Selamat Datang di Dunia Neurovaskular & Neurointervensi

idik

idik

Thursday, 9 July 2026

Wajah Negeri, Wajah Neurologi?

Petani menyuapi anak negeri,
Namun tidur dalam cemas, 

Nasi, tak mengeyangkan dirinya sendiri

Nelayan mengarungi lautan lepas,
Rezekinya sempit di daratan luas

Guru tak lagi (bisa) di gugu sepenuhnya

Dokter tak lagi (bisa) dipercaya nasihatnya

Niat suci bergeser, standar moral memudar

 

Integritas tinggal cerita,

Kesetiaan ada pada lagu pujian sahaja

 

Paradoks terbesar, 

mungkin bukan mengapa itu terjadi?

 

Melainkan, 

karena kita perlahan terbiasa,

dan ikut menikmatinya

Sunday, 5 July 2026

Meningioma: Embolisasi Segera Menggantikan Tindakan Bedah?

Syahdan, beberapa tindakan open surgery pada kasus neurologi, telah bergeser menuju prosedur endovaskuler atau neurointervensi. Coiling telah menggantikan clipping pada hampir semua kasus. Carotid stenting telah menggantikan endarterectomy pada banyak kasus stenosis carotis. Embolisasi Middle Meningeal Artery menjadi standar baru pada Chronic Subdural Hematoma (cSDH). 

Pada tumor hipervaskuler (seperti meningioma), embolisasi selama ini menjadi prosedur pre-operatif. Meningioma dilakukan stand alone embolization pada pasien-pasien yang menolak operasi. Namun, publikasi terbaru pada Journal Neurointerventional Surgery-JNIS (Juni 2026) yang memaparkan jumlah kasus cukup banyak (40 kasus), membuat kita cukup optimis, bahwa stand alone embolization akan segera menjadi pilihan terapi pada subtipe meningioma tetentu. 

Artikel ini memberikan bukti, dari 41 meningioma yang diembolisasi, evaluasi MRI pada tumor enhancement volume (ETV) berkurang sebanyak 83.1% (dalam 24-72 jam). Evaluasi pada total tumor volume (TTV) berkurang sebanyak 28,6%  dalam 1 bulan, kemudian 57,1%  dalam 6 bulan, dan 81.7% dalam 1 tahun. Klinis pasien tetap atau membaik pada hampir semua pasien (39 orang). 

Fakta ini menarik dan memberikan harapan besar pada neurologi. Prosedur embolisasi pada meningioma terutama pada konveksitas, bukan prosedur yang kompleks dan prosedur ini non- invasif. Artikel ini mematik harapan, prosedur stand alone embolization pada meningioma, tak lama lagi akan mengikuti trend prosedur lain seperti coiling, stenting carotis dan embolisasi pada cSDH. 

All eyes are on the good news ahead!

Friday, 23 January 2026

Ada Apa di Val d'Isere ?




    Perjalanan yang sangat melelahkan terbayar. Surabaya-Jakarta-Doha-Geneva, menelan hampir 24 jam. Pilot Qatar Airways meminta penumpang bersiap, saat jendela dibuka, tampak landscape bukit-bukit bersalju indah memutih. Rumah-rumah kecil bersembunyi dihamparan-nya. Betapa elok di pandang mata. 

    Landing di Geneva begitu mulus, penumpang bertepuk tangan, apresiasi untuk sang pilot. Ponsel diaktifkan, Dimitry, driver yang akan membawa ke Val d’Isere  mengirim pesan, sepuluh menit lagi dia akam masuk bandara. 

    Belum jeda punggung sekejap, masih hangat rasa kursi pesawat, tanpa ampun, mobil Van hitam meluncur cepat. Dimitry menyampaikan bahwa perjalanan 3 sampai 4 jam. Ini hari Sabtu, 17 Januari, mungkin cukup banyak yang berlibur ke Val d’Isere. Sepanjang jalan, tidak berhenti bibir ini bertasbih, melihat betapa indah negara ini. Ada danau yang berhimpitan dengan bukit bukit batu, sebagian tertutup salju. Rumah-rumah kayu, perahu-perahu kecil, birunya air danau yang terasa dingin, mengingatkan kita akan cerita klasik dari Swiss, tentang Heidi, anak yatim yang di asuh oleh sang kakek di kaki gunung bersalju. 

    Mobil meluncur dan tersendat. Jalah menuju Val d’Isere tak terlalu besar, sulit untuk saling mendahului. Mendekati tujuan, mata benar-benar dimanjakan oleh pemandangan surgawi. Kota ini kecil, namun terasa hidup. Hotel Kandahar, pukul 19.00 sungguh terasa hangat, meskipun suhu di luar minus 4 derajad Celsius. 

    Berkunjung ke Val d'Isere, menghadiri ABC WIN Seminar, 18-23 Januari 2026, pertemuan ilmiah tertua kelas dunia. Sungguh beruntung bisa berada disini. Bersama para guru dan founding father neurointervensi. Satu persatu peserta mulai memasuki kota. Salju menumpuk di sisi kanan dan kiri jalan. Terserak begitu saja di halaman depan kamar. Dari jendela, tampak sepanjang luas mata memandang perbukitan putih menjulang. Hanya pinus dan cemara yang dominan terlihat, menjadikan pohon-pohon perdu lain menjadi minoritas. 

