Selamat Datang di Dunia Neurovaskular & Neurointervensi

idik

idik

Monday, 15 August 2022

Ada Saatnya….

Tubuhmu kuat, liat, gesit, teronggok tak berdaya

Sendi layu, tak mampu meyangga tubuh

Mata nanar, kepala melayang

Hidangan, tak mampu lewati kerongkongan

 

Manakah kata hebatmu, kau tampilkan 

Manakah kata pintarmu, kau pamerkan

 

Sehat bukan milikmu

Berdiri tegakpun kau tak mampu,

 

Kala kau lemah,

Dia menyadarkanmu

Nyata,

Dunia seisinya tiada 

 

Sujudmu,

Nikmat-kan syukur

Sadar-kan lemah

Cintakan pada-Nya

 

Tetes bulir airmata sujud

Telah lama berhenti mengalir

Tesumbat keangkuhan nafsu

Nikmati, hikmati….

Syukuri Cinta-Nya tak pernah pergi

 

Banyuwangi, Rumah Ibu, 12 Agustus 2022.

Thursday, 7 April 2022

“Brain Charging,” Metode Baru Terapi Epilepsi dan Stroke

Dokter muda dari Surabaya ini begitu percaya diri dengan temuan barunya. Bagaimana tidak, beberapa pasien epilepsi yang telah ditanganinya, menyatakan bahwa badannya lebih nyaman dan kejangnya mengalami perbaikan. Dia yakin, temuannya ini akan menjadi berita fenomenal, dan pasti akan mendapat respons positif dari rakyat Indonesia. Bangsa ini merindukan inovasi baru dari dokter-dokter cerdas. Temuan itu dia namakan metode “Brain Charging.”

 

“Brain Charging,” merupakan metode terapi dengan menggunakan elektrode yang ditempel di permukaan kepala. Penempatan elektrode tersebut diukur dengan seksama sehingga sesuai dengan lokasi tertentu dan menjangkau area otak yang luas. Elektrode tersebut dihubungkan dengan monitor. Dari monitor tersebut tampak gelombang dari setiap area otak. Supaya hasil lebih optimal, pasien diminta tidur selama prosedur 30 menit ini. Makin dalam tidurnya, maka makin baik efeknya. “Brain Charging” mampu menyerap gelombang otak yang abnormal, dan akhirnya otak hanya akan memelihara gelombang yang normal saja. 

 

Agar metode ini dikenal luas, dia sudah berencana untuk mengaplikasikannya pada public figure yang memiliki pengaruh luas. Kemungkinan, media massa akan meliputnya dengan headline besar. Ternyata, cukup sulit mencari public figure yang mau berterus terang bahwa dia menderita epilepsi. 

 

Setelah melakukan pengkajian ulang, ternyata, temuannya ini dapat diaplikasikan pada pasien stroke. Pasien stroke juga mengalami kelainan pada gelombang otak. Gelombang otak yang abnormal pada pasien stroke akan di serap oleh elektrode dan dialihkan ke monitor. Bukankah banyak public figure, pejabat, pengusaha dan orang-orang berada yang menderita stroke? Atau metode ini bisa juga diaplikasikan pada pasien yang takut dirinya menjadi stroke, metode ini bisa sebagai prevensi stroke, tampaknya akan makin banyak yang berminat jika berhubungan dengan stroke.

 

Dia sangat menyadari, semua temuan dan inovasi baru pasti kontroversial. Apalagi di Indonesia. Apabila ada akademisi yang melawan dengan argumen ilmiah dan mengkritik habis temuan barunya ini, dia sudah siap. Makin kuat penolakan kalangan profesional medis, akan makin deras dukungan untuk penemuan ini, baik dari para khalayak maupun netizen dunia maya. Dia sangat yakin argumen ilmiah yang dibangunnya rasional, memiliki dasar teori kuat dan akan menjadi terapi masa depan.

 

Untuk menguji argumen ilmiahnya, dia berdiskusi dengan seorang neurolog. Dengan membawa data beberapa pasien, dia mempresentasikan temuannya ini. Neurolog ini kemudian menyampaikan bahwa temuannya itu bukan barang baru. Itu adalah prosedur EEG (Electro-Enchephalograpy) yang biasa dipakai untuk merekan gelombang otak, untuk mencari gelombang kejang, hanya untuk diagnostik saja. Bagaimana mungkin bisa menjadi prosedur terapi dan menyembuhkan kejang serta stroke? 

 

Alih-alih menjawab dan menerima argumen neurolog tersebut, dia kemudian memutuskan berdiskusi dengan wartawan senior, dan menyampaikan bahwa temuannya ini baru dan inovasi anak bangsa. Entah mengapa ditentang banyak kalangan medis. Wartawan tersebut memang sangat tertarik dengan hal-hal baru yang fenomenal. Wartawan tersebut terkagum-kagum, kemudian menulis dengan bahasa awam seputar temuan ini. Tulisan wartawan tersebut berdampak luas, metode “Brain Charging” kemudian meledak, mendapat dukungan masyarakat, pejabat, sampai anggota DPR, dan metode ini benar-benar menjadi terapi alternatif untuk stroke dan epilepsi. Metode tersebut booming tepat di tahun 2022 Hijriah. 

Friday, 25 March 2022

Dokter Radikal, Dokter Liberal

Dokter, apabila berpegang secara literal pada teks, tanpa memahami substansi dari teks tersebut akan menyebabkan radikalisme dalam mengambil keputusan dan tatalaksana. Teks tersebut bisa berupa konsensus, guideline ataupun PNPK (Pedoman Nasional Penanganan Kedokteran). Namun sebaliknya, apabila mengabaikan teks dan terlalu fokus pada tujuan dan substansi, menggebu-gebu dalam melakukan tatalaksana, seringkali akan menjadi liberal dalam pengambilan keputusan. Dokter diajarkan selama pendidikan untuk selalu berpegang pada “teks” namun juga harus bijaksana dalam memberikan keputusan terapi dengan mempertimbangkan aspek sosial, budaya, ekonomi dan spiritualitas. Ada kasus yang dapat diputuskan secara hitam-putih, namun ada kasus yang memiliki nuansa luas, sehingga perlu pemikiran substantif, “beyond the guideline.”

 

Contoh radikalisme tekstual adalah kasus pada seorang laki-laki dengan rupture mycotic aneurysm dengan dugaan kuat endocarditis. Pasien memiliki small multiple aneurysma. Setelah embolisasi pada aneurysma yang mengalami rupture, maka pemberian antibiotik untuk aneurisma yang lain tentu sangat diperlukan. Namun, adanya keputusan yang menunda pemberian antibiotik hanya karena menunggu kultur adalah radikalisme. Disamping perjalanan penyakit terus berjalan, seberapa canggih kultur darah di Indonesia mampu mendeteksi kuman pada pasien yang secara klinis baik dan tidak tampak tanda-tanda sepsis?




