Layaknya sebuah perjalanan, semua perlu persiapan. Merancang tujuan yang hendak dicapai, melukis target yang hendak digapai. Maka, apatah mau dikata, jika sang musafir berbekal badan semata. Bisa jadi dalam kelana, tersesat dalam lebatnya rimba.
Dalam pergimu wahai musafir, langkahmu mengikuti peta, menyusuri sudut-sudut kota, sudut-sudut area tak terduga. Cukupnya bekalmu, ditambah doa dan ilmu, membuat langkahmu derap berpadu.
Namun ingatlah, perjalananmu misteri hidupmu. Tak pernah tahu mesti dan pasti apa bakal kau hadapi. Bisa jadi dia berubah, bisa jadi ia berkilah. Namun, musafir sejati, selalu menikmati setiap sisi indahnya perjalanan. Jalan buntu, cuaca tak menentu, adalah ilmu baru yang layak dihikmati, layak dihayati.
Sang Nevi adalah musafir, tatkala prosedur dikerjakan, sungguh dia sedang bepergian. Rute yang sering dikunjungi akan membuatnya percaya diri, sedang rute baru hendak di tempuh, tentu memerlukan banyaknya peluh.
Layaknya seorang musafir, meskipun telah berbekal, meskipun ilmu beribu jengkal, namun ada sebaik-baik bekal, yanga harus senantiasa dibawa, senantiasa beserta. Taqwa dan do'a. Karena sungguh manusia, tiada pernah tahu takdir akhirnya.
Changi, Singapore, Ahad, 31 Maret 2018.
Mempelajari neurovaskular hanya dari anatomi dan fisiologi saja, seolah melihat pantai hanya dari lukisan dinding yang indah namun tidak bergerak. Mempelajari neurovaskular dengan melakukan dan memahami angiografi serebral, bukan hanya menikmati keindahannya, namun merasakan hembusan angin laut dan deburan ombak pantai yang dinamis sekaligus menggetarkan.
Selamat Datang di Dunia Neurovaskular & Neurointervensi
idik
Saturday, 31 March 2018
Saturday, 17 March 2018
Live Course in Neurology : Cukuplah Dalam Tempurung ?
Sabtu, 13 Januari 2018, di Madrid Spanyol. Hari itu adalah
hari yang ditunggu-tunggu. Pertemuan ilmiah dengan tajuk Neurointerventional Master Course (NeuroIMC) 2018, sebuah pertemuan
ilmiah tahunan dengan outstanding speaker
dari berbagai belahan dunia, berdiskusi tentang stroke, neurovaskuler,
neurosurgical cases, serta neurointervensi.
Pagi itu, mengikuti lecture
demi lecture demikian nikmatnya,
sambil ditemani segelas kopi dan pisang goreng ter-enak. Pisang goreng ini
demikian renyah, se-renyah diskusi yang interaktif di NeuroIMC. Nah, bagaimana
mungkin ada pisang goreng di suatu konferensi di Madrid ? sedangkan pisang
goreng paling enak hanyalah pisang goreng buatan Mbok warung di sebelah rumah ?
Tentu saja, ini bukan di Madrid, menikmati jalannya
konferensi ternyata bisa dari ruang kamar , di depan laptop kesayangan. Dengan membuka live streaming dari
neurosurgical.tv, semua topik dan jalannya diskusi bisa diikuti. Tidak
perlu lagi terbang ke Madrid dengan biaya puluhan juta dengan menghabiskan
waktu beberapa hari, cukuplah berbekal paket internet yang adekuat, semua
materi bisa lengkap didapat.
Konsep Live Course
telah membuat dunia benar terlipat. Kalau sebelumnya hanya sepak bola yang bisa
dilihat secara Live, saat ini banyak
acara ilmiah bisa diikuti secara Live.
Dalam konteks Indonesia, beberapa kali senter-senter pendidikan neurologi
mengadakan webinar symposium, presentasi dan diskusi interaktif dengan pakar luar
negeri, yang bisa dilakukan interaktif dua arah.
Bukan hanya soal lecture,
jika kita menghadiri acara seperti LINNC
(Live Interventional Neuroradiology and Neurosurgery Conference) dari Paris
atau WLNC (World Live Neurovascular
Conference) dari Shanghai, kita akan menyaksikan prosedur operasi secara Live dari satu tempat, sedang operator berada
dibelahan dunia lain. Konferensi yang diadakan di Shanghai misalnya, kita dapat
mengikuti prosedur operasi yang dikerjakan di Turki, Perancis atau Brazil dalam
waktu yang sama, real time. Kualitas
gambar demikian bagus, seolah kita berada disana, berada dibelakang operator.
Diskusi antara operator dengan seribuan orang audien di tempat konferensi bisa terjalin
dengan panduan moderator. Saat itulah, waktu dan tempat tak lagi menjadi penghalang
suatu interaksi ilmiah.