    Meski belum terlalu larut, kaki sudah enggan diajak berkeliling area sekitar. Perjalanan ini terlalu panjang dan melelahkan. Konon kota ini sepi saat summer. Tak ada salju, tak banyak orang yang datang. Tempat ini menjadi tempat olimpiade ski. Tak heran, pada dinding hotel terpampang banyak foto even ski internasional. Di hotel yang keseluruhan dinding dan lantai-nya dari kayu, saat ini tak ada yang lebih indah selain membaringkan badan sejenak, untuk bersiap besok pagi menuju acara.

    Pagi hari, 18 Januari 2026. Semua telah berkumpul di auditorium yang mampu menampung sekitar 500 peserta. Ruangan yang nyaman, ideal untuk kegiatan ilmiah berskala besar. ABC WIN ini konon sudah berbeda sepeninggal Prof. Luc Picard. Awalnya acara ini bebas dari pengaruh industri. 

    ABC WIN di inisiasi beberapa orang saja pada tahun 1980-an. Diantara generasi awal penggagasnya, hanya Jaques Moret yang masih terlihat, yang lain sudah tiada, atau tidak hadir lagi, seperti Alex Barenstein. Mulai terlihat talenta-talenta muda yang cerdas dan tajam. Pengaruh industri dan berkembangnya device yang begitu banyak, tak pelak juga mewarnai presentasi beberapa peserta, meskipun, tidak ada sponsor apapun yang mendisplai produk, sebagaimana seminar atau kongres pada umumnya. 

Tuesday, 20 January 2026

Kita Angka, Kita Citra

Ada angka berjajar-jajar

Capaian pemuja citra

Abaikan dulu hakekat

Tinggalkan dulu substansi

Nyatakan semu-nya....

Fatamorgana 

 

Manjakan saja mata manusia

Puaskan saja ego persona 

Jadilah pahlawan pemuja kata

 

Akreditasi, Portofolio, Sertifikasi

Menghanyutkan hakekat pasti

Menguapkan isi

 

Pikiran filosofis menjelma superfisial

Cita hanya deskripsi grafik belaka

Lenyap yang sesungguhnya abadi

Memanjakan mata 

Yang hanya sebatas indera

Saturday, 10 January 2026

Refractory Headache: Intra Arterial Lidocaine saja?

Seorang wanita, 48 tahun. Terlihat begitu menderita akibat nyeri kepala berulang. Menurut dokter, ini adalah persistent disabling headache. Sudah pernah mendapat banyak terapi oral, injeksi botox dan obat terkait CGRP seperti eptinezumab, namun belum juga membaik. Akhirnya dia mendatangi seorang neurointervensionis, meminta agar membantunya menghilangkan keluhan. Pasien menyampaikan pada dokter, bersedia dilakukan prosedur apapun, asalkan bisa menghilangkan nyeri kepalanya. 

Pagi itu, pasien didorong ke cathlab. Dilakukan angiografi transfemoral (bisa juga dengan transradial), microcatheter dinaikkan menuju middle meningeal artery (MMA). Diposisikan 2 mm melewati ostium MMA (menghindari koneksi dengan internal carotis dan ophthalmic artery). Infus lidokain pada MMA diberikan dengan dosis 50 mg (1mg/1 cc NS) dalam 5-10 menit, setelah selesai prosedur diulangi pada MMA kontralateral. 

Prosedur berlangsung 30 menit. Pasien merasakan nyeri kepala menghilang tepat setelah prosedur. Pasien merasa mendapatkan hidup baru, ini adalah kali pertama, setelah sekian lama merasakan refractory headace yang tak berkesudahan.

Prosedur ini bukan pada satu pasien, tetapi pada 45 pasien. Bukan di Indonesia, tetapi di USA (publikasi JNIS, maret 2025). Sesungguhnya, prosedur ini dilakukan pertama kali sepuluh tahun sebelumnya, oleh seorang Neurologi Intervensi, Dr. Adnan Qureshi, pada 2014. 

Beberapa efek samping yang terjadi pada serial case ini adalah transient numbness dan diplopia, hanya sepintas saja dan membaik sempurna. Efek samping lain adalah terkait prosedur DSA itu sendiri (tidak terkait lidocain), seperti nyeri pada puncture dan satu pasien dengan hematoma subgaleal.

Bagi Nevi, prosedur ini relatif tidak sulit, dan juga murah (dibanding prosedur intervensi lain). Prosedur ini tampaknya berpotensi menjadi standar terapi baru. Kita masih menunggu penelitian yang lebih besar dan bukti ilmiah yang lebih kuat. 

Saturday, 3 January 2026

Sunday, 23 November 2025

Menentukan Brain Death: Cerebral DSA Sebagai Standar Baru?


