cordoba. Inilah Ibukota Andalusia pada masa kekhalifahan Islam, kekhalifahan Umayyah. Destinasi utama adalah Mezquita de Cordoba. Sebuah Masjid legendaris, dengan arsitektur indah. Kini, bagian tengahnya merupakan Katedral, sedang bangunan sekelilingnya, merupakan bangunan yang dapat dinikmati para pengunjung. Hotel kami persis berada di pojok Mezquite, di bawah menara persegi empat, bukan menara bulat, seperti kebanyakan menara, menara berwarna kuning pucat, khas arsitektur bangsa Moor. Hotel itu bernama Maimonides. Nama seorang filosof Yahudi, satu diantara puluhan filosof terkemuka, di masa keemasan kekhalifahan Islam.
Bus dari stasiun kereta menuju Mezquita de Cordoba, memerlukan waktu sekitar 30 menit. Sepanjang jalan, Kami melihat pohon-pohon jeruk segar dan ranum. Pohon yang tumbuh di sepanjang jalan Cordoba. Bus berhenti, tepat di sebarang sungai Guadalquivir. Maka, tampaklah Mezquita berdiri kokoh dari seberang sungai. Menghampiri Mezquita, kaki akan melangkah, menyusuri Roman Bridge, jembatan kokoh yang di bangun pada era Romawi, saat bangsa Visigoth masih berkuasa. Nama Guadalquivir berasal dari bahasa arab “Wadi Al-Kabir, “ yang berarti sungai yang besar. Sungai terbesar kedua di Spanyol yang memanjang dari Cordoba menuju Sevilla dan berkahir di samudra Atlantik.
Menapaki aroma kuno Roman Bridge, mendengarkan gemericik air dibawahnya, memandang pilar tinggi besar menuju Mezquita, membawa ke masa seribu tahun lalu. Seolah tergambar dihadapan mata, lalu lalang para bangsawan, ilmuwan, tentara dan kerumunan rakyat jelata. Beberapa puluh meter ke arah kiri, tampak Alcazar, taman-taman rimbun memukau, dengan kolam dan bunga-bunga bermekaran, sisa peradaban lama, sangat memanjakan mata.
Berjalan menapaki area Mezquita, mencari para guru dan ilmuwan dunia. Tampak Averroes (Ibnu Rusyd) duduk mematung, mencoba menjelaskan kembali konsep Arestotelian, agar bisa dipahami banyak orang, menuliskan kembali ide-idenya yang hampir punah. Beliau bukan hanya ahli agama, namun juga dokter dan filosof. Disudut taman yang lain, Ibnu Hazm berdiri tegak, membacakan syair-syair melegenda, seorang ulama dan filosof kontroversial pada masa itu, dimana, pemujanya sebanyak pencelanya. Akhir hayatnya, akhirnya pergi meninggalkan riuhnya kota, menyendiri , sambil terus mengajar para murid yang setia mengikuti.
Siapa tak kenal Abulcassis (Abul Qasim Az Zahrawi), ahli bedah, peletak dasar ilmu bedah modern. Buku legendarisnya, Al-Tasrif, setebal 30 jilid, menjadi rujukan ilmuwan Eropa. Seorang ahli bedah Perancis, Guy de Chauliac, mengutip Al-Tasrif hampir lebih dari 200 kali. Kitab Al-Tasrif terus menjadi pegangan para dokter hingga terciptanya era Renasissance. Sampai abad ke -16 M, ahli bedah berkebangsaan Perancis, Jaques Delechamps (1513 M-1588 M), masih menjadikan Al-Tasrif sebagai rujukan.
Menapaki gang-gang sempit, diantara gedung-gedung antik disekitar Mezquita, sungguh asyik. Tak disangka, kaki memasuki University of Cordoba. Universitas dengan bangunan tua, setua kisah dan sejarahnya. Di seberang gerbang kampus, seolah mengamati para pengunjung, duduk diantara rimbun pohon jeruk yang ranum. Dialah Al-Ghafiqi, pakar farmasi dan ophthalmologist termasyhur Andalusia. Namanya juga diabadikan di rumah sakit Cordoba.
Empat tersebut, beberapa diantara ratusan ilmuwan. Mereka seolah berkumpul pada satu era, menuliskan karya-karya besarnya di Cordoba. Karya yang menjadi landasan pengetahuan Eropa. Karya yang masih dapat ditelusuri, dinikmati hingga kini, dari generasi ke generasi.