Inilah yang sangat dekat akan terjadi, fakta yang jelas
didepan mata. Kegiatan ilmiah dengan topik yang kurang menarik, dan hanya
berupa kuliah klasikal, dengan topik itu-itu saja, niscaya akan tergerus zaman.
Mengemas acara ilmiah berbasis teknologi dengan mengundang para pakar dari
belahan dunia lain, tanpa mereka hadir secara fisik di tempat acara, tampaknya
tidak terlalu lama akan menjadi sajian rutin kita. Acara ilmiah dengan
iming-iming SKP besar tanpa acara ilmiah berkualitas, tentu akan tetap ada peserta yang
teregistrasi, namun bisa jadi, ruangan seminar akan kosong. Peserta hanya
berhenti pada SKP, mereka lebih nyaman menikmati sajian di luar konferensi, seperti
menikmati city tour. Bagaimana tidak
? semua materi dan konten ilmiah sudah bisa mereka dapat dari dunia maya dan Live Conference dengan kapasitas ilmiah tinggi
dan kualitas yang mungkin tak terbatas.
Akhirnya, dunia yang terlipat telah hadir di depan mata. Untuk menjadi maju dan berilmu, ternyata kita bisa menjadi “Katak Dalam Tempurung” dalam arti tekstual, berdiam di dalam kamar dengan paket internet tak terbatas, namun tentu saja bukan dalam makna substantif. Ternyata, “DuniaTidak Hanya Seluas Daun Kelor.”
Akhirnya, dunia yang terlipat telah hadir di depan mata. Untuk menjadi maju dan berilmu, ternyata kita bisa menjadi “Katak Dalam Tempurung” dalam arti tekstual, berdiam di dalam kamar dengan paket internet tak terbatas, namun tentu saja bukan dalam makna substantif. Ternyata, “Dunia
Sunday, 11 March 2018
Neurologi dan Jempol Kaki
Dulu kawanku bertanya,
Mengapakah sekolah neurologi,
Hanya lihat ujung jempol bergerak saja
Sudah senang setengah mati
Kawan lain juga bertanya,
Tentang kabar bangsal Neurologi
Masihkah banyak terjadi,
Angka kematian paling tinggi
Aku hanya tersenyum kecut,
Diam-diam duduk menyudut
Sambil mengingat nasib mereka,
Yang lumpuh, yang buta, yang kejang, sampai yang koma
Para neurolog terkenal hebat,
Diagnosis topis amatlah tepat
Namun tatkala menulis terapi,
Itu-itu saja obat yang mereka beri
Kawanku..... itu cerita dulu......
Namun bukanlah dongeng di masa lalu,
Wajah-wajah neurologi kini,
Telah berubah cerah berseri
Kuratif Neurologi,
Demikianlah orang menyebut
Banyak obat dan tehnik baru telah tersebut
Menolong ratusan ribu penderita,
Yang lumpuh, yang buta, yang kejang, sampai yang koma
Langkah ini belum terhenti,
Ratusan bahkan ribuat riset terus terjadi
Sungguh banyak rahasia akan terungkap,
Jika Tuhan izinkan tabir tersingkap
Tapi Kawanku.....,
Neurologi bukan lagi soal jempol kaki
Bukan soal kemauan, kerja keras dan berbakti sepenuh hati
Masih banyak ribuan penderita,
Yang lumpuh, yang buta, yang kejang, sampai yang koma
Mereka masih bertebaran di seluruh nusantara
Bukan karena Kita tak tahu cara mengobatinya
Bukan pula karena tak ada obatnya
Tapi soal biaya, soal dana......
Soal paket asuransi,
Yang hanya berhenti di meja diskusi.....
Saturday, 17 February 2018
Wajah (S)Ayu Neurologi Indonesia ?
Hari itu, Rabu, 4 Oktober 2017, ditepian garis pantai yang
penuh pesona, Nice, Perancis. Tampak wajah cerah tiga orang investigator, duduk
menghadap audiens. Hari itu adalah hari terakhir SLICE (Stroke Live Course). Hari itu menjadi semacam “perayaan”, akan
makna sebuah goresan kecil di wajah neurologi. Mereka bertiga berandil dalam
rekonstruksi wajah neurologi. Goresan itu rupanya mampu menutup satu huruf,
dari Neurologi lama yang Sayu menjadi
Neurologi baru yang makin (S)Ayu.
Tiga orang investigator itu adalah R.G. Noguiera, Tudor G. Jovin (DAWN Trial-NEJM Nov 2017) dan G.W Albers (DEFUSE 3 Trial- NEJM Jan 2018).
Yang pertama tentang trombektomi antara 6-24 jam, dan yang kedua trombektomi
6-16 jam pada stroke infark large vessel.