Di ruang-ruang ICU, saat mesin berbunyi monoton dan waktu seakan berhenti, dokter sering dihadapkan pada satu pertanyaan paling berat dalam dunia medis: apakah otak pasien ini masih bekerja?

Menentukan brain death, atau kematian berdasarkan kriteria neurologis, bukan sekadar pemeriksaan rutin. Itu adalah keputusan besar, menyangkut keluarga, etika, dan masa depan pasien.

Selama ini, pemeriksaan klinis dan beberapa tes penunjang sudah menjadi standar. Namun, semuanya punya keterbatasan. Ada yang tidak cukup sensitif, ada yang sulit dilakukan pada kondisi tertentu, ada pula yang hasilnya bisa membingungkan.

Cerebral DSA adalah gold standard untuk vascular imejing. Namun dalam konteks brain death, fungsinya lebih spesifik: menilai apakah aliran darah ke otak benar-benar sudah berhenti total.

Dalam laporan terbaru dari Society of Vascular and Interventional Neurology (SVIN), para ahli menegaskan bahwa DSA memiliki akurasi yang mendekati 100% dalam memastikan ketiadaan aliran darah tersebut, ini adalah indikator utama brain death . Secara sederhana, apabila DSA menunjukkan tidak ada aliran darah yang mencapai otak, besar kemungkinan bahwa fungsi otak memang telah berhenti sepenuhnya.

Ini berbeda dengan beberapa pemeriksaan lain seperti CTA, MRA, EEG, atau Doppler, yang hasilnya bisa bervariasi tergantung kondisi pasien. DSA lebih “hitam-putih”—ada aliran, atau tidak ada sama sekali.

Teknologi ICU semakin canggih. Pasien yang dulu mungkin tidak bisa dipertahankan hidup kini bisa “disupport” dengan berbagai alat. Akibatnya, menentukan brain death menjadi lebih menantang, karena jantung dan paru masih mungkin tampak bekerja meski otak tidak berfungsi. Dalam situasi seperti itu, dokter dan keluarga butuh kepastian.

Pertanyaannya, apakah sudah saatnya DSA menempati posisi utama dalam evaluasi brain death? Para ahli yang yang tergabung dalam SVIN menyebut DSA sebagai prosedur yang paling akurat, paling tegas, dan paling bisa diandalkan—asal dilakukan dengan standar yang baik.

Pada akhirnya, percakapan tentang brain death bukan sekadar soal medis. Ia menyangkut keluarga, harapan, keputusan, dan martabat umat manusia. 

 

(Referensi: Stroke Vasc Interv Neurol. 2025;6:e002091)

Saturday, 22 November 2025

Babak Baru Prevensi Stroke: Stenting Saja!

Sudah lama menjadi pertanyaan tak terjawab di kalangan Neurologist, pasien dengan severe carotid stenosis (>70%) namun asimptomatik, apa yang sebaiknya dilakukan ? best medical management (BMM) atau intervensi (stenting/endarterectomy)?

Baru saja dipublikasikan CREST-2, di NEJM (21 November 2025), hasil yang mengejutkan sekaligus segera mengubah peta praktik klinis neurologi. Studi ini melibatkan lebih dari 2.400 pasien dari lima negara dan secara khusus menilai mana yang lebih efektif: BMM saja, operasi endarterektomi, atau stenting.

Dalam empat tahun, stroke pada kelompok stenting hanya 2,8%, sedang pada kelompok BMM 6,0%. Ini perbedaan besar, dua kali lipat risiko stroke lebih tinggi, bila tidak dilakukan stenting 

Menariknya, pilihan operasi lama—carotid endarterectomy—tidak menunjukkan keunggulan signifikan dibanding BMM. Dalam studi ini, angka kejadian stroke pada kelompok endarterektomi hanya sedikit lebih rendah, namun secara statistik tidak bermakna (3,7% vs 5,3%) 

Dunia Neurologi memasuki babak baru. Pasien dengan stenosis karotis berat, meskipun tanpa gejala, kini tidak lagi dianggap “baik-baik saja”. Justru kelompok inilah yang paling bisa diuntungkan dari intervensi dini—agar stroke bisa dicegah sejak awal. Bagi rumah sakit, dan senter neurointervensi, studi ini menjadi fondasi baru dalam menyusun panduan praktik klinis prevensi stroke. 

Friday, 21 November 2025

Hari Stroke Yang Tak Kurayakan



Di negeri seberang aku belajar—
setahun penuh, menanam harap, menajamkan tangan, membawa pulang ilmu yang kutimba dari jantung peradaban.

Kupikir, sekembalinya aku, nasib pasien akan berubah, pembuluh darah yang buntu akan kembali mengalir.  
Kupikir aku akan menjadi jawaban atas persoalan,
Ternyata aku hanya pulang pada sunyi.

Cathlab itu berdiri megah di sudut rumah sakit— kilau logamnya masih perak, lampunya masih bening, nyaris tak pernah menyala.
Mesin mahal itu,  bersolek seperti monumen harapan yang nyaris tak pernah disentuh takdir.
Sementara pasien menunggu, dengan mata penuh tanya: “Dok, kapan?” Pertanyaan yang tak sanggup kujawab, karena asuransi negeri tak sanggup membiayai.