Saat Cordoba runtuh, kekhalifahan masih bertahan di Granada. Mari coba menelusurinya. Kereta api meninggalkan Cordoba, transit di Atequera Santa Ana, tersambung bus menuju Granada. Sepanjang jalan, yang tampak hanya kebun Olive dan dataran tinggi yang berbukit-bukit, inilah alasan, mengapa tak ada kereta ke Granada. Mendatangi Granada berarti menghampiri Alhambra.
Alhambra, sebuah istana megah nan indah mempesona. Berdiri diatas bukit menjulang, memasukinya akan melewati taman-taman indah menawan. Gerbang “the tower of justice” ramah menyambut, gerbang yang dibangun pada 1348 M, masih tampak kokoh berdiri. Alhambra tampak merah merona dari kejauhan, lebih-lebih di kala senja, sesuai namanya, “Al-Hamra” dalam bahasa arab berarti merah. Dari Alcazaba, benteng yang berdiri kokoh, kaki melangkah memasuki Nasrid Palace, istana sesungguhnya, seolah tercium aroma masa lalunya. Untainan manik-manik dan interior kaca yang detail, dengan kaligrafi didinding yang menawan, bertuliskan “La Ghaaliba illa-Allah” (there is no victor but Allah). Bentukan langit-langit istana, menyerupai sarang lebah, membiru, terlihat berkelip, berpendar, terkena pantulan cahaya dari balik jendela.
Memasuki ruangan-ruangan di istana ini, akan mengingatkan pada Agra Fort, sebuah perpaduan benteng dan istana di Agra, India. Beberapa ornamen dan detail interior mirip atau hampir serupa. Agra Fort, tuntas dibangun pada 1573 M, dua ratus tahun setelah Alhambra.
Agra Fort hanya berjarak 2.5 km dari Taj Mahal, mahakarya agung, white marble berbalut ukiran, ornament, dan lukisan amat detail, untaian kaligafi menyelimutinya. Suasana makin sendu jika dinikmati dari tepian sungai Yamuna. Tak terbayang bagaimana mereka membangunnya. Konon, Taj Mahal merupakan sebuah monumen, lambang cinta suami akan istrinya. Namun, ada banyak cerita dan kisah dibaliknya, sehingga ungkapan cinta, ternyata tidak sesederhana yang dipahami, oleh banyak manusia. Monumen ini dibangun selama 22 tahun, untuk Mumtaz Mahal, sang istri ketiga, wanita Persia, setelah melahirkan anak ke-14, putri mereka.
Taj Mahal mengundang banyak manusia. Semua datang menikmati keindahannya, semua terpukau, semua terbuai. Ratusan juta jepretan kamera mengabadikan bangunannya, tak terkira jumlah yang berswafoto, dengan berbagai macam gaya. Tampaknya ada yang terlupa. Taj Mahal adalah sebuah makam, sebuah pekuburan. Tak tampak ada satupun menengadahkan tangan, atau diam untuk berdoa, sebagaimana lazimnya peziarah kubur. Seolah jenazah Shah Jahan dan Mumtaz Mahal tak lagi ada disana. Apakah mungkin mereka melakukannya, dengan cara diam-diam ?
Alhambra, Agra Fort dan Taj Mahal, adalah monumen, tanda kejayaan peradaban. Semua mata mengaguminya. Namun, ada yang berbeda akan Cordoba. Ada suasana haru terbalut rindu saat mengunjunginya. Saat itu, bukan hanya menikmati bangunan, arsitektur dan suasana kotanya, namun, seolah menghirup gairah para ilmuwan kelas dunia, yang meneliti, menuliskan dan menghasilkan banyak karya. Karya itu, mungkin tanpa sadar, telah memasuki relung-relung otak kita, otak umat manusia. Pengetahuan itu diwariskan dari generasi-ke generasi, lebih abadi, mungkin tak terlihat, namun ia sungguh nyata adanya.
Friday, 7 December 2018
Neurointervensi Madzhab Delhi
Hari itu senin, 7 Februari 2011. Menjelang musim semi. Bulan kedua fellowship. Datang seorang laki-laki muda, dosen di sebuah universitas negara tetangga. Lelaki ini mula-mula masuk di sebuah rumah sakit lain, namun tak menemukan yang dicarinya, ternyata dokter yang dimaksudkan, telah berpindah ke rumah sakit dimana sekarang dia dirawat. Pasien ini mengeluh kejang dan nyeri kepala berulang.
