Selamat Datang di Dunia Neurovaskular & Neurointervensi

idik

idik

Sunday, 26 November 2023

Stroke: membuka yang lama terbuntu, mungkinkah?

Saat pasien stroke infark hiperakut datang, neurolog merapal mantra. Hanya satu mantra saja, "open the clot!". Membuka yang baru saja terbuntu, dengan chemical (IV rTPA) maupun dengan mechanical (EVT). Hasilnya signifikan, dengan Number Needed to Treat (NNT) 4-5, jika IVT dilakukan dalam 90 menit, dan NNT 2.6, jika EVT dilakukan dalam 6 jam. Angka disabilitas dan mortalitas stroke turun drastis di beberapa negara yang memiliki pelayanan stroke mapan.

Bagaimana dengan pembuntuan pembuluh darah yang lama terjadi? dalam praktis klinis ini dikenal sebagai chronic total occlusion (CTO). Saat fellowship di India 12 tahun yang lalu, kita melihat bagaimana near total occlusion di segmen cervical carotis masih mungkin di buka apabila ada aliran ke intracranial walau selembut rambut, asalkan microwire masih bisa naik dan melewati vessel, balon dan stent bisa dikembangkan. Untuk CTO pada stroke, tidak terbayangan untuk membukanya kembali, karena kawatir akan terjadinya diseksi, dan cardiolog telah melakukan prosedur CTO ini sudah cukup lama.

Tahun 2020, kita terkesima saat studi di Beijing menunjukkan bahwa arteri vertebralis yang lama terbuntu feasible dan safe untuk dibuka, asal masih ada flow dari arteri vertebralis kontralateral (Gao F et.al, 2020). Pada Juni 2023 ini, kita kembali mendapatkan bukti meyakinkan dari meta analisis, bahwa membuka chonic cervical carotid occlusion memiliki angka kesuksesan cukup tinggi (74%), dengan angka komplikasi periprosedural hanya sebesar 2% (Ortega-Gutierrez S, 2023). 

Bagaimana tahun 2024? tentunya akan makin banyak evidence dan guideline baru yang hangat untuk didiskusikan. Pertemuan Ilmiah Nasional PERDOSNI dalam rumpun Neurovaskuler pada 30 Mei - 2 Juni 2024 akan diselenggarakan di Surabaya. Siapa tahu sudah ada kasus CTO yang bisa dipresentasikan dari Indonesia, karena biasanya, untuk kasus unik, "Practice precede the development of the guideline."  

Sunday, 12 November 2023

Cara Murah dan Sehat untuk Mencegah Stroke


Anak Buah Kapal Ronda Di Tepi Galangan


Aktif bergerak

Berat badan ideal

Kolesterol sesuai target

Rokok hentikan

Diet seimbang

Tekanan darah normal/teregulasi

Gula darah normal/teregulasi


Wednesday, 1 November 2023

Stroke, Mikro-aneurisma dan Tanam Paksa


Indonesia, tahun 1860, buah kopi memerah di pucuk-pucuk pohonnya. Pada tahun ini pula, novel Max Havelaar diterbitkan, menceritakan Lelang Kopi Perusahaan di Hindia Belanda. Penulisnya adalah Douwes Dekker, nama pena-nya Multatuli. Novel ini ditulis dalam waktu sebulan, di sebuah losmen di Belgia. Novel ini meledak, novel yang meceritakan bagaimana tanam paksa membuat rakyat Lebak, Banten, mengalami penderitaan.


Disekitar tahun yang sama, 1868, di Perancis, Charcot, seorang neurolog, bersama muridnya Bouchard, melakukan autopsi pada pasien dengan perdarahan spontan pada otak. Mereka menemukan bahwa perdarah disebabkan oleh gelembung kecil pada pembuluh darah yang memberikan vaskularisasi pada otak bagian dalam, kemudian dikenal dengan micro-aneurysma Charcot-Bouchard. Aneurisma dari cabang kecil pembuluh darah ini di deskripsikan melalui gambar, mirip biji kopi merah yang tumbuh di Lebak, Banten. 


Hari ini, 1 November 2023, di tengah panas kota Surabaya, gambaran aneurysma Charcot-Bouchard itu teridentifikasi dari 3D serebral angiografi di cathlab, pada pasien stroke perdarahan subcortical. 


Sejarah mengungkapkan, betapa rakyat Indonesia tertinggal jauh dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan akibat penjajahan.  


Tanam paksa di masa Belanda, kerja paksa (romusha) di masa Jepang, mengakibatkan melayangnya banyak nyawa. Namun, di masa kemerdekaan, banyaknya nyawa melayang bukan lagi karena penjajah, namun karena Stroke. Salah satu penyebab stroke adalah "biji kopi merah" di otak akibat hipertensi kronis. Stroke saat ini menjadi pembunuh pertama di Indonesia. Stroke menyebabkan kaum miskin menjadi makin miskin, membuat kaum kaya menjadi tak berdaya. Stroke sungguh adalah "penjajah" tak kasat mata, sekejam romusha dan tanam paksa. 

Sunday, 22 October 2023

Pengampuan Stroke: Cahaya di Balik Mendung

Diawali dengan paparan mencengangkan, tentang sebuah Rumah Sakit (RS) di Vietnam yang telah melakukan tatalaksana stroke hiperakut, trombolisis (IVT) dan trombektomi (EVT), dengan jumlah masing-masing lebih dari 1000 prosedur per tahun. Sementara, komulatif masing-masing prosedur tersebut di RS seluruh Jawa Timur, tidak melebihi 100 prosedur. Satu RS dibanding seluruh RS dalam satu provinsi. Maka berkunjunglah ke RS Vietnam, namanya People’s Hospital 115. Bangunan fisik, jumlah tempat tidur, fasilitas dan sumber daya manusia tidak banyak berbeda dengan Indonesia. Adakah yang salah dengan tatalaksana stroke di Indonesia? Pertanyaan besar ini menggelanyut di otak para peserta.