Aku satu-satunya yang terlatih di kota ini, namun kedua tanganku seperti diikat janji-janji yang tak ditepati.
Beasiswa yang dulu membuatku terbang, kini terasa seperti sayap patah yang menusuk punggung sendiri.
Apa gunanya kecakapan bila tak berdaya membantu mereka?

Tahun ini, Hari Stroke Sedunia tak kutandai, tak kusambut, tak kusapa.
Merayakannya hanya membuatku menabur garam ke luka yang belum kering.
Setiap mendengar kabar sejawat di kabupaten lain melakukan prosedur demi prosedur, hatiku mengisut, mengecil, seperti daun yang kehilangan musim.

Memberi beasiswa, menyediakan Cathlab tanpa memastikan utilitasnya, adalah menaikkanku ke pucuk pohon tertinggi, hanya untuk kemudian mendorongku jatuh ke tanah paling keras di bawahnya.
Maka jangan sebut stroke akut dan aneurisma, jangan ceritakan keberhasilan prosedur di kota lain, lupakanlah saja.
Itu hanya menoreh luka yang lebih dalam, melingkari batin dengan kawat berduri.

Kini yang runtuh bukan hanya Cathlab itu, bukan hanya besi dan perangkat otomatis itu
Yang runtuh adalah asa, semangat yang dulu menyala seperti obor,
kini hanyut tanpa rasa, tanpa suara.

(World Stroke Day 2025)

Monday, 10 November 2025

Neuron Tanpa Sinaps

Di ruang sunyi antara pikiran dan getar nadi,

berdiri neuron-neuron yang kehilangan genggamannya.

Mereka menyala sendiri, tanpa jembatan, tanpa arus hangat sesama,
membiarkan makna menguap dalam listrik yang dingin.
Ilmu tumbuh, tetapi jiwa layu —
karena nalar tanpa sentuhan hanyalah algoritma yang sopan

 

Kita, para penjaga kesadaran,
menjadi mesin dalam kulit manusia.
Setiap keputusan terukur, setiap emosi teredit,
seakan simpati hanyalah artefak kimia yang usang.
Koneksi yang dulu menghidupkan —
kini diganti protokol, rapat, dan skor kinerja.

 

Neuron tanpa sinaps, begitulah kita berjalan,
berderap dalam sistem yang meniru denyut kehidupan,
namun kehilangan degupnya.
Antara satu kepala dengan kepala lain,
tak lagi mengalir arus empati,
hanya sisa tegangan profesional yang steril

 

Dan di akhir hari,
kita bertanya pada diri sendiri —
adakah makna dalam kesempurnaan tanpa rasa?
Sebab bahkan otak yang paling brilian pun membeku,
jika tiap neuron memilih berdiri sendiri,
dan lupa bahwa berpikir pun membutuhkan cinta.

Friday, 7 November 2025

Sendiri Tanpa Sepi

Sunyi menghantam 

Mencari makna rindu

Lama tak tertumpahkan

 

Hamparkan kain

Hening, senyap, sepi

Lama sungguh, 

Tak beresap rasa

Rasai sujud penuh makna

 

Dekatlah, 

Dekaplah

Hampakan jiwa raga 

Adalah Dia saja 

‘Azza Wa Jalla

Hati luluh menghamba

Sunday, 14 September 2025

Guru Besar yang Ingin Jadi Santri (lagi)


Lelaki setengah baya itu tampak lelah. Badannya bersandar di dinding Taj Mahal. Sejuk dan dingin marmer putih begitu nikmat, sembari memandang sungai Yamuna. Beliau mengeluarkan kitab dari ransel yang dibawanya dari Indonesia, judulnya Hidayatul Adzkiya. Dibukanya perlahan, dihikmatinya dalam-dalam. Ditulis oleh Syekh Zainuddin al-Malibari, ulama India, sebelum 1589 M.

Sebagai Guru Besar Neurologi, beliau memahami bagaimana otak bekerja, mendiagnosa penyakit, sekaligus mengobatinya. India adalah negara kesekian yang menjadi tempat perjalanan intelektualnya. Tak terhitung visiting fellowship dan acara ilmiah internasional didatangi, sebagai partisipan aktif maupun pembicara. Di sela-sela konferensi, disempatkannya mengunjungi tempat bersejarah dan museum, yang dulu kala, waktu di Madrasah, kisahnya hanya terbaca pada buku Sejarah Kebudayaan Islam. 

Ada Red Fort di Delhi, ada Agra Fort sejauh pandangan mata dari Taj Mahal, keduanya istana kerajaan Mughal India. Ada Al-Hambra Granada dan kemegahan Mezquita de Cordoba di Spanyol. Mengunjungi Istana Topkapi dan Hagia Sophia di Istanbul, sambil menghirup spiritualitas kota Rumi di Konya. Jejak-jejak ini, meskipun telah beratus tahun, seolah masih basah, tampak di jalan yang ditapakinya. 