Prosedur angiografi serebral dilakukan. Seperti biasa, beliau asyik cukup lama di depan workstation, sambil melihat satu-persatu gambaran MRI secara detail, seolah tak memperdulikan kami para fellow yang selalu mengikuti dibelakangnya. Akhirnya, beliau berjalan menuju HDC (high dependence care), tempat evaluasi pasien pasca prosedur, dan menjelaskan bahwa Brain AVM pada sang dosen tidak perlu dilakukan embolisasi, cukup observasi dan terapi simptomatik. Pasien mulanya agak terkejut atas penjelasan ini, bagaimana tidak ? jauh-jauh dari Negara tetangga, berharap dilakukan suatu tindakan untuk mengobati sakitnya, mengapa hanya di observasi saja ?
Sebagai fellow yang masih dalam tahap obsevership, tentu kami keheranan, beberapa waktu lalu, pasien dengan ukuran AVM yang sama, dan di lokasi yang hampir serupa, beliau lakukan prosedur embolisasi. Mengapa pada pasien ini berbeda ? Kami berdiskusi dengan sesama fellow, namun belum berani bertanya, mengapa decision making pada dua pasien yang tampaknya mirip, kok bisa berbeda.
Besok harinya, kembali seorang pasien Brain AVM dari Negara tetangga, kali ini lebih jauh, Timur Tengah. Sudah pernah dilakukan embolisasi di rumah sakit lain. Pasien dilakukan prosedur dengan general anastesi. Tak disangka, prosedur ini begitu lama, kami heran, satu microcatheter yang kami sangka sudah masuk dalam nidus dan siap diinjeksikan glue (NBCA), ternyata ditarik kembali, begitu terjadi beberapa kali. Apa yang kami anggap nidus AVM, ternyata menurut beliau bukan. Microcatheter diarahkan ke feeder yang lain. Sampai akhirnya injeksi glue benar-benar dilakukan, dan membuat kami lega, artinya prosedur panjang akan segera selesai, karena telah cukup lama sekali, hari ini bermandi radiasi.
Selepas prosedur, sambil menikmati secangkir kopi, beliau bertanya tentang AVM tadi. How many compartements? Para fellow saling berpandangan, bagaimana kami tahu ? membedakan nidus dengan angiomatous changesaja kami belum mampu. Beliau tersenyum, dan berkata, “ada dua kompartemen, dengan dua draining vein.” Pada kesempatan lain beliau berkata, “We are not a plumber,” bukan tukang ledeng, yang hanya menutup kebocoran disini dan disana, ada angioarchitecture yang perlu dipertimbangkan, ada topografi AVM yang perlu dipelajari.
Demikianlah, setiap hari fellow belajar dari ketidakmengertian. Belajar membuat keputusan klinis. Pasien-pasien yang tampak sama, ternyata bisa memiliki decision yang berbeda. Hubungan fellow dan mentor sangatlah dekat, bukan sekedar guru dan murid yang formal, namun seperti seorang anak dengan orangtua. Kemanapun beliau pergi, kami mengikuti. Setiap keputusan klinis pada pasien hari per hari, kami mengetahui “mengapa” dan apa alasannya.
Ada yang unik dari “Madzhab Delhi.” India tidak banyak berbeda dengan Indonesia. Baik kondisi ekonomi pasien, juga ragam prosedurnya. Jangan pernah berharap berganti microwire dan microcatheter selama prosedur dengan mudah, seperti di negara maju semacam Jepang dan Korea. Meskipun, bisa jadi, itu adalah prosedur sulit dan mungkin saja memerlukannya. Ada banyak trik dan tips bagaimana shaping serta reshaping microcatheter dan microwire. Ada usaha tak kenal lelah, memodifikasi tehnik dalam prosedur, yang mungkin di negara maju lebih memilih berganti device baru, meski berkali-kali tanpa peduli, karena pembiayaan bukan masalah lagi.
Dari “Madzhab Delhi,” kami belajar, bukan semata-mata mengandalkan kecanggihan tekhnologi device neurointervensi, seperti flow diverter, atau menanam kombinasi implant sekian banyak dalam pembuluh darah otak. Kami belajar, bagaimana menyelesaikan masalah pasien se-ekonomis mungkin, namun dengan hasil maksimal serta komplikasi minimal.
Beliau selalu menekankan “mastering in neuroanatomy,” karena “It’s a cheapest way of being safe,” sebagaimana yang disampaikan Prof. Lasjaunias. Ungkapan yang sesungguhnya lebih mudah diucapkan dari pada diaplikasikan. Terutama, bagi neurointervensionis muda, yang hanya berharap short-cut, belajar kalau bisa dua-tiga bulan saja dan langsung bekerja, tak perlu berlama-lama.