Tiga hari ini, 20-22 Oktober 2023, panas yang melanda Surabaya, tidak melemahkan semangat para partisipan. Mereka adalan dokter spesialis Neurologi, Bedah Saraf, Radiologi, Dokter IGD dan perawat dari 20 Rumah Sakit di Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan implementasi program Kemenkes, RS Pusat Otak Nasional dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya sebagai penyelenggara regional. 

Stroke yang merupakan penyebab kematian pertama di Indonesia dan sudah cukup lama terbengkalai. Masih adakah cahaya di balik menggulungnya awan? masih ada angin segar di balik tingginya gelombang?

Setahun terakhir berjalan cepat, program digulirkan. Klaim terpisah obat trombolisis (alteplase) di luar paket InaCBG diwujudkan. Stratifikasi RS menjadi dasar, madya dan utama menjadi titik tolak evaluasi. Target agar 20 RS peserta melakukan IVT setelah program ini berlangsung, ternyata cukup melegakan, dimana 50% RS telah melakukan IVT. Walaupun jumlah IVT masih sedikit, pertemuan 3 hari ini telah menjadi tempat bertukar informasi dan menambal semangat yang luntur termakan usia. 

Jika program pengampuan stroke ini berlangsung sukses, dalam beberapa waktu kedepan, hasil bisa disaksikan bersama. Program penambahan fasilitas (CT scan, Cathlab), pemberian beasiswa fellowship dan peningkatan klaim layanan, merupakan bentuk nyata bahwa pemerintah cukup serius untuk menurunkan angka kematian akibat stroke yang menduduki peringkat pertama Nasional. 

Dibanding Vietnam, Indonesia terlambat menyadari betapa besar beban stroke terhadap sumberdaya manusia dan ekonomi. Berapa banyak anak putus sekolah dan berapa banyak keluarga terlantar karena stroke. Masyarakat miskin, menjadi semakin miskin karena stroke. Masyarakat kaya, menjadi tak berdaya karena stroke. 

Menjadi Stroke Hero di tempat kita masing-masing bekerja, pasti akan memberikan dampak dan manfaat, apapun bentuknya. "Yesterday I was clever, so I wanted to change the world. Today I am wise, so I am changing myself (Jalaluddin Rumi)."

Wednesday, 11 October 2023

Nevi Dalam Tarian Sufi


Siapa menginginkan rembulan,
jangan menghindari gelap malam

Siapa menginginkan bunga mawar,
jangan takut duri

Siapa mengejar cinta,
jangan melarikan diri 


Mengunjungi Konya, mengunjungi kota cinta. Satu setengah jam dari Istanbul dengan pesawat. Kota dengan aroma masa lalu, ibu kota kesultanan Seljuk abad ke-13. Kota yang tenang, tak ada hiruk pikuk, hanya aroma spiritualitas yang segar. Tempat Maulana Jalaluddin Rumi bersama para sahabat, guru dan murid-muridnya dimakamkan. Ada Syams Tabrizi, ada Al-Qunawi. Memang jasad sang sufi telah terkubur, namun tidak dengan karya-karyanya yang melegenda. Ada berbentuk prosa puitis atau prosa liris, namanya kitab Mastnawi. Ada esai-esai menyentuh kalbu, namanya Fihi ma Fihi. Ada banyak naskah lain. Semua terpelihara, terawat, telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa utama dunia.


Konon, saat Rumi didera kesedihan, setelah ditinggalkan oleh gurunya, Syams Tabrizi, dia berjalan ke pasar, mengunjungi muridnya, seorang pandai besi, sholahuddin. Saat kesedihannya memuncak, dia mendengar dentingan yang mengalun dari si pandai besi, menciptakan sebuah nada. Tubuh Rumi bergerak, hatinya berdzikir dipenuhi rasa duka dan cinta.

 

The Sufi whirling dervishes demikian tarian sufi ini kemudian dikenal. Tangan kanan menengadah keatas,tangan kiri telungkup ke bawah. Tengadah tangan kanan menerima hidayah, cahaya dan ilmu Tuhan, memasukkannya dalam sanubari. Telungkup tangan kiri berarti membagikan dan menyebarkan kembali kepada semua makhluk . 

 

Gerakan berputar, melawan arah jarum jam, melawan arus, sebuah putaran bermakna spiritual. Putaran yang berbeda dengan putaran roda dunia, melawan putaran nafsu aktivitas manusia, menyelisihi putaran pencari kenikmatan semata, bukan putaran runitas yang fana.  Putaran ini seperti putaran baut yang melepaskan diri dari mur. Putaran ini putaran kerinduan pada Tuhan, melepaskan diri dari cinta akan kebendaan. 

 

Penutup kepala yang tinggi menggambarkan batu nisan, menyadarkan manusia, kehidupan akan berakhir di sana.

 

Nevi mendapat dan menerima ilmu. Bukan untuk berhenti pada diri sendiri, kemudian mendekapnya. Namun menyebarkannya, memberikan manfaat pada sesama. 

 

Nevi berpikir dan bertindak melawan arus, berpikir alternatif, berpikir solutif.

 

Nevi bekerja tidak untuk hari ini, menanam benih kebaikan, untuk di panen pada kehidupan di akhir nanti.

Wednesday, 20 September 2023

Pulang


Di tengah penat hati

Kala lelah nurani

Hanya pulang

Obat hati yang gersang

 

Tatkala ada Ayah Bunda

Pulang dalam dekapnya

Menyirna gulana

 

Dunia tempat suka, menguntai tawa

Tempat pula penuh menghiba

Yang mengira baka, sungguh ia fana

 

Pencipta memanggil lembut

Ada insan enggan menyambut 

Pada hati gabut berkabut

 

Ada yang bahagia menunggu,

Yang merindu-Nya

Yang selalu memanggil-Nya,

Panggilan di pagi buta,

Wahai Yang Menghilangkan segala derita

Wahai Yang Menyelamatkan yang binasa

Engkaulah sebenar tujuan

Engkaulah sebenar sandaran

Thursday, 31 August 2023

Neurovaskuler: Menyaksikan Tak Hanya Meyakini

Sebelum era vascular imaging, neurolog memberikan terapi pada pasien stroke, sebagian besar hanya berdasarkan guideline yang ada dan keyakinan saja. Sifat dari guideline adalah panduan umum. Tidak berlaku untuk semua pasien. Disclaimer ini ada dan bisa di baca pada setiap guideline itu sendiri.