Kedua trial ini dihentikan lebih awal sebelum target subjek penelitian
tercapai, karena efektifitas signifikan pada sisi intervensi. Keduanya
menggunakan advanced imaging untuk
membantu menentukan area penumbra yang masih bisa diselamatkan melebihi 6 jam.
Maka, sudah bisa ditebak, dalam waktu yang tidak terlalu
lama, 24 Januari 2018, Guideline terbaru AHA/ASA dipublikasikan di International Stroke Conference (ISC) di
LA, California. Dan jadilah, guideline ini benar-benar merubah wajah kita, dimana, thrombektomi antara 6-16 jam medapat rekomendasi Class I/Level A, sedangkan antara 6-24 jam dengan rekomendasi Class IIa/Level B-R.
Maka, setidaknya tiga hal utama yang saat ini berubah secara
radikal dalam tatalaksana stroke infark hiperakut, yaitu pertama IV thrombolysis untuk
small vessel sampai 4.5 jam, kedua Thrombectomy untuk large vessel (< 6 jam
dengan time base) dan ketiga Thrombectomy 6-24 jam dengan imaging base. Yang pertama merupakan tanggung jawan
seorang neurologist, sedang yang kedua dan ketiga merupakan tanggung jawab
bersama antara neurologist dan interventional neurologist.
Namun, meskipun wajah neurologi seolah sama, ternyata tetap
tidak serupa. Wajah neurologi di belahan dunia sana (Amerika, Eropa dan
beberapa Negara Asia) memang telah begitu signifikan berubah. Sementara, ada
juga di belahan dunia lain, dimana neurologi masih sering terlalu sibuk
bercermin, masih terlalu sibuk ber-swafoto, sambil sesekali narsis, dan tampak
belum cukup siap memasuki dunia baru yang terbuka di depan mata.
Akhirnya, wajah kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Apakah wajah neurologi Indonesia adalah wajah SAYU, ataukah dengan usaha dan kerja keras, kita tanggalkan satu huruf saja, untuk merubahnya menjadi wajah (S)AYU dan mempesona. Diantara usaha dan langkah kongkrit itu adalah meningkatkan jumlah trombolisis di senter masing-masing dan mendukung munculnya intervensionalis baru dari neurolog-neurolog muda dimana kita bekerja di seluruh nusantara. Bergandeng tangan, saling melengkapi agar terlukis wajah baru Neurologi Indonesia, sebagimana yang kita idamkan bersama.
Akhirnya, wajah kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Apakah wajah neurologi Indonesia adalah wajah SAYU, ataukah dengan usaha dan kerja keras, kita tanggalkan satu huruf saja, untuk merubahnya menjadi wajah (S)AYU dan mempesona. Diantara usaha dan langkah kongkrit itu adalah meningkatkan jumlah trombolisis di senter masing-masing dan mendukung munculnya intervensionalis baru dari neurolog-neurolog muda dimana kita bekerja di seluruh nusantara. Bergandeng tangan, saling melengkapi agar terlukis wajah baru Neurologi Indonesia, sebagimana yang kita idamkan bersama.
Tuesday, 23 January 2018
Tahapan Training Neurointervensi Indonesia
Prosedur neurointervensi dapat berupa prosedur diagnostik
dan intervensi. Prosedur diagnostik secara praktis sering disebut sebagai “cerebral DSA” saja. Untuk melakukan
prosedur intervensi, seorang spesialis memerlukan suatu training yang adekuat.
Training yang direkomendasikan adalah minimal 1 tahun dengan jumlah dan jenis
kasus yang juga adekuat. Tanpa training adekuat, hanya akan menyebabkan
prosedur yang tidak aman dan menimbulkan banyak komplikasi.
Tahapan-tahapan prosedur ini dimulai dari observer, asisten
2, asisten 1 dan operator mandiri dengan supervisi. Dalam tahap-tahap tersebut,
ada kompetensi yang harus dikuasai. Pada tahap observer misalnya, seorang
fellow yang mengikuti training harus mampu membaca cerebral/spinal angiografi
normal dengan segala variasinya, serta mampu mengidentifikasi dan
mendeskripsikan patologi yang ditemukan. Tahap berikutnya harus mengetahui
indikasi dan kontraindikasi prosedur, persiapan pasien, pengenalan alat, tehnik
dan tahapan prosedur, dan akhirnya mampu melakukan prosedur secara mandiri.
Bagian yang juga penting dalam training ini adalah mengenali komplikasi dan
mengatasi komplikasi yang potensial terjadi.
Prinsip prosedur neurointervensi adalah KISS (keep it simple stupid), dimana, semakin cepat prosedur,
semakin simpel dan sedikit device yang kita pakai, maka akan semakin aman
prosedur tersebut. Prosedur yang kompleks memerlukan keahlian dan jam terbang
yang tinggi agar dapat berlangsung dengan aman dan sukses.