Hidayatul Adzkiya, dikenalnya di pesantren. Sang Guru mengajarkan kitab ini setiap Jumat pagi. Sebuah kitab indah, nasihatnya teruntai lantunan syair, menghujam jauh ke dalam dada. Pada Jum’at hari itu, di negeri sang penulis, dibukanya kitab itu lagi.

Syahdan, awal 1990-an. Subuh masih buta. Di sebuah pesantren, lokasinya jauh dari dari pemukiman penduduk, dikelilingi persawahan luas. Bulan Agustus, kabut turun lebih pekat dari biasanya, rambut memutih jika kita melewatinya. Terdengar langkah lembut, menuju bilik santri. Sebuah tongkat mengetuk halus pintu-pintu kamar. Penghuninya mulai terjaga, meskipun belum menuntaskan tidur pulas nya.  

Beberapa saat kemudian, lantunan dzikir terdengar dari Masjid yang temaram. “Laa ilaha illa-Allah (3x), minallah narjul ghufron.” Lantunan itu meresap, terbenam jauh pada memori jangka panjang di otak. Lantunan ini terkadang serta merta muncul begitu saja saat hati gundah gulana.

Para santri rapi berbaris, sibuk dengan aktivitas dzikirnya. Sang Kiai memasuki mihrab untuk jamaah subuh. Inilah awal hari, hal yang membentuk karakter santri begitu kuat. Kegiatan subuh tidak berakhir kecuali berakhirnya rangkaian dzikir ba’da sholat yang indah dan nadzom asmaul husna. Kegiatan pagi akan selesai setelah mengaji beberapa lembar Kitab Al-Adzkar dan Targhib Wat Tarhib. 

Setelah sekolah formal, selepas Ashar adalah kegiatan sangat di tunggu. Mengasah kalbu dengan kitab terakhir Al Ghazali, Minhajul 'abidin, diniyah petang hari mengaji kitab Nahwu, Shorof, Tarikh dan Tauhid. Akhirnya, waktu malam ditutup dengan siraman embun Tafsir Jalalain. 

Aktivitas istiqamah ini dilakukan selama di pesantren. Sekali lagi, repetisi kegiatan ini membentuk sinap-sinap baru di otak. Tak ada pembentukan karakter se-intens di pesantren. Jangan tak mengikuti sholat jamaah maktubah, kecuali harus membaca surat taubah sembari berdiri di depan masjid.

Konon, rutinitas pesantren ini pudar saat beliau menjadi mahasiswa kedokteran. Makin tergerus saat pendidikan spesialis, terus menipis saat menjadi subspesialis, hampir hilang saat menjadi Guru Besar. Aktivitas sebagai pejabat struktural, menjadi klinisi dan akademisi telah membunuh spiritualitasnya. Makin kebelakang, makin gersang kalbunya. Muncul keangkuhan akademik. Semua fakta ditimbang dengan rasionalitas. Semua aktivitas menggunakan neraca untung rugi. Semakin pintar otaknya, namun makin hampa kalbunya.

Dihikmatinya kitab karya Syeikh Zainuddin Al Malibari dalam-dalam. Sesekali terdegar hembusan nafas panjang, penuh sesal. Beliau rindu hati santri dulu, qalbun saliim, hati bening penuh kekhusyu’an. Bukan hati Guru Besar yang sekarang. 

Kini, tak terbersit keinginan lain, tak ada apapun yang ingin di gapai, kecuali hanya ingin menjadi santri (lagi).

Saturday, 2 August 2025

The March of Neurointervention

First to march uphill to brave the slope

Takes more than will, uniting each strides
A steadfast dream for the motherland
Rise, Neurointervention !

 

Winds may lash and waves may pound
Over and over, testing our way

Yet the youth of land stand ever strong
Unshaken, 
rise, hearts bound to serve

 

Truly witness, not merely believe

Rooted in knowledge, strive for mastery
True grace lies in wholehearted service
To shine as a beacon for the land

Rise, Neurointervention!

Tuesday, 15 July 2025

Acute Stroke: Seribu Terapi dan Seribu Alasan


Dulu, neurolog sangat ingin, ada obat mujarab untuk stroke. Semua di coba, mulai papaverine, piracetam sampai citicoline. Apapun jenis stroke, obatnya sama, neuroprotektan adalah panacea. Saat melihat ujung jempol pasien bergerak, neurolog sungguh bahagia. Peran neurolog kala itu tak dipandang, kecuali dengan sebelah mata. 

Setelah menunggu cukup lama. Tibalah suatu masa, obat trombolitik menjadi standar terapi, Class I Level A. Trombolitik alteplase harus diberikan dalam 4.5 jam. Ternyata, terapi ini hanya diberikan pada <2% pasien stroke. Ada banyak alasan; pasien datang terlambat, obat tidak ada, tim code stroke belum siap, obat tidak ditanggung BPJS (meskipun saat ini sudah dapat di klaim terpisah).

Kemudian, 2015, datanglah standar terapi baru, trombektomi, Class 1 Level A untuk large vessel occlusion (LVO). Berapa persen pasien yang mendapat terapi ini? tentu jauh lebih sedikit lagi. Alasannya; memerlukan tenaga ahli, memerlukan cathlab dan device yang mahal. 