 

Dokter memiliki tingkat kepakaran yang berbeda-beda. Saat ini ada spesialis, subspesialis (konsultan), masih ada lagi guru dari para subspesialis tersebut, expert of the expert, yang pendapatnya legal dan dalam guideline disebut level C. Nah, aksi dan keputusan klinis di luar payung guideline ini, hanya boleh dilakukan dan dikerjakan oleh mereka yang dalam level tersebut. Maka, bisa dilihat bagaimana kasus dengan prosedur-prosedur tertentu dikerjakan oleh expert, walaupun tidak terdapat dalam guideline, mengunakan tehnik baru, atau menggunakan device yang “off label”. 

 

Suatu device atau tehnik yang baru, belum tentu membahayakan dan tidak bermanfaat. Banyak tehnik dan device yang kemudian terbukti sangat bermanfaat dan kemudian menjadi standar terapi, ditulis tebal dalam guideline. Namun, pemakaian device dan tehnik baru ini tidak boleh dilakukan oleh semua orang. Hanya dokter dengan tingkat expertise tertinggi yang boleh melakukannya. Yaitu dokter yang menggunakan device dan tehnik yang sudah ada, dengan tingkat kesalahan dan komplikasi minimal, bahkan mendekati zero. Karena bagaimana mungkin seseorang yang belum expert dengan device dan tehnik yang sudah ada akan mengaplikasikan device dan tehnik baru? Contoh tehnik baru dalam neurointervensi yang kemudian menjadi standar adalah pressure cooker technique oleh Rene Chapot, untuk embolisasi Brain AVM.  Atau contoh lain adalah penggunaan stent retriever untuk stroke yang sebelumnya hanya dipakai untuk stenting intrakranial.

 

Bukti keberhasilan atas tehnik dan device baru tersebut, kemudian dipublikasikan berupa artikel pada jurnal bereputasi dan dalam pertemuan ilmiah tingkat dunia. Konsep tersebut diuji dan dikritisi oleh para peserta. Tehnik yang “dianggap baru,” dilakukan oleh dokter, hanya disosialisasikan melaui media massa, hanya berupa testimony, tanpa melaui diskusi dalam forum expert dunia, maka tentu hanya akan menjadi klaim ilmiah dan pseudoscience. Dapat diduga, kemudian akan hilang tertiup angin.

 

Pasien adalah individu yang harus dijaga oleh dokter. Kewajiban dokter adalah sejalan dengan kewajiban agama dalam menjaga jiwa (nafs), harta (maal), agama (diin), keturunan/kehormatan (nasl) dan akal (‘aql), atau dikenal dengan maqhashid syari’ah, maksud-maksud substansial dari ajaran agama. Suatu prosedur medis yang memiliki tingkat mortalitas yang tinggi dan angka keberhasilan sangat kecil, misalnya pasien dengan GCS<5, sebaiknya tidak dilakukan (menjaga nafs). Suatu prosedur medis dengan biaya mahal dan belum terbukti bermanfaat sebaiknya tidak dikerjakan (menjaga maal). Seseorang yang berkeyakinan kuat bahwa dirinya tidak mau menerima obat dengan bahan tertentu yang diharamkan dalam agamanya, sebaiknya tidak diberikan (menjaga diin). Seseorang yang menginginkan keturunan dari bank sperma suaminya sendiri yang sudah meninggal, sebaiknya ditolak dan tidak dipenuhi (menjaga nasl). Atau adanya suatu bahan obat yang diminta oleh pasien dan dapat menyebabkan kerusakan fungsi kognitif atau menyebabkan adiksi harus dihindari dan diberikan pengertian (menjaga ‘aql).

 

Seorang dokter, sesungguhnya memahami dan merasakan saat akan memutuskan suatu terapi. Apabila dia ragu-ragu, apakah akan memberikan terapi tertentu atau tidak, umumnya kasus tersebut tidak secara spesifik tertulis di guideline. Untuk keputusan besar (tentu saja tidak pada semua kasus) yang menyangkut kelima aspek tersebut diatas, ada baiknya didiskusikan dengan expert atau dalam suatu forum diskusi pakar. Adanya diskusi pakar menyiratkan bahwa dokter memiliki keterbatasan, dan memerlukan pendapat dokter lain yang sangat mungkin memiliki sudut pandang berbeda. Tatkala ragu-ragu, cobalah kembali pada lima prinsip diatas, adakah menyalahi kelima prinsip tersebut atau tidak. 

Monday, 21 March 2022

Neurointervensionis (Nevi) Koboi

“If you want to find out the true worth of a man, give him a little power.” (Aristotle) 

Dalam suatu diskusi hangat di sebuah pertemuan ilmiah, Prof. Shakir Husain, guru dari para Nevi, menyampaikan bahwa, adanya ledakan jumlah Nevi saat ini, potensial memunculkan Neurointervensionis Koboi. Dalam kamus oxford, coboy di artikan sebagai a person who is reckless or careless, especially when driving an automobile. Dalam arti sederhana, seseorang yang sembrono atau ceroboh dalam berkendara. Dalam konteks prosedur Nevi, koboi adalah operator yang melakukan prosedur secara serampangan dan tidak mengikuti konsensus, guideline atau evidences base. Atau seorang operator yang melakukan prosedur di luar prasayarat kompetensi, melakukan prosedur mandiri dengan tingkat kesulitan tinggi yang belum pernah dilakukannya, hanya observasi atau asistensi selama pendidikan fellowshipnya.

 

Contoh paling sederhana adalah soal pemilihan dan indikasi prosedur. Apabila sudah di kemukakan dalam evidences base bahwa melakukan prosedur intracranial stenting pada lesi dengan kualifikasi Mori C memiliki kemungkinan komplikasi yang tinggi, dan prosedur tersebut tetap “nekad” dilakukan, inilah Koboi. Lebih-lebih yang bersangkutan belum pernah melakukan prosedur stenting intracranial. 

 

Contoh lain adalah pada prosedur coiling aneurysma. Tidak semua prosedur coiling aneurysma sama. Coiling memiliki kesulitan yang bertingkat-tingkat. Tergantung morfologi aneurysma, lokasi, ukuran dan apakah memerlukan assisted stent/balloon atau tidak. Dimulai dari tingkat kesulitan terendah adalah coiling pada aneurysma dengan neck kecil dan akses mudah, seperti aneurisma pada P.com atau Basiler Top. Kemudian meningkat kesulitannya pada aneurysma pada A.com atau MCA dengan neck kecil. Selanjutnya, tingkat kesulitan lebih tinggi pada coiling yang memerlukan device lain seperti stent/balon atau tehnik double microcatheter. Makin banyak device dimasukkan, makin tinggi tingkat kesulitan dan risiko komplikasi. Level kesulitan lebih tinggi lagi pada giant aneurysma yang memerlukan flow diverter, terutama yang berlokasi pada distal vessel, seperti pada cabang MCA atau ACA.