Sebagian besar neurointervensionis bekerja dalam cathlab yang
sama dengan sejawat cardiointervensi. Sebagian besar asisten perawat merupakan
perawat yang terlatih untuk prosedur cardiointervensi, namun bukan prosedur neurointervensi.
Mengingat terdapat perbedaan mendasar tentang filosofi, tehnik , dan device
antara cardiointervensi dan neurointervensi, maka diperlukan training khusus juga
untuk perawat neurointervensi. Hal ini penting, karena faktor asisten juga berhubungan
dengan outcome dan kesuksesan
prosedur itu sendiri.
Kedepan, dedicated
neurocathlab sangat diperlukan untuk penatalaksanaan paripurna penyakit
neurovascular dan stroke. Saat ini, beberapa senter di Indonesia telah memiliki
dedicated neurocathlab, dan
diharapakan dalam beberapa tahun lagi model ini akan diadopsi oleh senter-senter
neurologi di seluruh nusantara.
Adanya perkembangan neurointervensi yang sangat signifikan
berpengaruh pada tehnik dan industri device. Namun, filosofi dasar seorang neurointervensionis
tidak boleh ditinggalkan. Keputusan klinis tidak boleh didasarkan pada
ketersediaan device. Keputusan harus tetap didasarkan pada klinis pasien,
semiologi neuroimejing-angioarsitektur, dan natural
history of disease. Evidence terbaru dalam bidang neurointervensi semakin
banyak, hal ini sangat membantu para klinisi untuk mengambil keputusan klinis
yang tepat.
Adanya suatu algoritme bukanlah hal yang rigid. Algoritme akan berubah sejalan dengan munculnya evidence
base terbaru. Prosedur yang tidak berdasarkan evidence base seharusnya dihindari oleh para klinisi. Karena hal
ini akan berdampak pada outcome dan
aspek legal prosedur itu sendiri.
Friday, 1 December 2017
Berangkat dari manakah sang dokter ?
Saat seorang ingin menjadi dokter, tanyalah dia, mengapa ? karena niat dan motivasi dalam hati
akan menentukan bentuk aktivitas dan perilakunya suatu saat nanti.
Tatkala dia sudah menjadi, maka dokter adalah seorang yang
senantiasa membawa neraca timbangan saat berhadapan dengan pasien. Di tengah
kondisi kapitalisasi yang merasuk ke berbagai sektor, maka dokter dapat menjadi
bagian penting dalam berbagai prosesnya. Neraca itu menjadi bagian krusial,
adakah seorang dokter akan adil, sebagaimana seorang hakim dalam memutuskan
perkara.
Di tengah kapitalisasi yang masif, neraca keadilan seorang
dokter diuji. Dokter bisa berperan sebagai pemodal (pengusaha) sekaligus
sebagai pelaksana (buruh intelektual ?). Apabila berada pada posisi pengusaha,
maka obyektivitasnya diuji, antara keuntungan sebesar-besarnya bagi dirinya,
atau kebaikan sebanyak-banyaknya bagi si pasien. Apabila berada pada posisi
pelaksana pelayanan, makan obyektivitasnya juga diuji, setidaknya dalam beberapa
situasi.
Pertama, saat
memutuskan melakukan terapi, apakah dia mampu menanganinya sendiri, harus rawat
bersama atau perlu dirujuk ke sejawat yang lebih kompeten ? ada kalanya sang
dokter takut kehilangan pasien, dia lakukan perawatan dalam kondisi dimana seorang
pasien lebih layak dirujuk ke spesialis yang lebih kompeten. Atau, dalam
kondisi sang dokter tertekan oleh regulasi asuransi, rujukan hanya dilakukan
saat sang pasien sudah dalam kondisi tak tertangani setelah beberapa kali
terapi, dan ternyata tidak membantu pemulihan.
Kedua, saat
melakukan prosedur diagostik. Untuk pilihan modalitas diagnostik yang dipilih,
adakah benar memberikan keuntungan bagi penderita atau keuntungan bagi dirinya
sendiri. Peluang bias akan semakin besar, apabila seorang dokter mampu
melakukan prosedur diagnostik yang mampu memberikan keuntungan bagi dirinya
secara finansial. Misalnya seorang dokter yang dapat melakukan prosedur
angiografi, kecenderungan untuk melakukan tindakan angiografi pada semua kasus
yang datang kepadanya merupakan bias, di saat masih ada pilihan modalitas lain
yang mungkin lebih murah dan non- invasif. Adanya referral fee pada beberapa kasus juga akan menurunkan derajad
obyektivitas seorang dokter dalam mengirimkan pasien untuk prosedur diagnostik.