Ada banyak hal yang kami rindukan akan “Madzab Delhi.” Terkadang, dalam alam bawah sadar, kami mungkin rindu “dimarahi” dengan teguran keras model India. Jika saat prosedur, kami melakukan kesalahan, jangan kira apa yang terjadi, sungguh saat itu mungkin rasa sakit menyayat hati, namun kini menjadi kenangan abadi tiada terganti.
Wednesday, 5 December 2018
Stroke Infark dan “Gua Hantu”
Satu-satunya mantra yang paling manjur untuk terapi stroke infark saat ini adalah “take the clot.” Entah bagaimanapun caranya, apakah dengan menghancurkannya (trombolisis) atau dengan mengeluarkannya (trombektomi). Trombolisis bisa dilakukan pada < 4.5 jam dan pada large vessel occlusion (LVO), trombektomi dilakukan pada < 6 jam. Selebihnya, saat waktu tak memenuhi syarat, atau waktu tak bisa ditentukan (pada wake up stroke), trombolisis dan trombektomi hanya boleh dilakukan berdasarkan kriteria imejing, bukan lagi waktu.
Maka lihatlah studi DAWN serta DEFUSE-3 untuk trombektomi, mereka menggunakan kriteria imejing (diffusion/perfusion) untuk menentukan core dan penumbra, jika mismatch tak lagi ada, atau sangat minimal, maka tidak direkomendasikan melakukan trombektomi pada pasien tersebut. Namun, belakangan, beberapa neurolog baru menyadari, bahwa core yang secara konseptual adalah area infark yang severely hypo-perfused, kemungkinan irreversible, dan ini terlihat pada CT perfusi, ternyata bukanlah gambaran infark yang sesungguhnya. CT perfusi ternyata overestimate dalam menentukan infark. Akibatnya, sangat mungkin, banyak pasien yang selama ini tidak dilakukan terapi reperfusi, karena tidak adanya mismatch atau hanya ada mismatch minimal, seharusnya masih mendapat manfaat dari terapi reperfusi.
Singkatnya, gambaran mismatch dari studi CT perfusi bisa jadi tidak menggambarkan kondisi infark yang sebenarnya. Konsep ini dipopulerkan sebagai “the ghost infarct core.” Ternyata, infarct core yang gelap pada CT perfusi seolah “Gua Hantu,” dimana ukuran gua yang terlihat oleh mata bukanlah ukuran gua yang sebenarnya. Ukurannya yang besar dan gelap mungkin berbeda dengan aslinya, menakutkan untuk dimasuki dan menakutkan untuk dilakukan terapi reperfusi.
Inilah kemudian yang mendasari sebagian neurointervensionis mulai berpendapat bahwa untuk LVO langsung saja dilakukan trombektomi tanpa perlu CT perfusi, tapi aplikasinya masih menunggu konfirmasi studi berikutnya. Sehingga ada guyonan diantara mereka mengenai topik ini “CT perfusion or CT confusion?”
Saturday, 1 December 2018
Warung Kopi Neurologi
Di setiap sela pertemuan ilmiah Neurologi, mungkin bagian paling dinanti oleh para peserta adalah mojok di warung kopi. Ngopi informal dengan teman seangkatan, sesama alumni dan dengan para senior, membuat suasana cair, gayeng, dengan tawa lepas. Seolah oase, diantara penatnya tugas sehari-hari yang tak berkesudahan. Kopi tak perlu mahal ala tongkrongan anak muda di sudut mall berkelas, warung kopi tradisional makin mengenangkan susah-senang saat sekolah atau semasa kuliah. Suasana temaram malam, makin lama makin mengasyikkan. Ada banyak hal yang bisa diselesaikan di warung kopi. Hubungan beku dapat cair seketika. Masalah pelik dapat terurai sempurna. Dunia yang penuh persoalan seolah sirna sementara, lupakan saja, dan saat kembali, otak sudah dipenuhi dengan berbagai alternatif solusi.
Namun, warung kopi kita belakangan tampaknya sudah berubah. Warung kopi ramai di saat acara ilmiah masih berlangsung. Cukup datang registrasi saat awal acara, membuat janji dengan dengan teman-teman lama, pergi ngopi dan kembali diakhir sesi untuk menjemput sertifikat ber-SKP.