 

Contoh berikutnya prosedur embolisasi Brain AVM. Komplikasi yang ditimbulkan selama prosedur embolisasi kebanyakan akibat kurang pahamnya operator akan angioarsitektur dan penggunaan bahan embolan. Perdarahan durante prosedur dan defisit neurologis akibat iskemia paska prosedur adalah hal yang tidak jarang ditemui. Georges Rodesch, fellow dari Prof. Lasjaunias, interventional neuroradiologist dari Paris, selalu mengingatkan: “Adapt the technique/devices to the disease, not disease to the technique/devices.” Maka, janganlah hanya karena “bahan embolan tertentu” yang secara tidak etis “harus” dipakai operator, lalu segala bentuk Brain AVM di embolisasi dengan bahan tersebut. Selanjutnya, Rodesch mengingatkan bagaimana seorang Nevi bersikap terhadap inovasi device baru, agar melihat Luc Picard," If he was interested in new technological innovations, he used them in a reasoned way so as to adapt them to the disease he had decided to treat, without ever letting himself be overtaken by them."

 

Pesan paling akhir untuk Nevi dari para senior tersebut adalah,”Jangan sekali-kali melakukan prosedur dengan indikasi pertimbangan kapital.” Jangan hanya karena soal jasa yang menguntungkan operator lalu indikasi prosedur dilonggarkan, semua prosedur dilakukan pada pasien dengan pertimbangan menguntungkan operator dan rumah sakit. Maka, jika ini dilakukan, akan menjadi bencana dikemudian hari. Seandainya ada prosedur yang sebenarnya bukan indikasi, kemudian terjadi komplikasi, lalu menjadi masalah hukum yang disidangkan, tentu akan menjadi beban berat bagi yang bersangkutan maupun organisasi profesi. Jika tidak terjadi komplikasi, bahaya ada pada sisi spiritualias, dimana rizki yang didapatkan menjadi tidak berkah, dan tentu ukuran ini adalah ukuran yang sebenarnya jauh lebih penting dan substansial bagi insan beriman. Bukankah “Ad-dun-ya, ra’su kulli khatii’aat?” Cinta dunia merupakan biang setiap kerusakan.

 

Maka, adalah sebaiknya kita mengikuti nasihat dan jalan para senior, guru-guru yang sudah malang melintang di dunia neurointervensi. Menjadi Koboi adalah pilihan individual. Tetapi, membangun neurointervensi dalam koridor keilmuan dan kemanusiaan universal adalah kewajiban semua Nevi.

Wednesday, 2 February 2022

Siapakah Saya ?

Apabila ditanya apa peran penting saya saat ini, agak sulit menjawabnya. Namun, peran saya baru bisa dikenali apabila saya sudah tidak mampu bertugas. Bukankan ada ungkapan yang mengatakan, “menilai seseorang bermanfaat bagi sekitarnya atau tidak, lihatlah saat ia tiada. Jika semua orang mencari dan menyesali kepergiannya, dia adalah orang yang bermanfaat bagi lingkungannya. Jika tidak ada yang meributkan kepergian-nya, maka sesungguhnya dia selama ini ada, namun seolah tiada”

Jika saya meninggalkan tugas saya, maka seorang individu akan mengalami gejala kelumpuhan separo tubuh, gangguan lapang penglihatan, gangguan perasa. Pada beberapa kasus, akan muncul gejala gangguan kognitif, atau gejala “typical pure vascular parkinsonism.” Gejala parkinsonism yang sesungguhnya.

Saat saya tak mampu bertugas, masih ada yang akan berusaha mengambil peran saya, saudara kembar saya, yang berasal dari kamar belakang, menjulurkan tangan, berusaha membantu agar peran saya tidak hilang. Ukuran saya bisa pendek (short and dysplastic) atau panjang (long and hyperplastic).

Apabila bersama saya ada aneurisma, maka aneurisma ini umumnya kecil saja, sering tak tampak pada CT angiografi, namun jika pecah, gambaran perdarahan tampak diffuse pada CT scan. Kalau bersama saya ada AVM, maka lokasi AVM-nya dalam (deep), sulit dijangkau oleh tindakan bedah, dan seringkali berada disekitar ventrikel. Kalau saya bersama tumor, maka tumor itu adalah choroid papilloma, lebih jarang meningioma dan glioma.

Pernah satu ketika saya diabaikan. Pada seorang pasien dengan aneurisma pada P.com (posterior communicating artery). Aneurisma yang cukup besar ini menutupi tubuh saya yang mungil. Saat dokter bedah melakukan clipping pada aneurisma, saya ikut mati terjepit, uh…betapa sakitnya..! Maka, pasien yang mulanya tanpa defisit sebelum operasi, hanya nyeri kepala saja, sontak setelah operasi menjadi hemiplegi, hemianiopsia, dan hipestesia, ditambah gangguan kognitif signifikan.…….

Maka, please…., ingat-ingatlah, “Siapakah Saya…..?”

Monday, 15 November 2021

Nanti Kau Tahu…

Habiskan saja waktu emasmu,

Menukarnya dengan debu

Kilau indahnya berlalu begitu,

Tatap penuh sadar, masih tega kau lewatkan

 

Pelihara saja lalai, 

Besarkan profan menyelisih keabadian

Biarkan diri terseret jauh,

Singkirkan sauh cinta sehati penuh

 

Nanti kau akan tahu….

Nikmat yang kau anggap,

Tergagap nyata hanya sesaat

 

Nanti kau akan tahu….

Penting yang kau kira,

Tanpa makna di hadapan-Nya

Saturday, 6 November 2021

Harga Dokter

Waktu masih pagi, selepas subuh, seorang dokter senior, tampak memasuki ruangan perawatan. Ruangan ini dipenuhi pasien kelas tiga. Tempat kebanyakan rakyat jelata. Didampingi perawat, disapanya pasien, dijabat tangannya dan diperiksa dengan seksama. Pada pasien yang secara klinis berat dan tak punya banyak harapan, disanalah makin banyak waktu beliau habiskan. Tak tampak terburu-buru, tak tampak tergesa-gesa.

 

Para perawat dan dokter muda banyak bertanya-tanya. Bagi dokter senior, terkenal dan kompeten sekaliber beliau, sesungguhnya sudah waktunya membatasi pasien.  Sudah selayaknya hanya merawat pasien kelas utama, paviliun, VVIP atau apalah namanya. Namun, beliau justru merawat pasien dan menerima pasien dengan status “penerima bantuan iuran,” yang seringkali biaya perawatannya melebihi plafon, dan rumah sakit maupun dokter tidak mendapatkan jasa atas perawatannya. 

 

Tampaknya beliau tak peduli. Rumah sakit tempat beliau mengabdi adalah rumah sakit kelas menengah, penerima pasien Jaminan Kesehatan Nasional. Sebagian besar pasien adalah rakyat jelata, para kaum lemah, atau kaum dhu'afa. Maka, tentu saja bagi para pasien tersebut, harapan kesembuhannya hanya Allah dengan wasilah rumah sakit ini. 

 

Wajah-wajah pasien dan keluarganya masih segar dalam ingatan. Wajah-wajah pasrah kaum papa. Wajah yang tidak banyak bertanya, tidak banyak mengeluh dan tak berani komplain dengan berbagai macam pelayanan. Maka, kehadiran dokter dan tegur sapa beberapa waktu, penjelasan secukupnya, sungguh merupakan harapan dan tetes embun yang meneduhkan untuk mereka. 