Ketiga, saat
memilih modalitas terapi. Disinilah tampaknya ujian paling berat itu nyata. Dia
dapat memilihkan terapi yang menguntungkan pasien saja, menguntungkan dokter
saja, atau menguntungkan kedua-duanya. Pertanyaanya, adakah dokter yang
melakukan terapi pada pasien hanya menguntungkan dirinya sendiri dan tidak
menguntungkan pasiennya ? ternyata jawabannya ada !!!. Lihatlah banyaknya
prosedur atau terapi yang sebenarnya tidak memiliki dasar ilmiah dan guideline
yang jelas, namun meski mahal dengan harga puluhan juta tetap diberikan dan
dilakukan pada pasien, dengan dalih “siapa tahu” membaik.
Kebebasan seorang dokter untuk ber”ijtihad” medis terkadangan disalah gunakan. Namun, tepat tidaknya indikasi suatu pengobatan dapat ditimbang dan dibenturkan dengan guideline yang ada. Apabila tidak ada dalam guideline atau bahkan berbenturan dengan guideline, maka keputusan sang dokter perlu ditanyakan dengan tanda tanya besar. Meskipun, tidak selalu yang diluar guideline salah, ada perkecualian pada beberapa kasus dengan kriteria ketat, dan dapat dijelaskan secara akademis/ilmiah.
Maka, pasien sebagai bagian transaksi kesehatan ini, perlu kritis dan setidaknya menanyakan pada dokter dengan pertanyaan yang dengan garis tebal, Apakah prosedur diagnostik/terapi yang dokter lakukan memang sudah sesuai dengan guideline yang ada ? Jika tidak mengapakah prosedur ini harus dilakukan ?
Kebebasan seorang dokter untuk ber”ijtihad” medis terkadangan disalah gunakan. Namun, tepat tidaknya indikasi suatu pengobatan dapat ditimbang dan dibenturkan dengan guideline yang ada. Apabila tidak ada dalam guideline atau bahkan berbenturan dengan guideline, maka keputusan sang dokter perlu ditanyakan dengan tanda tanya besar. Meskipun, tidak selalu yang diluar guideline salah, ada perkecualian pada beberapa kasus dengan kriteria ketat, dan dapat dijelaskan secara akademis/ilmiah.
Maka, pasien sebagai bagian transaksi kesehatan ini, perlu kritis dan setidaknya menanyakan pada dokter dengan pertanyaan yang dengan garis tebal, Apakah prosedur diagnostik/terapi yang dokter lakukan memang sudah sesuai dengan guideline yang ada ? Jika tidak mengapakah prosedur ini harus dilakukan ?
Sunday, 12 November 2017
To Delhi I Come Back
Not sure what wind
Has brought this heart back here
Despite what many have said
What reason do I have coming here again
They might not understand
The meaning of longing to the Guru
A strong figure who has inspired
The painter of a new face of neurology
We breath the air of Delhi
We learn the knowledge again with all our heart
We convey our respectful regards
To the Guru who is full of wisdom
Our Guru is no longer in Delhi
But the beautiful memories still stay strongly
Once upon a time, the road is so empty with no friend around
Now, everyone wants to be here and be friends
We came with two purposes in mind
Seeking new knowledge is surely our aim
However,
Giving our respect for the last time to our Guru in Delhi
Is what's in our heart
WFITN course Functional Neurovascular Anatomy, New Delhi, 1-5th November 2017
Has brought this heart back here
Despite what many have said
What reason do I have coming here again
They might not understand
The meaning of longing to the Guru
A strong figure who has inspired
The painter of a new face of neurology
We breath the air of Delhi
We learn the knowledge again with all our heart
We convey our respectful regards
To the Guru who is full of wisdom
Our Guru is no longer in Delhi
But the beautiful memories still stay strongly
Once upon a time, the road is so empty with no friend around
Now, everyone wants to be here and be friends
We came with two purposes in mind
Seeking new knowledge is surely our aim
However,
Giving our respect for the last time to our Guru in Delhi
Is what's in our heart
WFITN course Functional Neurovascular Anatomy, New Delhi, 1-5th November 2017
Sunday, 22 October 2017
"Maksud Agung" prosedur medis
"Maksud Agung" suatu prosedur medis adalah memberikan tatalaksana optimal demi meringankan beban penderita, berupa kuratif maupun paliatif.
Maka, jika ada suatu prosedur medis, baik diagnostik maupun terapeutik, ternyata malah menambah beban pasien dan keluarga, maka sungguh hal tersebut telah menyalahi " maksud agung' yang sebenarnya.
Dalam setiap prosedur medis hanya ada 3 kemungkinan, menguntungkan pasien saja, menguntungkan dokter saja, atau menguntungkan keduanya.