 

Neurolog memberikan terapi nimodipin pada SAH, hanya berdasar keyakinan adanya potensi terjadinya vasospasme, padahal mereka tidak melihat ada atau tidaknya vasospasme. Ada banyak pasien SAH tidak mengalami vasospasme saat dilakukan serebral angiografi (DSA), apalagi jika tipe SAH hanya sulcal dan perimesenchephalic. Neurolog menduga terjadi oklusi pada pembuluh darah kecil hanya karena nilai NIHSS yang rendah, padahal saat dilakukan DSA, oklusi terjadi pada pembuluh darah besar dan berpotensi makin memburuk dalam beberapa jam kedepan. Adanya kolateral yang bagus, memungkinkan pasien tersebut memiliki gejala klinis minimal. Pada saat didapatkan pasien kejang dengan gambaran CT-CTA/MRI-MRA tampak adanya malformasi arterivena. DSA menunjukkan dengan detail kelainan pembuluh darah sesungguhnya apakah AVM, Dural Fistula ataukan Proliferative Angiopathy, dan ini berpengaruh pada strategi terapi.

 

Maka, seorang Neurolog dalam melakukan tatalaksana pasien seharusnya tidak hanya meyakini, namun menyaksikan. Menyaksikan berarti melakukan diagnosa secara presisi dan melakukan tatalaksana secara tepat. 

 

Ada banyak pertanyaan yang muncul saat menyaksikan imejing vaskuler secara langsung. Apakah pasien dengan infark pada subcortical akibat oklusi perforator masih harus mengikuti guideline yang menyatakan bahwa tekanan darah sistolik diturunkan pada stroke infark jika >220 mmhg? Bukankan ini hanya bermanfaat untuk oklusi pada pembuluh darah besar atau pial vessel yang memerlukan aliran darah yang lebih panjang melalui kolateral? Bukankan penyebab oklusi perforator akibat tekanan darah, dan akan berisiko stroke ulang jika target tekanan darah terlalu tinggi? 

 

Pertanyaan yang lain misalnya, apakah tekanan darah pada SAH akibat aneurisma dipertahankan pada 140-160 mmhg? suatu target tekanan darah yang dimaksudkan agar aneurisma tidak ruptur lagi, tapi dengan mempertahankan perfusi serebral tetap adekuat jika ada vasospasme. Apakah mungkin tekanan darah diregulasi lebih rendah saat menemukan morfologi aneurisma rentan mengalami ruptur, sedang DSA tidak di dapatkan vasospasme. Dokter yang menyaksikan, akan konfiden memberikan advis terapi. Menyaksikan sungguh berbeda dengan hanya meyakini. 

 

Maka, inilah yang dimaksudkan dalam kuplet syair lagu Derap Neurointervensi;

 

Menyaksikan Tak Hanya Meyakini

Berpijak Ilmu Menjadi Ahli

Mulya Kala Khidmah Sepenuh Hati

Jadi Cahaya Negeri

Neurointervensi dan Buih Lautan

"Neurolog yang menjadi Nevi seperti menghampiri laut. Jangan puas hanya mendapat sebotol air. Ada mutiara dan ribuan benda berharga belum terjamah. Atribut Nevi adalah buih lautan. Jangan terkecoh buih indah yang digerakkan ombak. Teruslah menyelam, dan temukan hakekat keindahan sesungguhnya."

Saturday, 26 August 2023

Gili Nanggu

Serpihan Surga

Angin lirih semilir
Dzikir pasir berdesir
Biru teduh menghempas
Dari orkestra serpihan surga

Bisik sunyi ikan dan karang
Tepian pantai batasan laut
Rasai saja, nikmati saja
Indahnya Gili tiada terperi....

Wednesday, 23 August 2023

Saya Hanyalah, Bukan Saya adalah Nevi



Saat memasuki cathlab. Pasien terbaring, prosedur siap dilakukan. Seorang Nevi sering menyangka prosedur akan berlangsung cepat. Ah, hanya diagnostik saja, hanya simple aneurisma saja, hanya single nidus BAVM saja....... Namun, beberapa kali terjadi, prosedur menjadi panjang, baik karena sulitnya anatomi maupun karena komplikasi prosedur. Apa yang tampak mudah menjadi kompleks. Pada sisi lain, ada banyak prosedur yang tampak sulit dan butuh waktu panjang, berlangsung lancar. 

 

Ternyata, bahkan Nevi dengan jam terbang tinggi, akan mengalami hal tersebut. Artinya seorang Nevi hanyalah seorang yang menjalankan prosedur berdasarkan keilmuan, sedangkan hasil akhir prosedur di luar kuasanya sendiri. Pernyataan "Saya hanyalah Nevi" akan membuat rendah hati dan berhati-hati. Hal tersebut akan membuat Nevi selalu berdoa, bukan hanya pada setiap awal prosedur, bahkan pada setiap injeksi kontras yang dilakukan. Tetapi, saat Nevi mulai menyatakan diri bahwa "Saya adalah Nevi," "Kesuksesan prosedur adalah karena saya," maka dari sanalah problem bermula. Problem yang berkaitan dengan prosedur, maupun problem yang berkaitan dengan interaksi sosial. 