 

Selepas waktu sholat, di sudut musholla kecil rumah sakit. Seorang dokter muda memberanikan diri bertanya, mengapa beliau begitu sabar dan masih memberikan begitu banyak waktu untuk merawat pasien-pasien bangsal itu. Beliau menghela nafas, dan tampak tak ingin bercerita. Lalu beliau berkata “apa yang saya lakukan bukanlah kebaikan.” 

 

Kemudian beliau melanjutkan, “Saya orang yang awam dalam agama, dalam beribadah belum pernah merasakan nikmatnya sujud, tidak memahami kitab suci agama saya sendiri, jauh dari para ulama.” Bagaimana mungkin saya berharap baik? berharap pahala? Saya merasa tak pantas dan malu akan semua itu.” Satu-satunya harapan, semoga senyum dan rasa bahagia mereka, memperingan langkah saya, yang sudah berat dengan dosa. Adakah senyum mereka, bisa menjadikan sekedar temaram di alam kubur saya yang gelap gulita?”

Monday, 1 November 2021

Karena Klaim Setitik, Rusak DSA Sebelanga



Myths and stories are unique to man and powerful for societies to unite around complex ideas to achieve a greater good. But myths should not be confused with lies, or anti-truths (Matthew J Gounis-Neurointervention: a call to science).


Digital Subtraction Angiography (DSA) merupakan suatu modalitas pencitraan untuk melihat pembuluh darah. Ada modalitas pencitraan lain selain DSA, yaitu CT angiography (CTA) dan MR angiography (MRA). DSA memiliki keunggulan dibanding keduanya, memiliki kemampuan deteksi tinggi untuk kelainan pembuluh darah (mendekati 100% apabila dilakukan dengan kombinasi 3D angiografi) dan merupakan gold standard (baku emas).

 

DSA yang digunakan untuk melihat pembuluh darah otak, jamak dikenal dengan sebutan cerebral DSA. Para dokter di senter-senter neurosains seringkali menyebut modalitas diagnostik ini dengan DSA saja. Prosedur ini umumnya dilakukan dengan anastesi lokal di ruangan kateterisasi. Dokter Neurointervensi akan memasukkan kateter melalui pembuuh darah di pangkal paha/atau lengan, kemudian menaikkan kateter tersebut menuju pembuluh darah yang di tuju. Setelah itu, dilakukan injeksi kontras (yang di campur dengan heparin dan cairan fisiologis Nacl 0.9%). Gambar pembuluh darah bisa dilihat secara selektif dengan menghilangkan (mensubtraksi) gambaran jaringan yang lain (otak, tulang dan jaringan ikat). Apabila ditemukan kelainan, maka akan ditindaklanjuti dengan prosedur intervensi sebenarnya, misalnya trombektomi pada stroke akut, coiling pada aneurisma, embolisasi pada AVM, atau stenting pada penyempitan pembuluh darah.

 

Namun apa mau dikata, cerebral DSA yang merupakan modalitas diagnostik gold standard dan sangat diperlukan, saat ini pengajuan prosedur tersebut banyak dipersulit oleh pihak asuransi. Apabila seorang dokter akan melakukan DSA, beberapa asuransi mempertanyakan dan bahkan menolak. Cerebral DSA yang selama ini memiliki makna standar di seluruh dunia, menjadi menyempit maknanya di Indonesia.

 

Mengapa hal ini terjadi? Kisahnya dimulai mungkin pada 27 Juni 2011, saat majalah Tempo memuat berita tentang “Brain Wash” pada stroke. Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi “Brain Spa” dan DSA trombolitik. Prosedur tersebut sebenarnya adalah cerebral DSA standar, prosedur diagnostik, namun dikemas dengan nama baru agar lebih seksi dan di klaim memiliki nilai terapi atau preventif. Kemudian, isu ini menggelinding sedemikian rupa dan meredup saat ini, karena memang klaim tersebut memiliki dasar ilmiah yang miskin.

 

Sejak saat itu, ketika seorang neurointervensionis merencanakan tindakan cerebral DSA (standar diagnostik), maka pihak asuransi mengkonotasikan dan menganggap bahwa yang dikerjakan adalah bentuk “Brain Wash” atau yang serupa itu. Maka, bisa dibayangkan, urusan birokratis menjadi panjang, dimana dokter harus menjelaskan lagi satu persatu maksud prosedur DSA diagnostik ini pada asuransi. Tentu saja pihak asuransi punya alasan curiga berlebihan, karena mereka hanya mau menerima klaim untuk tindakan yang mengikuti guideline dan konsensus ilmiah yang jelas. Saat ini, menyebut modalitas diagnostik sebagai suatu cerebral/spinal arteriografi lebih di sukai, dibanding menyebut cerebral DSA yang “dicurigai.” 

 

Dalam perjalanan sejarah, makna kata memang bisa meluas, bisa juga menyempit. Namun sejarah terus mencatat, yang memberikan manfaat bagi umat manusia akan dapat bertahan lama dan lebih abadi. Sesuatu yang tampak ramai dan sensasional seringkali hanya fenomena sesaat. Pesta pora media. Bukankah putih melati lebih bermakna abadi dari flamboyan yang merah merona?

Saturday, 16 October 2021

Sleeping by Intention

Usia manusia terbatas. Sedang manusia menggunakan sepertiga usianya untuk tidur. Banyak tidur, mungkin sama buruknya dengan kurang tidur. Kecuali tidur itu akan menghindarkan kita dari perbuatan tercela dan maksiat kepada Allah. Dalam sudut pandang spiritual, tidur memiliki makna penting, karena tujuan tidur adalah untuk bangun kembali, dan saat bangun, tidaklah diniatkan kecuali untuk ibadah. Bisakah tidur bernilai ibadah?

 

Dalam sudut pandang Bidayatul Hidayah, karya Imam Al-Ghazali, tidur perlu dipersiapkan, tidak semata-mata terlelap menutup mata.

 

Tidur malam hari dilakukan selepas melaksanakan sholat isya’. Membaca kitab ilmu pengetahuan adalah anjuran menghabiskan waktu antara sholat isya’ dan waktu tidur. Beliau, memberikan nasihat,” Sibukkanlah dirimu dengan mempelajari kitab. Jangan bermain-main; sehingga kegiatan mempelajari kitab itu menjadi penutup semua kegiatanmu sebelum engkau tidur.”

 

Beginilah cara tidur yang baik menurut Al-Ghazali:

“Bila engkau hendak tidur, hadapkanlah tempat tidurmu ke arah kiblat, dan tidurlah dengan memiringkan badan ke sebelah kanan, sebagaimana letak mayat di liang lahad. Ketahuilah bahwa tidur itu bagaikan mati, sedangkan bangun itu bagaikan bangkit dari mati. Bisa jadi Allah SWT mencabut ruhmu di kala engkau tertidur di malam hari. Oleh karena itu, bersiap-siaplah untuk menemui-Nya. 