Maka marilah bertanya lagi pada nurani, prosedur semacam "brain wash" pada stroke, stemcell pada berbagai kasus medis klinis saat ini, atau pengobatan apapun yang dilakukan di luar guideline yang ada, sebenarnya menguntungkan siapa ?
Maka, jika ada suatu prosedur medis, baik diagnostik maupun terapeutik, ternyata malah menambah beban pasien dan keluarga, maka sungguh hal tersebut telah menyalahi " maksud agung' yang sebenarnya.
Dalam setiap prosedur medis hanya ada 3 kemungkinan, menguntungkan pasien saja, menguntungkan dokter saja, atau menguntungkan keduanya.
Maka marilah bertanya lagi pada nurani, prosedur semacam "brain wash" pada stroke, stemcell pada berbagai kasus medis klinis saat ini, atau pengobatan apapun yang dilakukan di luar guideline yang ada, sebenarnya menguntungkan siapa ?
Tuesday, 29 August 2017
Sayonara Neuroprotektan ?
Sayonara merupakan ungkapan dalam bahasa Jepang yang
memiliki arti selamat tinggal. Namun, makna Sayonara ternyata tidak sekedar “selamat
tinggal” saja, karena itu orang Jepang sendiri jarang atau enggan menggunakan
kata Sayonara. Mereka memilih menggunakan kata-kata lain untuk menyampaiakan
salam perpisahan atau selamat tinggal. Makna sebenarnya Sayonara bukanlah
sampai berjumpa pula. Sayonara berarti salam perpisahan selamanya, saat
seseorang mungkin tidak akan bertemu kembali, seperti seseorang yang sakit
berat dan akan meninggalkan keluarganya. Demikianlah menurut beberapa ahli
bahasa.
Ada apa dengan neuroprotektan ? mengapa Sayonara pada
neuroprotektan ? bukankah neuroprotektan merupakan obat yang sehari-hari kita
resepkan pada pasien stroke ? mungkinkah neurolog meninggalkannya ?
Studi-studi tentang neuroprotektan
pada stroke tampaknya telah memasuki babak akhir, setelah studi ICTUS dengan subyek penelitian cukup besar gagal
menunjukkan efektifitas citicolin pada stroke iskemik (The Lancet, Juli 2012),
kini meta analisis terbaru juga mengungkapkan hal yang sama tentang Cerebrolysin
(Stroke, Ziganshina et.al, 2017). Sehingga, Cochrane reviews dan berbagai
guideline terbaru tidak merekomendasikan penggunaan neuroprotektan pada stroke.
Cerebrolysin merupakan suatu mixture of low molecular weight peptides and amino acid yang
berasal dari otak babi, dengan properti yang diduga memiliki potensi neurotropik
dan neuroprotektif. Cerebrolysin telah digunakan secara luas di Rusia, Eropa
Timur, Cina dan sebagian Negara Asia serta Negara-negara bekas Uni Soviet.
Pertanyaanya, setelah adanya Cochrane Review yang menyatakan bahwa neuroprotektan ini tidak bermanfaat, adakah penggunaan obat ini akan tetap berlangsung ? Pertanyaan yang sama untuk kita, neurolog Indonesia, adakah kita akan terus menggunakan neuroprotektan yang tidak direkomendasikan oleh guideline dan tidak memiliki evidence ilmiah yang kuat ? Siapkah kita menyampaikan “ Sayonara Neuroprotektan” ?
Pertanyaanya, setelah adanya Cochrane Review yang menyatakan bahwa neuroprotektan ini tidak bermanfaat, adakah penggunaan obat ini akan tetap berlangsung ? Pertanyaan yang sama untuk kita, neurolog Indonesia, adakah kita akan terus menggunakan neuroprotektan yang tidak direkomendasikan oleh guideline dan tidak memiliki evidence ilmiah yang kuat ? Siapkah kita menyampaikan “ Sayonara Neuroprotektan” ?
Neurointervention on Brain AVM : To be Sniper or Bomber ?
Bagi neurointerventionis, BAVM sangat unik, menarik
sekaligus menantang. Dengan duduk di pojok ruangan, melakukan analisa
angioarsitektur BAVM ternyata cukup membuat kita terlena. Sebelum memulai embolisasi,
rekostruksi dapat memerlukan waktu cukup lama. Mulai dengan identifikasi
lokasi, feeder, draining vein, tipe AVM secara anatomis (sulcal, gyral, mixed),
secara angioarsitektur (plexiform, fistolus, mixed), identifikasi rupture site,
kompartemen dan target embolisasi.
Sehingga, embolisasi AVM hampir selalu didahului DSA
diagnostik secara terpisah. Hal ini berbeda dengan SAH akibat aneurisma
misalnya, dimana dapat dilakukan secara ad
hoc, yaitu DSA dapat disusul dengan coiling dalam waktu bersamaan.