Mengapa bisa demikian ? teman saya bilang mulai jenuh dengan acara ilmiah neurologi….........lho ??? Katanya begini “ topik-topik yang ditampilkan banyak membahas produk farmasi, sudah sering disampaikan dan diulang-ulang lagi.” Beliau bilang “ saya mengalami neurological fatique,” lelah mengikuti acara ilmiah yang seperti itu. Saya menimpali,”bukankah topik dengan konten produk farmasi hanya sebagian saja dari presentasi ?” Teman saya menyahut ” Apakah tidak bisa panitia mendatangkan pakar dibidangnya, pembicara asing yang tajam dan qualified tanpa embel-embel farmasi, ataukah panitia tidak mampu mendatangkannya karena biaya ? acara ilmiah ini milik siapa ? milik kami yang yang membayar registrasi ataukah milik produk farmasi ?” Teman saya berbicara panjang soal topik ilmiah, dan contoh seminar di luar negeri.
Mendengarkan semua keluh-kesah teman saya ini, saya terdiam, saya mengerti, walaupun tidak semuanya dapat diterima. Penyelenggaraan acara ilmiah yang high cost, menuntut panitia bekerja keras mencari sponsor, dan tentu saja berkompromi dalam topik-topiknya. Di akhir diskusi teman saya berkata “ sebenarnya panitia bisa mendatangkan pembicara pakar luar negeri yang qualified dan tajam, seandainya tidak terlalu takut keuntungan dari kepanitian berkurang, bukankah kami telah membayar dari registrasi ?” Nah….yang terakhir ini saya tak lagi dapat berkomentar……..dalam hati saya berkata,” bukankah registrasi peserta sebagian besar juga mungkin dibayar oleh farmasi….?”Kita butuh acara ilmiah berkualitas, namun kita juga perlu support sponsorship, namun menuurut teman saya ini, sponsor adalah kendaraan saja, bukan tujuan penyelenggaraan acara ilmiah. Saya manggut-manggut saja, seolah mengerti.
Ah….memang warung kopi kita kini tak lagi sama…..barangkali kopinya haruslah nasgitel (panas, legi lan kenthel). Ayo ngopi….
Thursday, 29 November 2018
Do'a Sebelum Prosedur
Do'a adalah manifestasi rendah hati
Berdo'a berarti mengakui kebesaran Allah,
dan bahwa kita bukan apa-apa tanpa-Nya
Prosedur yang diawali dengan doa, jika sukses dan berhasil tak akan membuat kita sombong,
dan kegagalan tidak akan membuat putus asa.
Lakukan yang terbaik dengan tetap bersandar kepada-Nya.
Berdo'a berarti mengakui kebesaran Allah,
dan bahwa kita bukan apa-apa tanpa-Nya
Prosedur yang diawali dengan doa, jika sukses dan berhasil tak akan membuat kita sombong,
dan kegagalan tidak akan membuat putus asa.
Lakukan yang terbaik dengan tetap bersandar kepada-Nya.
Tuesday, 9 October 2018
Tato Singa Neurologi
Seorang pemuda gagah mendatangi seorang tukang Tato. Dia meminta agar dilukiskan tato biru bergambar seekor singa buas di punggungnya. Tato singa sangat cocok untuk dirinya agar tampak makin garang dan menantang.
Tatkala jarum tato mulai menusuk-nusuk punggungnya, dia mulai menjerit, dan berteriak pada tukang tato, “ Apa yang sedang kau lakukan?” Tukang tato menjawab “ Aku sedang melukis ekor singa.” Sang pemuda sambil meringis berkata “lukislah saja singa tanpa ekor.” Tukang tato melanjutkan pekerjaannya. Kembali sang pemuda berteriak kesakitan” Apalagi yang sedang kau kerjakan ?” Tukang tato menjawab” Aku sedang melukis telinga singa.” Sang pemuda berkata, lukislah saja singa tanpa telinga.” Tukang tato mulai kesal, namun masih melanjutkan pekerjaannya. Kembali sang pemuda berteriak, kali ini dengan teriakan paling keras “Apa lagi yang kau lakukan?” Tukang tato menjawab, aku sedang melukis taring singa.” Dan pemuda itu berkata, lukislah saja singa tanpa taring.” Akhirnya tukang tato berhenti melukis dan bekata “ Singa macam apa yang kau inginkan, Singa apakah jika ia tanpa ekor, tanpa telinga dan tanpa taring ?”