Sebentar lagi, trombolitik generasi baru hadir di Indonesia, Tenectepalse (TNK). Lebih superior dari alteplase dalam segala sisi. Banyak RCT dipublikasikan pada 2025 ini. Penggunaan TNK secara tersendiri sangat efektif, pemberian TNK mendahului trombektomi pada LVO sangat bermanfaat, pemberian TNK intra-arterial pasca trombektomi terbukti membuka sisa oklusi. TNK memungkinkan waktu pemberian dengan jendela waktu lebih lama, bisa sampai 24 jam. TNK mampu lebih banyak membuka LVO dibanding alteplase. Tunggu saja, tampaknya akhir 2026 atau awal 2027 akan masuk ke Indonesia.

Saat semua standar terapi stroke telah tersedia, saat semua bukti sudah tak terbantahkan, masih adakah seribu alasan untuk tidak memberikan-nya?

Indonesia membutuhkan Stroke (Super) Hero. Neurolog yang memiliki komitmen, niat, motivasi dan kesungguhan untuk mengaplikasikan standar terapi ini. Jika ada satu Stroke Hero di satu rumah sakit, kiranya cukup. 

Stroke Hero adalah mereka yang dengan sepenuh hati menginisiasi, menyediakan diri untuk membentuk tim, merelakan waktu luang untuk evaluasi dan monitoring. Bukan hanya beropini, berwacana, mengharap terapi efektif stroke, dan saat standar terapi telah tersedia lantas mengabaikannya, membiarkan standar terapi tergeletak tak berguna.   

Thursday, 5 June 2025

Javel Paris, Bus 30


Taksi meluncur dari Hopital Foch menuju Hotel Mercure di Javel. Sekarang masih tengah hari, jam 16.00. Awal Juni 2025, Ashar di paris pukul 18.05, Magrib pada 21.51. Siang begitu panjang. Tak banyak lagi waktu tersisa. Ini adalah hari terakhir, hari ke-5 mengais hikmah di jantung neurointervensi. 

Hari ini, sehari sebelum Iedul Adha. Tak tampak hewan-hewan qurban di tepi jalan sebagaimana di Tanah Air. Tak terasa denyut nadi dan aroma Padang Arafah. Satu-satunya masjid terdekat hanya buka 15 menit sebelum sholat maktubah. Namanya Mosquee Errahma. 

Apa yang membuncah di nurani saat hari raya? Tentu saja keluarga. Waktu tersisa sangat pendek. Tak ada tempat belanja souvenir di sekitar Mercure. Meskipun Eiffel Tower terlihat, cukup 18 menit berjalan menuju ke sana, namun tak sedekat yang terlihat. 

Seberang jalan, serong ke kiri, ada Bus Station. Bus 30 menuju Pigalle, melewati halte tour Eiffel. Berbekal 2.5 Euro, bayar langsung pada Pak Sopir. Tarif bus naik setelah olimpiade Paris, sebelumnya hanya 2 Euro. 

Tiba di kaki Eiffel, angin kencang, titik-titik air menghempas wajah, tak peduli, pengunjung masih ramai berlalu-lalang. Menyapu pandangan ke sekitar, tak ada souvenir di sekitar Eiffel. Hanya beberapa pemuda berkulit legam menggelar kain, dengan Eiffel kecil. Akhirnya, di tepi sungai Seine yang legendaris ada toko souvenir, di tepi boat yang menawarkan tour melintasi kota. Tampaknya tidak banyak yang ditawarkan. Maka harus kembali ke Bir-Hakeim, halte bis sebelumnya, lebih banyak pilihan di sana. Bus 30, menuju Hopital Europeen G. Pompidou. Dipersilahkan naik tanpa karcis, karena tiket habis dan driver menolak menerima cash. 

Bus 30 tidak sekedar mengantar dari halte ke halte, ia mengantar hati ke tepian rindu. Imajinasi hari raya di tanah air tak terhapuskan. Sejauh apapun kau pergi, pulang adalah tujuan. Sepanjang apapun manusia hidup di dunia, kalau kekasih adalah Dia, hanya ada rasa bahagia kembali kepadaNya.

Paris masih sama dengan yang dulu, 2007 dan 2015. Hati yang tak sama. Setelah sholat subuh, hanya takbir lirih di sudut kamar hotel. Membayangkan Arafah, membayangkan Ibrahim AS yang pergi jauh dari kampung halamannya, untuk kemudian menjadi Bapak para Nabi. 

Takbir lirih saja, berulang-ulang, menjadi palipur lara. Allahu Akbar, Walillahilhamdu ….. (Paris, 10 Dzulhijjah 1446 H).

Saturday, 17 May 2025

Anak Tangga Neurointervensi

Menjadi seseorang neurointervensionis (Nevi) yang matang bukan proses instan. Proses ini memiliki titik awal dan titik puncak. Bagi yang tidak melewati yang awal, tidak akan pernah sampai ke puncak. 