Setelah melakukan rekonstruksi, maka akan diputuskan
tindakan endovaskuler beserta strategi yang akan digunakan. Adakah menggunakan
liquid embolan secara tersendiri atau kombinasi dengan coil pada kasus
fistoulous dan high flow. Liquid
embolan yang saat ini tersedia di Indonesia adalah Glue (NBCA:Lipiodol) dan
Onyx. Kedua liquid embolan ini memiliki karasteristik dan kenyamanan tersendiri
bagi masing-masing operator.
Glue, bagi yang biasa menggunakannya, sangat nyaman, aman
dan tepat sasaran. Namun, bagi yang baru saja mencoba, dapat merupakan bumerang
apabila tidak berhati-hati. Kepekatan, penempatan microcatheter dan kekuatan injeksi merupakan
kunci keberhasilan embolisasi menggunakan glue.
Sehingga, seringkali, intervensionis memerlukan waktu lama untuk mencari
posisi sebelum melakukan injeksi glue secara tepat dan memuaskan. Serupa dengan
SNIPER, sasaran yang ditembak sangat spesifik dengan area kecil (satu atau dua
kompartemen saja) dan jika dimaksudkan untuk mematikan area yang cukup luas, maka
tidaklah cukup hanya sekali bidik. Dalam kondisi demikian, perlu melakukan
beberapa kali tindakan kateterisasi, karena pada penggunaan glue, microchateter
yang dipakai tidak dapat digunakan lagi. Begitu arah aliran glue refluks
mengenai mikrokateter, maka kateter harus segera ditarik keluar, jika tidak,
polimerisasi akan menyebabkan kateter stagnant
dalam pembuluh darah, dan apabila ditarik secara paksa akan menyebabkan
perdarahan.
Onyx, memiliki waktu polimerisasi yang cukup lama. Bahan ini
perlu dipersiapkan dengan shaking
minimal 20 menit. Konsentrasi Onyx tidak dapat diatur, konsentrasi telah
ditetapkan, misalnya Onyx -18. Sebagai pengganti cairan dextrose yang digunakan
untuk flusing pada glue, digunakanlah DMSO, dan ini terdapat satu paket kemasan
bersama onyx. Penggunaan onyx juga memerlukan pengalaman spesifik. Karena onyx
merupakan embolan yang non- adhesive (tapi kohesive), intervensionis punya
banyak waktu untuk melakukan injeksi, kemudian menunggu beberapa saat, dan
kemudian melakukan injeksi lagi. Onyx dapat menutup area nidus yang luas dan
multikompartemental. Karena area jangkaunya luas, maka ada resiko pembuluh
darah kecil yang tak terlihat akan ikut tertutup. Sehingga, meskipun angka
embolisasi kuratif cukup tinggi dengan onyx, namun angka komplikasi yang
terjadi juga lebih tinggi dari glue. Intervensionalis seolah menghancurkan
target dengan bom. Ini juga merupakan alasan substansial mengapa embolisasi
pada kasus spinal AVM hampir tidak pernah menggunakan onyx.
Melihat karakteristik yang demikian, maka, tehnik dan
pilihan bahan embolisasi berpulang pada operator. Apakah operator akan menjadi
sniper atau bomber. Tentu saja onyx dapat digunakan untuk AVM kecil dan cukup
aman, namun harga onyx lebih mahal dari glue. Hal ini seperti membidik sasaran
tunggal yang sebenarnya dapat dilumpuhkan dengan satu tembakan, namun jika menghancurkannya
dengan bom, tentu memiliki resiko dan efek terhadap struktur sekitarnya.
Umumnya masing-masing operator akan cenderung lebih memilih salah satu embolan sebagai kegemarannya. Maka tepatlah ungkapan “There was no dangerous device but there was dangerous operator.”
Wednesday, 23 August 2017
Konsep NNT dan Konsep “siapa tahu ?”
Melihat sang suami menderita stroke, seorang ibu muda tampak bingung. Dia galau akan hiruk-pikuk masukan dan saran tentang bagaimana suaminya seharusnya di terapi. Seorang kerabat menganjurkan agar dilakukan “DSA terapeutik” saja, meskipun tak tahu maksud dan tujuan-nya, konon banyak tokoh negara telah melakukannya. Kerabat yang lain menganjurkan agar dilakukan terapi stemcell, konon banyak yang telah sukses dan sedang menjadi trending treatment. Ada pula yang menawarkan berbagai suplemen dari luar negeri, sekali lagi, dengan janji akan angka perbaikan pasca stroke yang tinggi.
Ibu ini akhirnya datang ke seorang neurolog, dan bertanya “ Apabila beberapa pasien di lakukan terapi di atas, apakah semuanya membaik dokter ? kalaupun tidak semua, berapa orang yang akan membaik dokter ?”