Kisah sang pemuda adalah kisah Neurologi saat ini. Evidence base dan guideline sangat terang dan menjanjikan tatalaksana paripurna berbagai penyakit neurologi, terutama stroke. Namun apa mau dikata, paket asuransi, fasilitas dan kondisi ekonomi memaksa dokter untuk memberikan tatalaksana apa adanya. Jadilah Neurologi kini, yang berlari cepat dalam evidence base dan guideline, dalam praktis klinis menjadi tak berdaya di Indonesia. Seperti gambaran tato singa pada punggung sang pemuda. Singa tanpa ekor, tanpa telinga dan tanpa taring. Entah makhluk apa ini namanya.
Saturday, 22 September 2018
Near Future Stroke Treatment : Menakutkan ataukah Memberi Harapan ?
Mengikuti perkembangan terapi stroke terkini, membuat kita tercengang dan menarik nafas dalam. Bagaimana tidak ? perkembangan ilmu ini bergerak sangat cepat, kemudian muncul guideline sebagai standar terapi baru. Tatkala standar terapi ini belum sepenuhnya diaplikasikan (di Indonesia), muncul trial atau wacana berikutnya yang potensial mengubah guideline tersebut .
Tengoklah saja pada stroke large vessel occlusion (LVO), menurut guideline terkini, apabila pasien datang < 4.5 jam, maka IV thrombolysis diberikan dan kemudian pasien dinaikkan cathlab untuk dilakukan trombektomi. Tatkala standar ini belum banyak dilakukan di Indonesia, muncul studi yang sedang berjalan (DIRECT-SAFE, MR CLEAN NO IV). Kedua studi ini merupakan RCT, membandingkan LVO dengan IV trombolisis plus trombektomi ataukah langsung saja dilakukan trombektomi. Hal ini didasari analisis beberapa studi yang menyatakan ternyata pada LVO, pemberian IV trombolisis memberikan potential disadvantages, misalnya low recanalization rates, hemorrhagic complications, delay to treatment with IAT, thrombus fragmentation dan neurotoxicity akibat alteplase itu sendiri. Studi ini, jika signifikan, sekali lagi akan mengubah dunia neurologi, dimana semua stroke dengan LVO < 4.5 jam langsung menuju cathlab untuk trombektomi tanpa perlu IV trombolisis dulu.
Isu berikutnya adalah, pada pasien dengan LVO dalam waktu 6-24 jam, dimana IV trombolisis tidak boleh diberikan lagi, standar terapi terbaru (sesuai DAWN/DEFUSE 3 Trial ) harus dilakukan CT/MR Perfusi untuk menilai core dan penumbra, jika memenuhi kriteria, maka pasien segera menuju cathlab untuk trombektomi. Saat ini, diskusi menarik sedang berkembang, CTP/MRP dianggap mengabiskan waktu (bukankah Time is Brain ?), semakin banyak imaging yang dilakukan, makin banyak neuron yang dikorbankan. Maka satu-satunya cara untuk memotongnya dengan CT scan dengan 3 fase, melihat ada tidaknya perdarahan dan melihat collateral, langsung mengirimkannya ke cathlab. Pemeriksaan klinis dan imejing dilakukan sesingkat mungkin.
Kemudian, soal kriteria trombektomi pada LVO. Mild stroke dengan LVO bukanlah kriteria trombektomi. Pasien LVO dengan mild stroke dikarenakan memiliki kolateral yang baik, subanalisa beberapa studi menyatakan bahwa trombektomi bermanfaat pada mild stroke. Sehingga semua LVO “seharusnya” dilakukan trombektomi juga.
Selanjutnya, dalam berbagai diskusi dikatakan bahwa trombektomi adalah prosedur mahal, ternyata dengan analisa ekonomi secara komprehensif dengan mempertimbangkan kerugian lama perawatan, fisioterapi dan produktivitas warga negera, trombektomi adalah super-cost-effective. Analisa ini bisa kita dapatkan pada publikasi-publikasi terbaru tentang aspek ekonomi trombektomi pada stroke.
Terakhir, namun paling mencengangkan adalah, tentang praktek yang sudah terjadi di luar negeri (Canada, Inggris dan mungkin beberepa negera lain), yaitu ditutupnya akses bagi rumah sakit-rumah sakit yang tidak mampu menangani pasien stroke pada fase akut, terutama trombektomi. Pasien dalam radius, dimana comprehensive stroke center dapat dicapai dalam waktu 30 menit - 1 jam dari lokasi, maka rumah sakit sekitarnya tidak diperkenankan menerima pasien stroke akut. Ini adalah perubahan besar dan sangat signifikan !!