 

Ada seorang Nevi yang sangat menikmati setiap injeksi kontras di cathlab. Setiap injeksi yang dia lakukan, disertai dengan doa dan dzikir. Doa, yang dimana biji tasbih tak perlu diputar. Doa, yang dimana sajadah tak perlu dibentangkan. Doa melambangkan kelemahan dan kekurangan seorang Nevi. Harapannya, prosedur lancar tanpa komplikasi. Atau, jikapun ada komplikasi, merupakan komplikasi yang ringan dan reversibel. 

 

Seorang Nevi menggunakan apron saat prosedur, seperti seorang tentara yang menggunakan baju besi (armor). Baju besi seorang prajurit melindungi dari semua senjata musuh dihadapannya. Bagi seorang Nevi, apron juga merupakan "baju besi," yang melindunginya dari radiasi. Lebih dari itu, apron harus menyadarkan dirinya, ada yang lebih berbahaya dari radiasi, yaitu nafsunya sendiri. Nafsu yang menyebabkan dirinya membusungkan dada dan menyatakan "Saya adalah Nevi," yang meyakini "the success of the procedures are in my hand."

 

Maka, ada Doa yang selalu dipanjatkan oleh seorang Nevi. Kuplet Doa ini diambil dari kumpulan doa yang termasyhur bernama "The Great Armor" (Jausyan Kabir):

 

Wahai Yang segala sesuatu tunduk dalam keagungan-Nya,

Wahai Yang segala sesuatu pasrah dalam kekuasaan-Nya, 

Wahai Yang segala sesuatu takluk dalam keperkasaan-Nya, 

Wahai Yang segala sesuatu merendah dalam kehebatan-Nya, 

 

Wahai Yang semua langit tegak dengan perintah-Nya, 

Wahai Yang semua bumi terhampar dengan izin-Nya, 

Wahai Yang petir bertasbih dengan puji- pujian-Nya, 

Wahai Yang tidak menzalimi penghuni kerajaan-Nya 

 

Maha Suci Engkau wahai Yang tidak ada Tuhan selain Engkau, 

Berikanlah keamanan.....

Berikanlah keamanan.....

Bebaskan kami dari api neraka

Saturday, 12 August 2023

Harga (Scientific Meeting) Neurologi

Agustus 2016, memasuki University Hospital Zurich, mengikuti worksop legendaris, the 24th Zurich Course Interventional Neuroradiology. Acara berlangsung 5 hari, registration fee 800 Euro. Acara bukan di hotel. Acara di Aula Rumah Sakit, makan siang setangkup sandwich dan sebungkus sayuran. Coffee break dengan kue kering dan buah apel/peer utuh. Peserta dari semua benua. Acara berlangsung menarik, interaktif dan inspiratif. Acara bebas dari bias sponsor. Fee registrasi yang mahal, tergantikan oleh konten ilmiah berkualitas. Course Director adalah mendiang Prof. Anton Valavanis. Semua mengatakan course ini excellent, tak ada seorangpun mengeluh soal fee registrasi. Sebagian besar ingin kembali datang Zurich course tahun berikutnya. Namun sayang, itu adalah Zurich Course terakhir.

 

Di Indonesia, acara ilmiah yang dianggap mahal, sering menjadi perbincangan anggota PERDOSNI. Mengapa mereka menganggap mahal fee registrasi? Apakah karena konten ilmiahnya kurang berkualitas, sehingga membayar mahal menjadi kerugian? Ataukah karena panitia terkesan terlalu banyak menghitung profit, sehingga fee registrasi dianggap kurang wajar? Atau seharusnya tempat cukup di universitas atau rumah sakit saja, lunch dan coffee break ala kadarnya, sehingga biaya bisa ditekan? Tentu saja, masukan anggota amat penting, perlu menjadi bahan evaluasi panitia.

 

PERDOSNI pasca PERDOSSI, setidaknya perlu membuat formula. Bagi kita yang sering menjadi panitia acara ilmiah akan mengerti. Bagi kita sering ikut acara ilmiah di luar negeri juga akan memahami. Membuat acara ilmiah berkualitas berbiaya murah, lebih mudah disampaikan daripada dikerjakan, tapi bukan berarti tidak mungkin.

 

Rasanya, perlu juga ada evaluasi diri untuk para peserta. Ada banyak peserta pertemuan ilmiah yang sangat tekun mengikuti sesi per sesi presentasi, namun sebagian peserta hanya mengikuti beberapa sesi acara saja, sisanya memiliki agenda pribadi. Apakah memang topik ilmiah tidak menarik dan hanya itu-itu saja, diulang-ulang, terutama sesi bersponsor? Ataukah pembicara dan pemateri yang dianggap kurang expert? Atau mereka tidak merasa rugi membayar mahal, karena tidak membayar sendiri? Di akhir acara, banyak yang berharap mendapat materi dari para pembicara, meskipun mungkin pada akhirnya dilupakan dan tidak terbaca. 

 

Seperti apa seharusnya acara ilmiah neurologi dilangsungkan? Acara ilmiah seperti apa yang dirasa paling memberi manfaat? Dari sisi manakah perubahan akan dimulai, penyelenggara atau peserta? Pada saat adanya perubahan "sosiopolitik," ada banyak ruang untuk berpendapat, termasuk pendapat tidak perlu lagi adanya kewajiban mengikuti kongres, mukernas atau PIN hanya untuk memenuhi SKP.  Silahkan berpendapat, siapa tahu akan menjadi masukan berharga untuk pengurus PERDOSNI baru yang akan dilantik 😆 😍.

Monday, 31 July 2023

Kontemplasi: Merayakan Kongres

Setapak lagi, kongres PERDOSSI Semarang 2023 dimulai. Selanjutnya akan bernama PERDOSNI. Website sudah mendahului berganti nama. Saraf menjadi Neurologi. Lambang juga akan berganti. Konon, istilah Kelompok Studi (Pokdi) akan menjadi Kelompok Kerja (Pokja), dari sekedar study group menjadi working group. Dari kumpulan ilmuwan dan akademisi neurologi, menjadi kumpulan cendekiawan neurologi. Dari sekedar memberi manfaat pada organisasi menjadi pemberi manfaat untuk masyarakat luas.