 

Bertobatlah sebelum tidur, memohon ampunan kepada Allah dan beniat untuk berbuat kebajikan jika Allah masih membangunkanmu dari tidurmu. Dan ingatlah bahwa seperti itulah engkau akan terbaring di dalam liang lahad seorang diri, hanya amalmulah yang akan menemanimu, dan pahala bagimu hanyalah amalanmu.

 

Berniatlah bangun sebelum fajar, menunaikan dua rakaat sebelum shubuh, ini merupakan kebajikan para sholeh dan ini adalah amalan untuk menghadapi keadaan di kala miskin (hari pengadilan). 

 

Sebelum tidur, berdoalah, diantara doa tersebut berbunyi ”Ya Allah bangunkanlah aku di saat yang paling Engkau senangi, sehingga Dikau dekatkan aku pada Dirimu sendiri, dan jauhkanlah aku sejauh-jauhnya dari murka-Mu.”

 

Kemudian Membaca Ayat Kursi, surat Al-Ikhlas, dan dilanjutkan surat Al Falaq dan An Naas, dengan dua surat ini orang berlindung pada Allah. Kemudian membaca surat yang diawali dengan ayat “ Mahasuci Dia  yang ditangan-Nya berada segala kerajaan.” Tidurlah dalam keadaan bersih karena berwudlu. Imam Al Ghazali menyampaikan, “barangsiapa berlaku begini, maka naiklah jiwanya ke arsy Allah dan dia ditulis sebagai menunaikah shalat hingga dia bangun. 

 

Bagaimanakah sudut pandang neurosains terhadap tata cara tidur menurut Bidayatul Hidayah ini? Demikianlah, cara tidur ini telah diajarkan di pesantren sebagai amalan praktis, dari generasi ke generasi. 

 

Saturday, 9 October 2021

Peringatan Hari Stroke: Menambah Karung Baru?

Tema World Stroke Day (WSD) tahun 2021 ini adalah “Minutes Can Save Lives.” Tema yang sebenarnya sudah jamak diketahui dan berulang-ulang dikampanyekan, semacam “Time is Brain,” atau “Time is Neuron.” Tentu bukan jargon dan kampanye yang salah, tapi lebih pada munculnya pertanyaan besar di kepala, “masih perlukan WSD diperingati?” Sementara dengan banyak dan meriahnya peringatan tahun ke tahun, survey ke survey, angka kematian akibat stroke tetap saja tertinggi di Indonesia, tetap nomor wahid. 

Berapa banyak pasien datang cepat ke rumah sakit, mengejar fase hiperakut, tak mendapat terapi seharusnya, baik trombolisis atau trombektomi. Atau, berapa banyak pasien dengan stroke akut tidak mendapat terapi yang ideal sesuai guideline, konsensus atau PNPK (Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran) Stroke 2019.

Sudah tak terhitung berapa kali acara ilmiah tentang stroke diselenggarakan, berapa banyak program di kampanyekan. Apabila di cetak semua makalah seminar, simposium atau workshop, mungkin sudah berkarung-karung makalah teronggok di sudut ruangan.

Sudah waktunya pemerintah dengan segala otoritasnya, bersama perhimpunan profesi dokter terkait menyelesaikan persoalan secara kongkrit, tidak berhenti pada wacana. Sudah sangat lama problem stroke tercatat sebagai masalah utama kesehatan nasional, namun tak ada perubahan dari waktu ke waktu. 

Dimanakah akar masalahnya? Semua sebenarnya sudah tahu dan jawaban tersebut ada pada makalah yang berkarung-karung di sudut ruangan itu. Akankan peringatan WSD tahun ini akan menambah karung-karung baru? Ah…sudahlah!

Monday, 12 July 2021

Akhir Hari di Bangsal Neurologi

Banyak kali kami temui, pasien sakaratul maut di bangsal neurologi. Inilah tempat pasien tak sadarkan diri, baik karena stroke maupun infeksi. Ada pula pula tumor, trauma, dan ensefalopati.

Kala mulai tak sadarkan diri, kala itu tak ada yang dapat mereka ucap lagi, kecuali yang lama tertanam dalam memori. Saat kesadaran mulai menurun, hilanglah atensi, pudarlah konsentrasi, terucaplah apa yang biasa terucap. Adakah terucap dzikir dan puji, ataukah umpatan caci maki. 

Banyak kami saksikan, saat menurun kesadaran, pasien tak berhenti membaca Al Qur'an. Banyak kami lihat, dalam kondisi amat berat, yang terucap hanyalah sholawat.

Namun, sering pula kami jumpai, dalam gelapnya akhir hayat, tak ada tasbih, tak ada puji, hanya teriakan tiada henti.

Sakaratul maut demikian beratnya. Terkadang hanya terucap kata, tak mampu terucap kalimat. Lidah kelu, otak beku. Tatkala ada bisikan menuntun, menyebut nama Allah, tidak juga dapat terucap asma-Nya, kecuali yang biasa mengucapkannya, tak juga terucap lafadz-Nya, kecuali yang biasa mengingat-Nya.

Ya Allah, Ya Rabbi....Anugerahilah kami, orang tua kami, keluarga kami....akhir hayat husnul khatimah....Aamiin.


Saturday, 3 July 2021

Yang berdaya, hanya Dia

Juli 2021,
Ruang reguler sepi,
Ruang covid mengantri,
IGD sesak pasien infeksi

Tak perduli,
Ulama atau Pendosa
Pejabat atau Jelata rakyat
Dokter atau Penderita
Kaya atau Miskin papa
Sama saja

Jabatan tak berperan,
Ganti menunggu giliran,
Harta tanpa guna,
Gagal tunda nafas sehela

Kala Dia ambil kembali,
Nafas panjang berpamit pergi
Hidup ini yang selama,
Adakah sungguh punya makna ?

Sudut Rumah Sakit Surabaya,
4 Juli 2021


Sunday, 27 June 2021

Menjemput Janji

Kemarin dan Esok apa bedanya ?
Semua akan kembali
Bila ada rizki nafas hari ini
Esok pasti berpamit pergi

Kenapa ada ragu ?
Jangan jemu merangkai kisah
Amal sujud masa usia
Tercatat rapi di alam sana

(Untuk sahabat yang mendahului pergi, 27 Juni 2021)

Thursday, 24 June 2021

PASTI (Prevensi After Stroke dan TIA) AHA/ASA 2021

DR SIAP LAB

 

Diagnostik (cari subtype stroke infark yang mana ?) 

Risiko Vaskuler (utamanya DM, HT, Dyslipidemi, Smoking)

Stenosis- 

Intracranial dan Extracranial (pilih best medical/intervensi)

Atrial Fibrilasi (monitoring irama jantung dan antikoaguan)

Patent Foramen Ovale (pertimbangan oklusi pada pasien yang tepat)

 

Life Style (Low salt, diet, activity)

Antitrombotik (antiplatelet/antikoagulan)

Behaviour (minum obat teratur, olah raga terstruktur)



Guideline ini menunjukkan bahwa tidak semua stroke infark itu sama. Ada subtipe-subtipe stroke yang memerlukan strategi prevensi berbeda. Dalam guideline ini misalnya, sudah muncul rekomendasi untuk Carotid Web dan Dolichoectasia yang sebelumnya tidak pernah dibahas. Jembatan keledai diatas hanya simplifikasi dari guideline yang berlembar-lembar. Selamat membaca naskah aslinya!