Ada empat anak tangga yang perlu di pijak, agar menjadi Nevi paripurna. Sebut dengan P4. Pendidikan (education), Paparan (exposure), Pengalaman (experience) dan Perenungan (Reflextion). 

Program fellowship yang baik dan terstruktur sudah memberikan dua hal pertama (Pendidikan & Paparan), dan memberikan hal ketiga secara parsial (Pengalaman). Alumni fellow neurointervensi selama minimal setahun hanya mendapat maksimal 50% dari proses. Dalam teori belajar, pendidikan dan paparan hanya berkontribusi 10% dan 20%. Pada saat kembali ke Rumah Sakit masing-masing, kemudian melakukan prosedur, pengalaman akan terus bertambah. Tahap ketiga ini apabila diasah, semakin lama semakin tajam. Tahap ini memerlukan kontinyuitas prosedur, jumlah kasus yang banyak dan beragam. Nevi di tahap ini tak pernah  berhenti menyerap ilmu dan mengaplikasikan tehnik baru.”Memelihara yang lama yang masih baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik.”

Bagian akhir untuk menjadi Nevi paripurna adalah Perenungan (Reflexion). Pada tahap ini, setiap kasus yang dihadapi tidak hanya dilihat secara tekstual tetapi kontekstual. Nevi pada tahap ini melihat bukan hanya pada fakta, namun juga substansi. Bukan hanya menyimpulkan dari sebagian namun menyimpulkan dari banyak sudut pandang. Refleksi terkristalisasi dalam bentuk analisa, tulisan dan publikasi. Bukan publikasi biasa, namun tentang konsep dan gagasan baru. Publikasi dengan novelty yang memberikan makna baru pada keilmuan neurointervensi. 

Pada tahap refleksi seorang Nevi akan memandang bahwa “Satu komplikasi prosedur yang membuat sadar diri jauh lebih bermakna dibanding keberhasilan ratusan prosedur yang membuat tinggi hati." Guru-guru kita yang mulia, legenda neurointervensi dunia, telah berada pada tahap ini.

Thursday, 3 April 2025

Brain AVM: TATAM, TOBAS dan Pertanyaan Tak Terjawab

Bagi pemerhati Brain AVM (BAVM), tidak ada yang lebih ditunggu, selain kesimpulan suatu studi. Namun, sekali lagi, sampai April 2025, tidak ada satu studi pun yang cukup representatif dan meyakinkan, terutama berkaitan dengan embolisasi BAVM. 

TATAM (Transvenous Approach for the Treatment of Cerebral Arteriovenous Malformations), sebuah studi yang membandingkan embolisasi melalui transvenous (TVE) dan transarterial (TAE). Baru saja dipublikasikan di Stroke, 2025. Kesimpulannya, TVE lebih efektif dari TAE dalam hasil evaluasi angiografi 3 sampai 6 bulan. Morbiditas kedua modalitas ini sama-sama tinggi. Kesimpulan yang sungguh menimbulkan tanda tanya besar.
 
Kesimpulan adalah usaha untuk menjawab hipotesis pada studi ini, yaitu bahwa TVE (+/- TAE) akan meningkatkan complete angiographic occlusion rate sebesar 40% sampai 80%. Hipotesis yang disampaikan pada studi ini seharusnya dibuat dengan lebih hati-hati. Karena saat berusaha memaksa untuk mencapai complete occlusion, risiko komplikasi sudah didepan mata.
 
TATAM mensyaratkan operator yang mengikuti penelitian ini adalah operator yang telah melakukan TVE >20 kali, dan jika operator melakukannya < 20 kali, maka akan dilakukan pendampingan untuk 5 kasus pertama. Senter dimana operator bekerja telah melakukan > 100 prosedur terapi intervensi dalam setahun. Tidak ada persyaratan yang menyebutkan berapa banyak BAVM yang telah ditangani oleh operator dan bagaimana hasilnya. BAVM tidaklah sama dengan kelainan neurovaskuler yang lain, ia memerlukan pemahaman detail dan jam terbang prosedur yang tinggi. Apabila operator tidak ahli dalam TAE maka dapat dipastikan akan mengakibatkan banyak komplikasi saat TVE.
 
Berkaitan dengan tingginya morbiditas, bagaimanakah sesungguhnya seleksi pasien dilakukan? TATAM memilih pasien berdasarkan ukuran nidus AVM < 3 cm, prediksi curative embolisasi dapat dikerjakan dengan satu atau dua tahap. Tidak disebutkan tipe AVM secara topografi (sulcal, gyral, mixed type, deep dan sebagainya). Padahal Anton Valavanis sudah menjelaskan bahwa tipe sulcal dan gyral saja memiliki angka complete occlusion yang berbeda (sulcal 60% dan gyral 12.5%). Complete occlusionpada studi ini adalah TVE 83% dan TAE 59%, namun dengan angka komplikasi serius sebesar 34% vs 41%. Definisi komplikasi serius pada studi ini adalah prolonged hospitalizationrequired hospitalization, or any life-threatening event berkaitan dengan AVM atau AVM treatment. Angka kematian 3%  (1/35) pada TVE vs 9% (3/34) pasien pada TAE. Maka, bandingkanlah dengan laporan dari Zurich yang semua adalah TAE pada 644 pasien. Angka mortalitas dan morbiditas masing-masing 1.3% (Valavanis A et.al, 2004). 
 