 

Kogres adalah acara organisasi, forum kontemplasi nasional, tempat menata diri lebih baik. Pemilihan ketua, untuk kolegium dan perhimpunan, sekalipun tampak sebagai kompetisi, substansinya adalah kolaborasi. 

 

Kontemplasi maknanya merenung, berhenti sejenak, bertafakkur. Kontemplasi bisa dimulai dari perubahan angin 'sosiopolitik' nasional, bisa juga dari masukan dan keluhan anggota dari pelosok negeri. Perhimpunan adalah perekat, bukan penyekat. Perhimpunan untuk menyatukan, bukan memisahkan. Perhimpunan adalah tempat mewujudkan mimpi dan cita-cita mulya neurologi, bukan mimpi dan kemulyaan regional apalagi sektoral. 

 

Perdosni, Pokja dan istilah baru apapun yang akan muncul dalam kongres ini, harus menjadi lompatan dan ledakan besar, bukan sekedar pembagian jenang abang (bubur merah) karena berganti nama. Ledakan yang membangunkan, bukan menghancurkan. Ledakan yang mengingatkan, bukan melenakan. 

 

Kongres adalah potret neurologi. Adakah potret kita indah atu buram. Kongres boleh besar, boleh meriah. Apresiasi diberikan pada untaian keberhasilan. Tapi dalam kongrespun boleh ada kritik, ada saran, pemikiran tajam, dan sampai protes keras yang konstruktif. Mana yang lebih kita pilih, "Potret diri kita yang indah tapi menipu, ataukah hantaman keras tapi menyadarkan?"

 

Selamat berkongres, sampai jumpa di Semarang, insyaAllah.

(Perdossi Surabaya, 31 Juli 2023).

Monday, 24 April 2023

Wahai Nevi: Pergilah, Temukan Dirimu Sendiri


Suatu waktu, seorang neurolog muda begitu terobsesi menjadi seorang neurointervensionis (Nevi). Hal ini muncul setelah ia menyaksikan seorang pakar, guru dari banyak Nevi di Indonesia. Dia terkesima dengan kasus-kasus yang dipresentasikan dan prosedur yang berhasil dikerjakan. Maka menjadi neurointervensi merupakan cita-cita hidupnya. 

 

Syahdan, tercapailah keinginannya, menjadi fellow dan menyelesaikan fellowship selama setahun. Jadilah dia seorang Nevi. Kemudian dia bekerja di suatu rumah sakit dan melakukan prosedur dengan kasus berlimpah. Dia mendapat banyak benefit dari prosedur-prosedurnya.  Prosedur dia lakukan siang-malam dengan kerja keras.  Kemudian para sejawat melihatnya sebagai seorang Nevi yang hebat. 

 

Sang Nevi merasa, apa yang telah diraihnya, yang tampak hebat dan keren, seperti biasa saja. Dulu, tatkala melihat Nevi dengan banyak prosedur, dia begitu terkesima dan kagum. Tatkala hal tersebut terjadi pada dirinya sendiri, sekali lagi, terasa biasa saja. 

 

Maka demikianlah kehidupan. Semua keinginan, cita-cita, harapan dan impian, tatkala sudah tercapai, yang dulu seolah hebat, menjadi biasa saja. Kemudian, muncullah keinginan-keinginan baru sebagai tujuan hidup. Dan demikianlah terjadi berulang-ulang.

 

Kehidupan yang seolah bertujuan, mengejar mimpi dan harapan, hakekatnya adalah kehidupan yang TIDAK bertujuan. Hal demikian, apabila tidak diberikan makna, adalah perputaran kehidupan yang hampa. Seperti matahari yang terbit pagi hari dan kemudian tenggelam sore hari, lalu esok pagi terbit lagi. Seperti manusia yang terlahir, dewasa, tua, meninggal, lalu muncul generasi manusia baru dengan putaran yang sama. 

 

Maka, bukankah sia-sia menjadikan Nevi sebagai tujuan. Apalagi menjadikan Nevi hanya SEKEDAR untuk menaikkan status sosial, sumber mata pencaharian, atau berbangga-bangga diri di media sosial. Betapa sepele, profan dan fana seorang Nevi. 

 

Seorang manusia dan jika ia seorang Nevi, perlu memiliki tujuan hakiki, bukan tujuan semu. Tujuan semu dapat dilihat dari narasi diatas, yakni tatkala tujuan yang dianggap besar, saat tercapai menjadi seolah biasa saja. Jika Nevi adalah tujuan utama, lalu kemana para pakar Nevi sebelumnya? Kemanakah Lasjaunias, kemanakah Luc Picard atau kemanakah Valavanis setelah memasuki masa pensiun? Anda bisa berkata, bukankah mereka tercatat dalam tinta sejarah? Jika tinta sejarah adalah tujuan? Sampai kapankah ia bertahan?

 

Maka cobalah pergi. Pergilah kemanapun. Pergilah dari kehidupan keseharianmu yang seolah-olah itulah dirimu. Pergilah dari rumah manusia-mu. Pergilah ketempat asing tatkala orang melihatmu sebagai manusia saja. Di Kota-mu, engkau mungkin adalah dokter, engkau adalah supervisor hebat, engkau adalah Nevi. Gelar dan status sosialmu telah membatasi dirimu sendiri. Engkau mungkin marah tatkala ada seorang satpam, cleaning service atau perawat di rumah sakit tidak memberikan penghormatan yang kau anggap "selayaknya." Padahal mereka memperlakukanmu sebagaimana mereka memperlakukan manusia lain. Pergilah ketempat jauh, yang engkau bisa menanggalkan "pakaian" ke-Akuan-mu, pergi dari rumah manusia-mu, menuju rumah Tuhan. 