 

Thursday, 25 February 2021

Stroke, “Harga Otak,” dan Harapan pada Jajaran Direksi Baru BPJS

Stroke merupakan gangguan pembuluh darah yang mengenai susunan saraf pusat, utamanya otak. Stroke menjadi penyebab kecacatan pertama dan menjadi penyebab kematian kedua di dunia. Stroke di Indonesia masih merupakan penyebab kematian utama penyakit tidak menular, berdasarkan riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan.

Stroke menjadi momok yang menakutkan, karena pasien stroke seringkali mengalami kecacatan seumur hidupnya. Banyak pasien usia produktif tak mampu kembali bekerja seperti semula. Stroke menyebabkan kematian 2 juta sel otak per menit, dan akan menyebabkan penuaan otak dini 3.6 tahun per jam.

Lalu, benarkah pasien stroke tidak dapat diobati? benarkah pasien stroke tidak dapat pulih kembali? Saat ini, penatalaksanaan stroke telah mengalami kemajuan sangat pesat, “Stroke is Treatable,” demikian bunyi kampanye hari stroke sedunia beberapa tahun lalu. Panduan pengobatan stroke, rutin diperbaharuai setiap waktu. Bukti ilmiah menunjukkan hasil meyakinkan dan tak terbantahkan. Namun, sayangnya, panduan pengobatan stroke yang meyakinkan ini, belum diaplikasikan di Indonesia secara komprehensif. Padahal, Indonesia telah memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) stroke yang di tandatangani Menteri Kesehatan pada tahun 2019. Seharusnya, PNPK menjadi acuan utama penatalaksanaan stroke di setiap rumah sakit yang melayani pasien stroke. Faktanya, jauh panggang dari api. Tentu ada banyak faktor mengapa demikian. Namun jika diringkas dengan satu kalimat pendek, biang keladi dari semua itu adalah soal pembiayaan. Pembiayaan yang mana? uraian berikut mungkin akan sedikit menjelasakannya.

Stroke penyumbatan merupakan 85% dari semua jenis stroke. Hanya ada dua terapi yang saat ini terbukti efektif dan direkomendasikan di seluruh dunia. Pemberian peluruh bekuan secara intra vena (trombolisis intravena, selanjutnya disebut TIV) dan prosedur pengeluaran bekuan dengan kateter melalui pembuluh darah arteri besar yang disebut trombektomi mekanis (TM). TIV pemberiannya terbatas waktu, yaitu tidak boleh melebihi 4.5 jam, dan hanya efektif untuk sumbatan pada pembuluh darah kecil. Keberhasilannya meluruhkan bekuan darah tidak lebih dari 30% untuk stroke penyumbatan. Sementara TM, memiliki rentang waktu pemberian lebih lama sampai 24 jam. Tetapi, TM memerlukan peralatan khusus, ahli neurointervensi dan tersedianya ruang kateterisasi. TM telah menjadi standar terapi stroke pada penyumbatan pembuluh darah besar sejak tahun 2015.

Bagi rakyat Indonesia, sebagian besar pembiayaan pasien stroke menggunakan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Sebagian kecil menggunakan asuransi swasta atau biaya pribadi. Sayangnya, paket biaya perawatan stroke masih sangat kurang dibandingkan biaya seharusnya. Pasien stroke akut memerlukan biaya rawat inap, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan imejing berupa CT scan atau MRI, dan memerlukan tim multidisiplin apabila memiliki beberapa penyakit dasar, seperti hipertensi, kelainan jantung atau diabetes mellitus. Belum lagi, apabila stroke tersebut memerlukan tindakan bedah, dimana pasien memerlukan juga perawatan dokter bedah, dokter anastesi dan perawatan di ruangan ICU. Biaya perawatan stroke seringkali melebihi paket, terutama untuk stroke sedang sampai berat.

Dua standar terapi yang di sebutkan diatas, yaitu TIV dan TM, memerlukan biaya besar, dan paket perawatan dipastikan tidak mencukupi untuk keduanya. Maka sebagai konsekuensi, TIV dan TM yang merupakan modalitas terapi utama, sulit dilakukan di rumah sakit dengan pembiayaan BPJS. Hanya pasien dengan asuransi swasta tertentu atau pasien mampu saja yang dapat dikerjakan terapi ini. Adanya PNPK stroke dari Kemenkes tidak serta merta dapat diaplikasikan dilapangan, dan BPJS kesehatan belum menaikkan biaya perawatan stroke meskipun sudah ada PNPK tersebut.

Terapi stroke dengan TIV dan TM akan banyak menyelamatkan jutaan rakyat Indonesia dari kematian dan kecacatan akibat stroke. “Harga Otak” rakyat Indonesia, dalam hal ini berkaitan dengan penyelamatan kematian sel otak akibat stroke, masih tidak memadai. Paket perawatan tak mampu menjangkau biaya, apabila terapi TIV dan TM dikerjakan pada semua kasus stroke akut yang memang diindikasikan. Telah banyak upaya yang tampaknya dilakukan, namun problem pembiayaan belum teratasi. Salah satu jalan keluar untuk permasalahan ini adalah dengan memberikan pembiayaan terpisah (top-up) untuk TIV dan TM, sebagai tambahan dari paket yang sudah ada. 

Timbul pertanyaan, benarkah tindakan TIV dan TM pada stroke itu merugikan dan tidak menghemat biaya? Ternyata tidak. Tindakan TIV dan TM menghemat biaya. Namun, penghematan ini tidak bisa dilihat dalam jangka pendek, yaitu selama perawatan fase akut di rumah sakit. Penghematan biaya akan terlihat signifikan dalam satu tahun pertama, dan tahun-tahun berikutnya. Dalam satu tahun pertama, pasien paska stroke memerlukan biaya pengobatan dan rehabilitasi. Terbukti, pasien stroke yang dilakukan TIV dan TM, menghabiskan biaya yang lebih rendah dalam setahun pertama. Data tentang penghematan biaya jangka panjang ini berasal dari semua negara, mulai Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah dan Asia. Data ini ditulis secara detail pada buku putih Misi Trombektomi 2020+ (MT2020+) yang di prakarsai oleh Society of Vascular and Interventional Neurology (SVIN). MT2020+ merupakan aktivitas nirlaba yang mengkampanyekan penatalaksanaan trombektomi mekanis agar dapat dilakukan secara merata di seluruh dunia.