Maka, bagi kita di Indonesia, tatkala mengikuti satu standar terbaru saja masih tertatih-tatih, sudah muncul potensi perubahan dalam waktu dekat, seolah tsunami yang menyerang. Lebih-lebih dikala sistem carut-marut asuransi BPJS yang tidak berkesudahan.
Jadi, bagi neurolog, adakah terapi stroke terbaru menjadi sesuatu yang menakutkan ataukah memberikan harapan ?
Sunday, 19 August 2018
Stemcell pada stroke, waktunya sudah dekat ?
IV thrombolysis menjadi standar terapi stroke iskemik dalam 4.5 jam, dan trombektomi menjadi primadona baru untuk large vessel occlusion. Sementara, neuroprotektan telah menjadi dongeng masa lalu yang mulai ditinggalkan. Pertanyaannya, mungkinkah ada terapi lain yang mampu memberikan benefit pada pasien stroke setelah itu ?
Pada 1 Agustus 2018, MASTERS-2, merupakan clinical trial fase 3, pemberian IV stemcell (multistem®), telah merekrut pasien pertama di Oregon US. Diberikan pada moderate to moderate-severe ischemic stroke, dengan target subyek penelitian 300 orang. Stemcell diberikan pada 18-36 jam setelah stroke, efektivitas akan dievaluasi dalam 3 bulan dan 12 bulan.
Peneltian sebelumnya, menyatakan bahwa pemberian intravenous stemcell aman tapi tidak memberikan manfaat pada stroke. Semua Neurolog tentu menunggu hasil riset ini dengan harap-harap cemas. Apabila hasil meyakinkan, maka tidak terlalu lama lagi, stemcell akan menjadi standar terapi pada pasien stroke,…kita tunggu saja…!
Thursday, 16 August 2018
Neurointervensi : Arti Merdeka...
Merdeka berarti...
Saat bisa prosedur tiap hari, tanpa ada batasan hari
Saat bisa datang, siang atau malam kala emergensi
Semua prosedur, kerjakan saja, tanpa pikir biaya lagi
Merdeka berarti...
Saat kau lihat aneurisma bagai kompeni
Sikat saja tanpa peduli, yang penting tanpa komplikasi
Saat kau lihat malformasi besar
Maju tak gentar tanpa gemetar
Tak ada yang antri, tak ada yang terlantar...
Merdeka berarti...
Saat bekerja sesuai indikasi, tanpa lupa kompetensi
Dengan tugas hanya dua saja
Menutup atau membuka pipa dalam kepala
Saat menutup, kau tahu kapan mulai kapan berhenti
Saat membuka, masih perlu kembali bertanya, apakah perlu dibuka ataukah dibiarkan saja...
Ada banyak prosedur neurointervensi..
Mulai stenting, coiling, embolisasi, angioplasti, sampai trombektomi...
Merdeka berarti...
Saat mampu bekerja sesuai guideline terkini
Tanpa restriksi, tanpa batasan asuransi...
Kami ini anak-anak negeri..
Terus bertekad untuk mengabdi..
Meskipun tiap hari mandi radiasi...
Dirgahayu Indonesia ke -73, 17 Agustus 2018
Saat bisa prosedur tiap hari, tanpa ada batasan hari
Saat bisa datang, siang atau malam kala emergensi
Semua prosedur, kerjakan saja, tanpa pikir biaya lagi
Merdeka berarti...
Saat kau lihat aneurisma bagai kompeni
Sikat saja tanpa peduli, yang penting tanpa komplikasi
Saat kau lihat malformasi besar
Maju tak gentar tanpa gemetar
Tak ada yang antri, tak ada yang terlantar...
Merdeka berarti...
Saat bekerja sesuai indikasi, tanpa lupa kompetensi
Dengan tugas hanya dua saja
Menutup atau membuka pipa dalam kepala
Saat menutup, kau tahu kapan mulai kapan berhenti
Saat membuka, masih perlu kembali bertanya, apakah perlu dibuka ataukah dibiarkan saja...
Ada banyak prosedur neurointervensi..
Mulai stenting, coiling, embolisasi, angioplasti, sampai trombektomi...
Merdeka berarti...
Saat mampu bekerja sesuai guideline terkini
Tanpa restriksi, tanpa batasan asuransi...
Kami ini anak-anak negeri..
Terus bertekad untuk mengabdi..
Meskipun tiap hari mandi radiasi...
Dirgahayu Indonesia ke -73, 17 Agustus 2018
Tuesday, 7 August 2018
Wajah-wajah Indah di pintu Sorga…..
Kutatap wajah beliau, kedua orangtuaku…..