Tatkala berada di rumah Tuhan, engkau menjadi orang asing, tak seorangpun mengenalimu, maka nilai dirimu hanya antara engkau dan Tuhan. Kala dirimu menjadi asing, tak ada yang mengenalmu, tak ada yang membutuhkanmu, tak akan ada yang menyanjungmu. Hanya ada satu tujuan-mu, kasih sayang Tuhan. Adakah hidup sepanjang usia-mu kini menjadikanmu berhak dan pantas mendapat kasih-sayang Tuhan, ataukah tujuan hidup hanya untuk membesarkan egomu, memuaskan nafsumu, meninggikan status sosialmu, yang tatkala engkau mati tak tersisa kecuali cerita dari keluarga dan teman-temanmu, dan selesailah sampai disitu?

 

Wahai para Nevi, pergilah dari rumah manusia-mu, ke rumah Tuhan yang abadi. Saat Tuhan menjadi tujuan, dirimu akan dipenuhi rasa malu. Malu saat merasa pintar, merasa besar, merasa memiliki kedudukan. Karena kau menyadari sepenuhnya,  itu hanyalah "pakaian," yang tatkala tanggal, maka tiadalah semua, yang tampak hanya wajah manusia-mu sebenarnya, adakah wajah yang bercahaya atau wajah yang bermuram durja.


Menjadi Nevi bukan tujuan, menjadi Nevi adalah wasilah (sarana) untuk menggapai tujuan utama yang abadi.

Monday, 20 February 2023

Sunyi Kala Prosedur

Para fellow alumni Delhi, kala mengikuti prosedur neurointervensi tentu akan mengingat momen, tatkala prosedur dimulai, disitulah datang sepi.

Tak ada kata yang terucap, tak ada bunyi yang terdengar kecuali bunyi detik mesin anastesi. Operator mulai bekerja, asisten mengikuti bahasa tanpa kata. Sesekali terdengar bunyi sobekan kemasan saat device di buka. Tak ada sapa, tak ada suara, tak ada kata terucap.

Saat tindakan intervensi hendak dimulai, lampu dimatikan dan gelap menghampiri, semua mata fokus pada monitor mesin angiografi. Perlahan tampak glue merayap senyap atau coil diinsersi.

Fellow yang baru tiba pasti bertanya- tanya. "Mengapa sepi? Mengapa gelap dan sunyi?". Tak ada yang bisa menjawab mengapa. Karena begitulah konon prosedur di Zurich dulu terlaksana.

Namun teman saya punya jawabannya, kata dia,"Dalam kota cinta, tiada guna bahasa, tak perlu kata-kata, karena keindahan cinta ada dalam diam dan rasa."❤

Thursday, 12 January 2023

NEUROINTERVENTION
















At first, the goal is to climb and climb
It's not easy to step foot together
Steel determination for the motherland
Build neurointervention

The wind blows, and the waves crash
Even though it keeps coming
Do not erode the spirit of the country's children
Steadfast rise to filial piety

Witnessing is not just believing.
Based on knowledge to become an expert
Noble, when devoted wholeheartedly
Be the light of the land
Long live the neurointervention

Surabaya, Monday, July 27, 2020

Wednesday, 4 January 2023

Sebening Ibu


 

Friday, 30 December 2022

Bukan Lagi Puisi

Sepagi ini, 
Jiwa menggelora puisi
Namun mengapa tiada kata

Betapa kuat meluap asa,
Tetap bahasa tiada rasa

Sendu fajar subuh hari 
Sungguh berlebur rasa syukur
Saat hamparan semesta
Sujud tak bertara

Mengapa ? 
Lagi-lagi puisi
Dalamnya tak menyentuh hati

Ada puja puji tak tersampaikan
Ada cinta tak terungkapkan
Dalam diam, redam hati resapkan

Bukan kata,
Tapi rasa
Hanya mahabbah di sini
Bukan basa basi puisi

SBY-JKT, 31 Des 2022.

Tuesday, 27 December 2022

Area Neurologi yang "Terabaikan"

Neurologi berkembang sedemikian rupa dan sedemikian cepat. Namun, ditengah banyaknya diferensiasi ilmu tersebut, ada yang kurang medapat perhatian. Area ini berisi pasien-pasien yang "sangat menderita." Sebut saja cerita seorang pasien denga stroke batang otak dan mengalami hiccup berkepanjangan. Atau seorang pasien dengan retensi/inkontinensia urine sepanjang hidup akibat lesi spinal. Ada banyak kasus lain semacam disfagia menetap dengan sonde, spastisitas berat keempat ekstrimitas yang menyakitkan, malignancy neoplasma serebri tanpa harapan, dan banyak gejala dan penyakit neurologi yang seolah tak memiliki jalan keluar. Ada banyak diantara mereka meningggal karena infeksi atau kekurangan nutrisi setelah mengalami rasa sakit tak bertepian.  Kondisi-kondisi tersebut memerlukan perawatan paliatif yang spesial dan unik karena melibatkan sistem saraf.

Palliative bermakna "the value of holistic support for persons facing death from advanced disease." Kondisi ini perlu kepedulian lebih, karena bukan hanya berhubungan dengan kondisi fisik, namun juga emosional dan spiritual. Mereka mengalami penderitaan berkepanjangan termasuk anggota keluarganya. Ada kecemasan hebat selain beban perawatan yang besar.

Saat neurolog menghadapi pasien-pasien ini, mereka tidak memiliki waktu yang banyak. Pasien demikian perlu pemeriksaan seksama dan komprehensif. Padahal mungkin merekalah yang sangat memerlukan perhatian lebih. Neurolog seringkali tak tahu apa yang harus diperbuat. Advis yang diberikan seringkali normatif, harus begini dan harus begitu, terkadang malah membingungkan keluarga pasien. Sampai suatu waktu pasien dan keluarga pasrah menerima "takdir."