Apa mau dikata? meskipun PNPK stroke sudah ditandatangani, konsensus nasional dari Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (PERDOSSI) juga sudah tersedia, namun tidak tampak aplikasi di lapangan secara nyata, karena terbentur pada soal pembiayaan. Dokter sesungguhnya mengerti standar terapi ini, khususnya TIV dan TM, namun tak berdaya. Kalau kita sendiri tidak menghargai secara layak “Harga Otak” rakyat Indonesia, lalu siapa lagi? Semoga jajaran direksi baru BPJS periode 2021-2026 dapat memberikan prioritas pada tatalaksana stroke akut, utamanya tindakan pengobatan dengan menggunakan TIV dan TM.

Saturday, 30 January 2021

Hormesis Kultural & Neurointervensi

" Hidup yang terus menerus senang bukanlah hidup yang baik,

kebahagiaan hakiki kadang tumbuh dari lahan ketidaksenangan."



Hormesis merupakan istilah dalam toksikologi, dimana jika suatu bahan toksik yang diberikan dalam dosis kecil akan memberikan efek yang bermanfaat, sedangkan jika diberikan dalam dosis besar akan mengakibatkan kerusakan atau toksisitas.

 

Hormesis banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan adaptasi tubuh. Sesuatu yang jika banyak akan merusak, namun jika ringan (mild stress) akan menguntungkan. Kelaparan memiliki efek merugikan, namun “lapar” dalam kadar tertentu, ternyata memberikan banyak kemanfaatan, misalnya puasa. Kelelahan akan merugikan, namun “lelah” dalam kadar tertentu juga akan memberikan kemanfaatan, misalnya olah raga. Maka kemudian banyak intervensi medis yang memiliki nilai positif berawal dari konsep hormesis ini.

 

Dalam dunia neurointervensi, operator akan terkena radiasi setiap hari. Namun, apabila dalam kadar ringan “konon” memiliki efek positif. Kerusakan akibat radiasi pada sel akan menjadikan sel beradaptasi den melakukan repair DNA. Hipotesa adanya manfaat pada radiasi dosis kecil, didasarkan penelitian pada hewan seperti serangga, mamalia, dan juga tumbuhan. Manfaat sesungguhnya pada manusia mungkin saat ini masih menjadi perdebatan. Pada senter neurointervensi yang baik, setiap paparan radiasi akan direkam dan diukur, agar operator tidak terpapar radiasi melebihi dosis semestinya.

 

Dalam fenomena keseharian, banyak dokter spesialis yang secara status sosial atau ekonomi sudah cukup mapan, seringkali mencari stressor lain. Misalnya dengan mengambil pelatihan yang lama atau sekolah lagi ke jenjang akademis yang lebih tinggi. Selama stressor itu bukan stressor besar, tentu tidak mengakibatkan distress. Stressor tersebut akan memberikan efek yang positif. 

 

Dalam pendidikan, anak diberikan stressor ringan, agar berkembang dan terpacu untuk belajar. “Marah” dalam kadar tertentu mungkin dibutuhkan untuk mereka. Namun, terus menerus memarahi mereka, akan menjadikan mereka kehilangan kepercayaan diri. Memberikan target tertentu, akan mengajarkan mereka belajar mencapai tujuan, namun terlalu banyak target, malah akan membebani dan menghambat proses belajar.

 

Dalam sudut pandang agama, sebenarnya konsep hormesis ini merupakan bagian integral dari ajaran agama itu sendiri. Puasa adalah bentuk hormesis, zakat dan sedekah adalah bentuk hormesis, mengurangi tidur untuk beribadah adalah bentuk hormesis. Konsep hormesis yang dikemukakan Paracelcus (1493-1541), dokter dan bapak toksikologi dari Switzerland, jika ditransformasi menjadi hormesis kultural, sebenarnya telah menjadi bagian integral ajaran agama samawi. 

Saturday, 23 January 2021

Dokter Sukses

Dalam suatu pertemuan, reuni atau acara ilmiah kedokteran, umumnya akan menjadi tempat silaturrahim sekaligus melepas kangen para kolega. Mereka akan saling bertanya, tentang pekerjaan, apa spesialisasinya, apa jabatannya, sampai pertanyaan spesifik tentang keluarga.

 

Kemudian, secara tak sengaja, mereka saling menilai, ada “dokter sukses” dengan perspektif masing-masing. Mungkin dianggap sukses karena memiliki jabatan tinggi, karena pasiennya banyak, karena berprestasi secara akademis, karena menjadi pengusaha kaya, atau sukses karena berhasil menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri . Ada beberapa ukuran sukses yang kemudian muncul dalam benak kebanyakan orang. Secara umum, mereka yang dianggap sukses karena memiliki kelebihan dibanding yang lain, baik secara jabatan struktural, prestasi akademis maupun finansial. Namun, betulkah itu ukuran kesuksesan ?

 

Siapakah manusia sukses ? siapakah sebaik-baik manusia ? jika menggunakan ukuran agama, maka sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Maka bisa jadi seorang dokter umum yang bekerja di perifer adalah dokter sukses, karena dia memberikan banyak manfaat bagi penduduk disekitarnya, dimana disana tidak ada dokter yang berkenan datang, karena jauh dari berbagi macam fasilitas. Bisa jadi seorang dokter sepuh yang tekun mengajar dan membimbing merupakan dokter yang sukses, dibanding dokter muda yang punya banyak sekali publikasi ilmiah namun hanya sibuk menulis dan membesarkan dirinya sendiri. 

 

Maka tanyakanlah pada diri sendiri. Saat menjadi dokter, apakah kita bermanfaat untuk diri kita sendiri, bermanfaat untuk orang lain, atau bermanfaat untuk keduanya ? atau jangan-jangan selama ini, seolah-olah kita bermanfaat untuk orang lain, padahal sebenarnya kita hanya mengambil manfaat dari orang lain.

 

Ukuran seseorang bermanfaat bagi orang lain dapat dinilai tatkala beliau tiada. Beliau dikenang kebaikannya oleh banyak orang. Ada perasaan kehilangan dan pilu bagi yang ditinggalkan. Bukankah sering, kita mendengar wafatnya seorang kolega, namun perasaan kita biasa-biasa saja. Dan di saat kolega lain wafat, ada rasa kehilangan luar biasa, meskipun mungkin secara pribadi kita tidak pernah mengenalnya.

 

Maka, pada akhirnya, apabila kita memang tidak mampu memberikan manfaat pada orang lain, maka, minimal tidak menjadi madharat dan tidak hanya pandai mengambil manfaat dari orang lain. 

Tuesday, 12 January 2021

Neurointervensi dan Dunia Sufi : Meruntuhkan Batu Bata

Di sebuah kampung gersang, seorang pemuda merindukan air. Dia mendapat kabar, bahwa di tepian kampung terdapat tembok tinggi, yang dibaliknya ada air mengalir dalam telaga jernih. Penduduk kampung ini, hanya bisa mendengar gemericik air, namun tak pernah melihat dan merasakan kesegaran airnya. 

 

Suara air yang terdengar, menjadikan sang pemuda ini ingin menghampirinya. Tak seorangpun pernah mencoba mendatanginya. Karena mereka merasa tak akan mampu melewatinya. 