Studi TOBAS (The Treatment of Brain AVMs Study, 2023), dapat menjadi pembanding yang lain. TOBAS menggunakan TAE, namun juga memiliki komplikasi serius sebesar 26%, dan sebagian besar adalah akibat perdarahan. TATAM dan TOBAS menggunakan EVOH hampir pada sebagian besar prosedurnya, sedangkan Valavanis menggunakan Glue. 
 
Dengan demikian, tampaknya, BAVM bukan merupakan penyakit neurovaskuler yang mudah untuk dijadikan subyek studi. Tipe, lokasi, angioasitektur BAVM memerlukan pemahaman detail dan persiapan preprosedur yang optimal. Terapi BAVM memerlukan kepakaran.  Studi yang dilakukan oleh satu senter seperti Zurich, tampaknya sulit di duplikasi oleh senter lain. Studi multisenter memerlukan protocol, tehnik dan kualitas operator yang sebanding. Tidak sekedar menutup nidus, karena akhirnya menyebabkan  komplikasi. Studi yang tidak didesain dengan baik, akan merusak konsep embolisasi BAVM. Terapi BAVM dengan filosofi Zurich oleh Valavanis terlihat lebih efektif  dengan komplikasi minimal dabanding TOBAS dan TATAM. Bagaimanan menurut anda?

Tuesday, 11 February 2025

Stroke Medium Vessel Occlusion: Tentang Batas, Sudahkah Tegas?

Dua terapi stroke hiperakut, trombolisis (IVT) dan trombektomi (EVT), bagai peluru yang meluncur tak terbendung. Makin kebelakang, keduanya memiliki efektivitas yang makin tak terbantahkan.  IVT untuk oklusi pembuluh darah kecil, dan IVT plus EVT untuk pembuluh darah besar.

 

EVT yang pada 2015 direkomendasikan untuk <6 jam, kemudian berlari jauh sampai <24 jam. EVT yang semula tidak pada semua volume infark, pada 2023 menunjukkan manfaat bahkan pada Large Infarct Core (ASPECT >2 dan <6). Studi dan bukti seolah tak berhenti. Banyak laporan kasus tentang manfaat EVT pada Medium Vessel Occlusion (MeVO), maka seolah-olah MeVO merupakan kandidat EVT berikutnya. Dalam ketiadaan studi yang meyakinkan, sebagian merekomendasikan EVT dilakukan pada MeVO yang terjadi pada hemisfer dominan, karena disabilitas yang signifikan.

 

Masih panas, pada 5 Februari 2025, dua studi dipublikasikan di NEJM, yaitu DISTAL dan ESCAPE-MeVO. Kedua studi ini menunjukkan bahwa trombektomi pada MeVO ternyata tidak lebih efektif lebih dibanding medical management. Lebih dari itu, angka kematian pada trombektomi pada MeVO tenyata lebih besar (pada ESCAPE-MeVO; 13.3% vs 8.4%; hazard ratio 1.82). Hasil studi yang mengejutkan bagi Neurointervensionis.

 

Apakah ini berarti tidak ada tempat lagi untuk tindakan EVT pada MeVO? Apakah batasan terapi sudah tegas? 

 

Berkaca pada fenomena sebelumnya, studi EVT pada LVO mulanya menunjukkan hasil negatif. Kemudian, dengan analisa kritis, dengan indikasi yang lebih tajam, terbukti EVT sangat efektif dan menjadi pilihan utama pada LVO. Masih ingatkan studi SAMMPRISS? Pada studi ini, stenting intracranial menunjukkan outcome yang lebih buruk dibanding best medical management. Lalu, beberapa studi berikutnya (dengan indikasi, tehnik dan device yang lebih baik) menunjukkan hasil yang berbanding terbalik dengan SAMMPRIS.

 

Tampaknya, DISTAL dan ESCAPE-MeVO merupakan awal perjalanan. Sudah ada analisa kritis pada kedua studi ini, satu diantaranya tentang usia rata-rata pada EVT (usia 77 tahun pada DISTAL dan 75 tahun pada ESCAPE MeVO), usia yang dianggap terlalu tua. 

 

Akhirnya, batas itu sudah ada, namun belum sepenuhnya tegas. Kita tunggu studi berikutnya, apakah garis batas makin tebal atau justru terhapus oleh bukti yang lebih meyakinkan.

Friday, 7 February 2025

Stroke: Menghitung Otak



                                (Time is Brain—Quantified. Stroke. 2006;37:263-266) 

Monday, 3 February 2025

Sepur dan Kita


Apa beda Sepur Hanoi dan Surabaya
Gerbong kusam, sama saja
Di Hanoi di tunggu
Di Surabaya abaikan saja

Kita, biasa bagi mereka
Spesial bagi keluarga

Sejauh tinggi pergi
Ada mereka
Menunggu kita kembali

Hanoi, 3 Februari 2025