Ada yang mungkin lupa tidak diajarkan saat residensi ditengah maraknya konsep curative neurology, yaitu palliative neurology. Ilmu ini rasanya perlu ditumbuhkan, diasah dan diperdalam di senter-senter pendidikan. Palliative Neurology memerlukan ruang khusus dalam residensi, tidak lagi sekedar dibahas sepintas dalam tiap komponen penyakit. Ada hal-hal spesifik yang tidak diketahui jika area ini tidak ditekuni secara khusus. Sekedar contoh adalah adanya pasien lesi batang otak dengan hiccup berkepanjangan, tidak membaik denga obat-obatan standar semacam clorpromazin, haloperidol atau baclofen. Atau pasien disfagia dengan drooling, saliva yang terus menerus keluar karena tak bisa tertelan dan pasien dengan sweating (hiperhidrosis) akibat disautonomia. Adanya pasien dengan advances neurological conditions, maka neurolog perlu mempersiapkan supporting phase, transision phase dan terminal phase

Ditengah tumpang-tindih area kompetensi yang ramai diperebutkan, palliative neurology adalah area yang perlu ditekuni dan diperdalam. Seandainya bukan semata-mata soal kompetensi, maka urgensinya adalah memenuhi kebutuhan dan keputus-asaan pasien dan keluarga. Akhirnya, mungkin perlu direnungkan perkataan seorang  neurolog P.G.McManis (sebelum kematiannya akibat oesophagela cancer),  "One thing I have learned is that the best thing that anyone can do for the dying individual is to show that you care . As neurologists ... we are obviously providing a lot of comfort for our patients just by seeing and talking to them, even in hopeless cases." 

Saturday, 17 December 2022

Intervensionis (INT): Mendefinisikan Tujuan


Seorang intervensionist, sebut saja INT (Neuro, NS, Radiologi) adalah seorang musafir. Menempuh jalan dan arah. INT adalah variable bebas, dia menuju variable tergantung yang merupakan tujuan akhir, dan melalui beberapa variable antara. Apabila seorang INT melakukan prosedur dengan tujuan akhir agar memiliki banyak pasien, maka kita bisa melihat aktivitasnya dari jenis variable antaranya. Demikian pula apabila seorang INT bertujuan akhir mengembangkan keilmuan neurointervensi, maka bisa dilihat pula jenis variabel antaranya. Variabel antara bisa merupakan gabungan dari banyak variabel, namun variable dominan memiliki efek paling signifikan dalam mewujudkan variabel tergantung. 

 

Seorang INT yang memiliki tujuan akhir “memiliki banyak pasien,” akan melakukan aktivitas dengan variabel antara berupa: aktif berpraktek di beberapa rumah sakit, membentuk jejaring dengan dokter lain, “publikasi personal” melalui media sosial, atau melakukan investasi agar pasien tertarik datang. Asalkan semuanya dilakukan secara etis, hal itu tentu boleh dilakukan.

 

Dalam atmosfer pelayan INT di Indonesia, investasi berupa klaim keilmuan mungkin bisa merupakan bentuk variabel antara. Meskipun bisa jadi klaim tersebut bertentangan dengan kaidah keilmuan atau guideline. Variabel antara yang berupa testimoni cukup marak terjadi di Indonesia, meskipun banyak diantara mereka memiliki kaidah ilmiah yang miskin. 

 

Seorang INT yang memiliki tujuan akhir mengembangkan keilmuan, akan melakukan banyak aktivitas seperti koleksi kasus, laporan kasus, menulis buku, membuat acara-acara ilmiah, bahkan membuat senter agar banyak INT yang bisa belajar dan melakukan prosedur. Seorang INT yang demikian, malahan bisa jadi memiliki banyak pasien dan juga berpraktik di banyak rumah sakit. Memiliki banyak pasien mungkin bagi sebagian INT menjadi tujuan akhir, namun bagi INT tertentu merupakan tujuan antara.

 

Variabel tergantung yang merupakan variabel akhir, bisa berubah, bisa didefinisikan kembali di dada masing-masing INT. Adanya prosedur yang di luar indikasi, adanya pasien yang mengeluhkan biaya selangit pada prosedur standar, adanya kegiatan-kegiatan tidak etis, adanya pelanggaran norma dan hubungan kesejawatan, seringkali berhubungan dengan variabel tergantung ini. 

 

Variabel tergantung ini perlu terus didefinisikan ulang. Adanya tujuan akhir yang selaras dengan tujuan kehidupan abadi (husnul khatimah), tentu merupakan cita-cita semua INT yang memiliki iman dan kecintaan kepada Tuhan-nya. Mungkin syair lagu Bimbo ini bisa membantu meredefinisi variabel tergantung, "Yang mencari akhirat mendapat akhirat dan dunia, yang mencari dunia hanya mendapat dunia."

Wednesday, 14 December 2022

Akademisi dan Publikasi: Dulu dan Sekarang

Berjalan di lorong-lorong sekitar Mezquita Cordoba, serasa kembali ke masa lampau. Seolah terdengar lirih alunan bait-bait syair kitab Alfiyah Ibnu Malik. Alfiyah adalah kitab legendaris pesantren tentang tata bahasa arab berlagu 1000 syair, ditulis 1274 M. Mezquita tampak berwarna klasik, kuno dengan aroma masa lalu yang sangat terasa. Ada banyak ilmuwan dan ulama masa itu. Mereka lahir dan menulis karyanya. Bagaimana mungkin kitab yang berasal dari masa lampau itu masih bertahan hingga sekarang? masih di kaji dan didendangkan. 

 

Dari belahan bumi lain, Damaskus, Syiria. Seorang santri dari Indonesia tampak berdoa di zawiyah sisi barat Masjid Umawi. Doa itu dia panjatkan setelah selesai mengkaji kitab legendaris yang juga dikaji diberbagai pesanten di Indonesia, Ihya' Ulumuddin (sekitar 1097 M). Dia mengirimkan doa kepada Al-Ghazali sang penulis. Al-Ghazali menulis puluhan kitab yang sampai saat ini menjadi rujukan dan bahan ajar di pesantren. Selain Ihya' ulumuddin, kitab Bidayatul Hidayah dan Minhajul Abidin merupakan kita pegangan bagi santri-santri di penjuru nusantara, mengkaji tentang akhlaq dan penyucian jiwa. Bagi yang hanya membaca, namun belum pernah berguru dalam mengkajinya, akan merasakan nikmat dan sensasi yang berbeda, tatkala menyelami kata perkata kalimatnya. Bagaimana mungkin, kitab tersebut bisa bertahan demikian lama dan masih memberikan manfaat sampai saat ini ?