 

Pemuda ini seorang perindu. Meskipun hanya mendengar suara air dari balik tembok, tak menyurutkan niatnya untuk berkunjung setiap hari. Suatu saat, karena kerinduan yang besar, sang pemuda mendekatkan telinganya, makin mendekat, makin keras bunyi aliran air, makin besar keinginannya untuk mencapainya.

 

Sang pemuda tahu, tak mungkin dia meruntuhkan tembok tebal ini. Maka, dia hanya mencoba meruntuhkan satu batu bata tembok yang paling atas. Saat batu bata itu jatuh di balik tembok, jatuh ke dalam telaga, terdengar suara air yang makin nyaring. Pemuda ini makin bersemangat menjatuhkan batu bata berikutnya. Makin banyak batu bata terjatuh, makin keras suara air terdengar, mengobati kerinduannya.

 

Suatu hari, semua batu bata itu akhirnya runtuh. Dengan mata berbinar ia menghambur menuju telaga. Kini, bukan hanya mendengar suaranya, ia meneguk dalam-dalam air telaga itu. Kesegarannya melebihi kesegaran air yang selama ini pernah diminumnya. Kesegaran yang terasa berlipat-lipat.

 

Demikianlah. Neurointervensi adalah kisah sebuah telaga. Telaga yang kala itu hanya terdengar cerita dan suaranya saja. Untuk mencapainya, ada tembok tebal menghalanginya. Namun, dengan kesungguhan dan keinginan kuat, tembok itu sudah dapat diruntuhkan. Kini, semua penduduk kampung dapat menikmatinya.

 

Dalam dunia sufi, indahnya kecintaan pada Tuhan telah disampaikan dalam kitab suci. Para Nabi dan ulama mengajarkannya. Namun, ada banyak manusia masih tidak merasakan indah dan nikmatnya cinta, walaupun mereka telah mendengar gemericik air cinta itu. Mereka enggan meruntuhkan tembok tebal, mereka enggan bersusah payah. Tembok tebal itu adalah gambaran nafsu pada diri manusia. Apabila satu persatu batu nafsu dijatuhkan, satu persatu keinginan duniawi dan profan dirobohkan, niscaya manusia akan dapat menghampiri Tuhan dan merasakan indahnya cinta dan manisnya keimanan. Demikianlah para sufi mengibaratkan.

Thursday, 24 December 2020

Antara Gilimanuk-Ketapang

Tanah cintaku
Selalu saja engkau begitu
Rekahmu tak lepas
Menyambut hadirku

Angin rindu
Lembut berhembus
Membelah dada samudra biru

Kapal ini siap melaju
Tersenyum sambil bercerita
Tentang istirahat panjangnya

Ada getir dalam ungkapnya
Sedih galau tiada terhingga
Tentang sahabatnya
Para buruh pelabuhan,
Pedagang asongan,
Kaum kecil penduduk sekitar

"Biarlah remuk redam, katanya....
"Biar beban kutanggung sendiri,
Asal ada senyum mereka kembali
Yang pudar hilang selama pandemi

Gilimanuk, 24 Des 2020.

Friday, 18 December 2020

Merindu Derik Jangkrik Subuh Hari

Sebelum subuh, Pak Aji Mahmud sudah membangunkan kita, para santrinya. Musholla itu bukan pesantren. Hanya dipakai mengaji oleh anak kampung, setiap setelah magrib. Bagi santri yang rajin dan sering mendapat pujian, mereka biasa menginap di Musholla ini, agar setelah sholat shubuh bisa mengaji lagi. Dari empat puluh atau lima puluh santri, mungkin hanya tersisa empat atau lima santri yang mengaji setelah subuh. 


Pak Aji Mahmud adalah satu-satunya guru yang mendidik sekian banyak santri di kampung itu. Tak kenal lelah, begitu istiqomah, sangat sabar mendidik mereka satu persatu. Mereka datang dengan buta huruf arab, sampai mereka lancar membaca al-Qur’an dan mengahafal bacaan sholat. Kalaupun saat ini, ada santri-santrinya berkelana ke berbagai daerah, menjadi orang penting di tempatnya masing-masing, dan merasa sudah banyak berbuat, rasanya harus berkaca lagi pada keikhlasan dan keistiqomahan Pak Aji Mahmud.

 

Bedug subuh ditabuh bertalu-talu, kita para santri, berebut untuk menabuhnya. Bedug ini begitu tua, tampak robekan kulit pada sisi yang lainnya. Namun, tetap saja ditabuh tanpa ampun, dengan segenap rasa bahagia. 

 

Selepas sholat dan wirid subuh yang agak panjang, kami bergantian mengantri, agar bisa dikoreksi bacaan al-Qur’an oleh Pak Aji. Yang sedang menunggu antrian, tampak komat kamit, meyakinkan lafal bacaan. Kalau sudah merasa yakin benar, akan melirik dan menggoda teman sebelah. Teman sebelah yang tampak kusut. Maklum, baju yang dipakai tidur itu, adalah yang dipakai mengaji. Tak pernah ada satupun yang membawa baju ganti saat bermalam. Orang tua mereka sebagian besar adalah petani dan nelayan.

 

Langit masih gelap, udara masih terasa dingin. Namun, inilah kesempatan bagi kami untuk berlari keluar, segera setelah Pak Aji selesai mengajar. Bukan pulang kerumah, namun menghambur ke area persawahan yang terletak sekitar 300 meter dari Musholla, kearah selatan. Tampak tumpukan kedelai kering yang baru saja di panen. Dan disanalah kami mulai berburu. Memasang telinga, merunduk, dan mencari erik jangkrik. 

 

Mencari jangkrik di subuh hari begitu membekas di hati, hingga saat ini. Kami berjalan mengendap-endap, menuju sumber suara. Sang jangkrik sangat sensitif terhadap langkah manusia. Adakalanya mereka berhenti mengerik, dan kamipun berhenti melangkah. Tak tahu dimana persisnya jangkrik bersembunyi, sampai akhirnya mereka mengerik kembali.

 

Jika kami mampu mendapatkan satu saja jangkrik subuh itu, rasa bahagia sungguh tak terkira. Wajah cerah seolah tak tergantikan oleh apapun. Namun, makin lama kita tak mendapatkannya, makin kecil kesempatan, karena gelap makin pudar, dan jangkrik akan berhenti mengerik saat langit menjadi terang.

 

Tetapi, itu tiga puluh tahun yang lalu. Kini Pak Aji telah wafat. Tak ada lagi sawah dengan tumpukan kedelai kering. Hanya bangunan pabrik tepung dan pengalengan ikan. Tak terlihat lagi santri-santri yang menginap, juga teriakan-teriakan nakal mereka. Semua telah berubah, namun tidak menjadi lebih indah. Kampungku kini menjadi daerah industri. Tampak lebih maju secara fisik, namun, terasa gersang secara spiritual.

 

Kami rindu Pak Aji Mahmud, kami rindu jangkrik mengerik di subuh hari. Terimakasih Paka Aji, telah memberikan kebahagiaan bagi kami, kebahagian yang sungguh tak akan pernah terbeli.