Pertanyaan Ibu muda ini mengingatkan kita akan konsep NNT (number needed to treat). NNT merupakan sarana (epidemiologis) untuk menjelaskan dan mengkomunikasikan tentang efektivitas intervensi medis, khususnya dalam pengobatan. NNT menjelaskan satu pasien diantara beberapa pasien yang memerlukan dan mendapat manfaat terapi dibandingkan dengan kontrol. Aplikasi terkini, misalnya trombektomi pada stroke dalam waktu 6 sampai 24 jam setelah serangan (DAWN Trial). Pada studi ini, NNT pada trombektomi 2.8, artinya jika dilakukan trombektomi pada 2-3 pasien, maka 1 pasien akan mengalami perbaikan.
Nilai NNT mulai dari 1 sampai tak terhingga. NNT ideal adalah 1, dimana setiap orang yang diberikan terapi akan membaik, sedang kontrol tidak membaik. Semakin tinggi NNT, maka semakin tidak efektif terapi tersebut. NNT dengan nilai 1, merupakan terapi sempurna (perfect drug). Sedangkan NNT dengan nilai negatif berarti terapi tersebut berbahaya, disebut sebagai NNH (number needed to harm).
Maka marilah kita lihat efektivitas terapi yang kita berikan pada pasien stroke berdasarkan NNT. Pada stroke iskemik akut, pemberian IV rTPA (0-3 jam) memiliki NNT 9.1, sedangkan perawatan stroke akut di Stroke Unit memiliki NNT 19.3. Obat Acetosal (ASA), yang diberikan dalam waktu 48 jam memiliki NNT 81.1.
Kalau kita lihat terapi pada penyakit neurologi yang lain, bisa kita bandingkan terapi untuk diabetic neuropatic pain, dimana Carbamazepine memiliki NNT 3.0, sedang Gabapentin 3.8, dan Tricyclic antidepressant memiliki NNT 3.0.
Atau marilah kita bandingkan terapi pada Alzeimer’s disease, dimana Donepezil memiliki NNT 8.4, Galantamine dengan NNT 7.4 dan Rivastigmin dengan NNT 14.3.
Alhasil, sang neurolog kebingungan menjawab pertanyaan ibu muda tersebut. Setelah keduanya lama terdiam, ibu muda akhirnya bercerita tentang orang tuanya yang juga menderita stroke, dan sudah dilakukan salah satu terapi di atas, namun tidak juga membaik. Menurut informasi dari dokter yang melakukan terapi, banyak sekali pasien yang membaik pasca terapi. Namun, saat ibu muda bertanya kembali pada sang dokter, “Pak dokter, mengapa orang tua saya tidak membaik ?” Sang dokter menjawab, ini salah satu pilihan terapi saja bu, “siapa tahu” orang tua ibu membaik ???
Maka demikianlah, konsep “siapa tahu” telah menjelma menjadi konsep epidemiologis baru. Jangan-jangan ini merupakan khazanah kekayaan budaya kita, suatu kearifan lokal yang layak dikembangkan ?...
.
Wednesday, 16 August 2017
Entahlah, Apakah Aku Merdeka ?
Entahlah, apakah Aku sekuat Bung Hatta
Yang menolak fasilitas Negara, saat hendak pergi menunaikan Haji
Beliau bilang, itu urusan hamba dengan Tuhannya
Yang menolak dikuburkan di Taman Makan Pahlawan
Karena ingin dekat dengan rakyat-nya
Entahlah, apakah Aku setegar Buya Hamka
Yang meski terpenjara, tetap bersuara dan melahirkan banyak
karya
Jeruji besi, hanya membatasi raga, tidak jiwa dan idealisme-nya
Entahlah, apakah Aku setulus Ki Hajar Dewantara
Yang mencerdaskan anak-anak negeri tanpa henti
Memberikan teladan dan filosofi sepenuh hati
Mereka orang-orang Merdeka…
Bukan hanya pekik membahana dan kepal tangan ke udara
Aku merenungi diriku sendiri,
Adakah Aku Merdeka….?
Sedang nafsu angkara masih sepenuh dada
Adakah Aku Merdeka…?
Sedang gemerlap dunia masih menjadi tujuan utama
Sedang hati masih mendamba puji dan puja
Sedang hati masih mendamba puji dan puja
Aku takut .....,
ternyata aku belum Merdeka….
Aku merenungi diriku sediri, lagi…dan lagi…
Ternyata,
Aku memang belum Merdeka….
Aku masih menjadi hamba nafsu dengan ego persona
Aku masih belajar Merdeka….
Kamis, 17 Agustus 2017
Tahun ke-72 Indonesia Merdeka
Subscribe to:
Posts (Atom)