 

Ribuan lagi kitab di perpustakaan pesantren, atau saat ini tersimpan dalam file-file komputer dalam bentuk e-book atau maktabah syamilah, berasal dari ratusan tahun lalu dan masih bertahan. Mengapa bisa demikian? Adakah buku-buku, penelitian, ilmu pengetahuan yang saat ini di kaji dan diproduksi oleh akademisi kontemporer, akan mampu bertahan seperti kitab-kitab tersebut? 

 

Mungkin ada banyak diskusi dan sudut pandang, tentang panjangnya usia karya-karya ini. Tapi mari coba di lihat dari satu aspek saja, yaitu motivasi sang akademisi saat karya itu di tulis. Cerita dan motivasi dari pengantar buku atau kitab, biasanya di tulis pada mukaddimah, sebelum konten utama tulisan.

 

Sebelum itu, mari beralih pada suasana akademis di Indonesia. Bagi dosen atau akademisi, saat ini mereka mendapat tuntutan melakukan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Apa yang mereka kerjakan akan dinilai oleh perguruan tinggi. Bukan hanya berhenti disitu, mereka akan mendapat apresiasi dan reward apabila mampu menghasilkan karya dan penelitian yang dianggap berbobot dan memiliki standar kualifikasi internasioanal tertentu. Sehingga, ada guyonan, mereka akan mendapatkan KUM (angka kredit) dan KAM (bahasa arab berarti 'berapa'), sejumlah apresiasi finansial.

 

Maka, bisa dibilang, apresiasi ini meningkatkan semangat para akademisi untuk mendapatkan dana penelitian, menulis tulisan bereputasi, dan melakukan berbagai upaya akademis (seperti HAKI), yang memiliki nilai KUM dan KAM. Memang dalam beberapa tahun, jumlah publikasi di universitas tertentu naik drastis, rangking universitas juga naik menurut lembaga perangkingan di dalam maupun luar negeri. Namun pertanyaannya, adakah produk akademis tersebut akan bertahan lama? mampu diwariskan dari generasi ke generasi? ataukah hanya memiliki efek sepintas, sebatas habisnya masa KUM dan KAM?

 

Berapa banyak disertasi dan tesis mahasiswa S2 dan S3 teronggok di perpustakaan? Saat seseorang lulus doktor, semua orang mengucapkan selamat, tanpa ingin tahu apa sebenarnya karya dan kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan. Apakah waktu, biaya dan tenaga yang dia habiskan memang sebanding dengan gelar dan kebanggaan yang dia dapat.

 

Menimbang dan membandingkan, mungkin tidak selalu sepadan. Bagaimana bisa membandingkan akademisi dunia dengan akademisi Indonesia saat ini. Tapi paling tidak kita bisa merujuk pada niat dan motivasi. Dibelahan dunia sana dan sini, masa lalu dan sekarang, motivasi dapat dibandingkan, karena ia adalah pendorong dihasilkannya suatu karya.

 

Berkaitan dengan motivasi, maka lihatlah Imam Al-Ghazali pada tulisan pengantar bagian awal kitab Minhajul 'Abidin. " Saya memohon taufiq dan bimbingan kepada Allah swt. agar saya mampu menyusun sebuah kitab yang kiranya dapat diterima oleh banyak orang dan dapat memberi manfaat bagi pembacanya. Alllah mengabulkan permohonanku, seperti terpenuhinya permintaan orang yang dalam kesulitan ketika memohon kepada-Nya. Dia mengajariku rahasia penulisan kitab tersebut serta mengilhamiku susunan penulisan yang sangat menakjubkan."

 

Kemudian, dalam muqaddimah Sullamut Taufiq, Syaikh Nawawi Al-Bantani, ulama nusantara yang bermukim di tanah suci, pengarang puluhan kitab, menyampaikan," Aku memohon kepada Allah swt. semoga kitab ini mendapat ridha-Nya. Ia jadikan sebagai amal sholeh yang dapat meraih pahala yang ada di sisi-Nya dan menjadi sebab untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya serta mendapat tempat di haribaan-Nya kelak." Kitab Sullamut Taufiq merupakan kitab Fiqh dan Akhlaq yang juga banyak di kaji di pesantren hingga saat ini.

 

Para akademisi dan ulama terdahulu dalam menulis suatu karya, tidak memperdulikan KUM dan KAM. Ada tujuan hakiki dari hanya sekedar itu. Imam Az-Zarnuji, penulis kitab Ta'limul Muta'allim, menekankan pada penuntut ilmu akan pentingnya adab sebelum ilmu. Beliau menulis dalam mukaddimah bahwa Kitab Ta'limul Muta'allim ditulis karena gelisah melihat banyak penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh, namun tidak mendapatkan yang diinginkan, atau ilmu tersebut tidak menghasilkan buah. Kemudian beliau menulis kitab tersebut setelah beristikharah, memohon petunjuk kepada Allah. Maka, adakah akademisi kontemporer yang menulis karena kegelisahan serupa? yang kemudian menulis karyanya dengan terlebih dahulu beristikharah? 

 

Setidaknya, motivasi para akademisi, ilmuwan dan ulama terdahulu dapat menjadi cermin, bagaimana kitab dan karya yang dihasilkan merasuk dalam hati zaman. Karya mereka tak lekang oleh waktu, tetap menjadi rujukan hingga sekarang. Mereka sesungguhnya tidak sedang menulis suatu karya, meraka sedang menanam niat dan motivasi, untuk di panen pada hari akhir nanti.