Tetap tak berubah, air muka tenang, hangat, dengan selaut kedamaian
Garis wajah makin jelas terlihat, lukisan indah, bukti kerja dan doa yang tak pernah putus…
Garis itu terbentuk puluhan tahun, terlukis karena senyum, alunan indah kebahagiaan…
Garis itu terbentuk puluhan tahun, terlukis karena lelah, terpaan gelombang kesedihan…
Garis itu gambaran suka dan cita,
gambaran duka dan cinta…..
gambaran duka dan cinta…..
Kutatap wajah itu…, makin menua, makin perasa…..
Wajah yang padanya hanya terpancar cahaya berbagi dan memberi....
Wajah yang tak pernah menghiba, meminta cinta, kecuali pada Sang Pencipta
Gerakan yang mulai melemah tak membatasinya bertanya…..
bagaimana anak-anakku,….bahagiakah dia ?.....
Memori yang mulai pudar, ingatan tak lagi berpendar…..
Namun, masih ada yang tek lekang, dimanakah anak-anakku,…bahagiakah dia ?...
Hidupmu yang sepi sepanjang hari…
Tetap dapat membuatmu tersenyum karena memori….
Terkadang aku melihatmu tertawa sendiri…
Kau bercerita bagaimana bahagianya,
tatkala menyerahkan telunjukmu untuk kugapai,
saat aku mulai belajar berjalan….
tatkala menyerahkan telunjukmu untuk kugapai,
saat aku mulai belajar berjalan….
Kau bercerita bagaimana senangnya,
tatkala aku berhasil mengeja kata pertama,
yang kau ajarkan…..
tatkala aku berhasil mengeja kata pertama,
yang kau ajarkan…..
Aku bertanya,…..
Adakah hidupmu sepi wahai Ayah, wahai Ibu….?
Tatkala kami anak-anakmu sudah jarang menemanimu ?
Tatkala kami ditenggelamkan kehidupan dan sering melupakanmu ?
Beliau tersenyum dalam, dan hanya berkata lirih….
Bukankah nanti kita di alam kubur juga sendiri ?
Sepiku justru mengingatkanku,
bisa berdoa sepanjang waktu untukmu…
bisa berdoa sepanjang waktu untukmu…
Sepiku mendekatkanku padaNya…..
agar satu lagi pintaku padaNya bisa terwujud,
“Mengijinkan aku menunggumu di pintu Sorga, sebelum aku sendiri bisa memasukinya……….”
Friday, 27 April 2018
Kobe : Saat Aliran Dialihkan
Kulihat bagaimana pipa-pipa itu
dipasang,
Sampai berjajar-jajar
Bukanlah pipa biasa,
Pipa yang terpasang dalam kepala
Flow diverter, demikian mereka
menyebutnya
Untuk megalihkan, untuk mengarahkan
Hampir tak ada lagi yang susah
Hampir tak ada lagi yang resah
Dulu orang berdebat,
Aneurisma adalah soal dinding
Aneurisma adalah soal genetik
Aneurisma adalah soal jaringan ikat
Aneurisma adalah soal aliran darah
Pipa-pipa itu terpasang,
Terpasang berpasang-pasang
Aneurisma mengalami remodelling, berubah
bentuk
Mulanya besar, mulanya lebar
Mengkerut seiring waktu, berubah seiring
masa
Betapapun besar si aneurisma,
Akan regresi
Betapapun kecil cabang arteri
Terus tetap dalam patensi
Dalam kehidupah ini kawan,
Yang tak berguna akan regresi
Dimakan kebaikan orang sekitar
Yang bermanfaat akan bertahan,
Dipertahankan generasi ke generasi
Namun, jika yang tak berguna dibiarkan
Dan sumber masalah tetap diabaikan.....
Tatkala tak seorangpun mau mengalihkan
aliran
Ketika tak seorangpun mau membungkamkan
Maka ia akan terus tumbuh berkembang
Hanya ada dua pilihan....
Bertumbuh membesar
atau pecah tak karuan
Maka hanya bencana yang ada
Maka hanya luka yang tersisa
Di Kobe kami belajar,
Arah bencana ternyata bisa diubah
Masalah serius nyatanya bisa dicegah
Dengan hanya mengalihkan alirannya......
Kawan,
Peliharalah saja aliran kebaikan..
Maka aliran keburukan akan berkurang dan
terhenti
Kita akan menyaksikan,
Aliran kebaikan akan memakan keburukan
Sebagaimana api melahap kayu bakar...
Subscribe to:
Posts (Atom)






